DAYA KASIH KRISTUS KOMUNIKASI
YANG MENYEMBUHKAN
DAN
DETEKSI DINI PENDARAHAN HAMIL MUDA DAN
PENDARAHAN ANTEPARTUM DALAM KEHAMILAN
DAYA KASIH KRISTUS
KOMUNIKASI YANG MENYEMBUHKAN
A. PENGERTIAN
AKTIVITAS KASIH KRISTUS DAN LATIHAN
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak
cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang
tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan
tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1 Korintus 13:4-5) )Sebenarnya kalau
berbicara tentang kasih, ga hanya ada di ayat itu tapi kamu akan banyak
menemukan juga di ayat dan kitab lainnya.
B. KOMUNIKASI
EFEKTIF
Langkah
– langkah membangun komunikasi yang efektif
a. Bertanya
Bertanya
merupakan teknik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaandan
pikirannya.
b. Mendengarkan
Mendengarkan
merupakan dasar utama dalam komunikasi hal ini disebabkan dengan mendengarkan
kita dapat mengolah secara konprehensif semua stimuli dan pesan yang kita
terima, sampai kita dapat memahami dan mengingat dengan cermat pada gilirannya
akan menjadi bekal penting untuk melakukan proses komunikasi yang efektif.
c. Mengulang
Maksud
mengulang yaitu mengulang kembali pikiran utama yang telah
diekspresikan
oleh klien.
d. Klarifikasi
Klarifikasi
adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta
klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya.
e. Refleksi
Refleksi
adalah mengarahkan kembali ide, perasaan, pertanyaan dan isi pembicaraan pada
klien.
f. Memfokuskan
Langkah
memfokuskan bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah
inti dan mengarahkan komunikasi klien pada mencapaian tujuan, dengan demikian
akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah.
g. Diam (memelihara ketenangan)
Langkah
diam digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab
pertanyaan bidan.
h. Memberi informasi
Memberi
informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien. Agar informasi
dapat diterima dengan baik, perlu kecakapan yang mesti diperhatikan :Gunakan
bahasa yang mudah dimengerti.
Jangan
menggunakan istilah yang tidak dimengerti.
Tidak
perlu tergesa-gesa atau berambisi dalam menyampaikan informasi.
Hindari
kata-kata yang sifatnya mengancam
Ulangi
informasi yang penting.
Gunakan
empati yaitu dapat merasakan apa yang dapat dirasakan
i.
Menyimpulkan
Menyimpulkan
adalah teknik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari
interaksi bidan – klien.
DETEKSI DINI PENDARAHAN
HAMIL MUDA
Kondisi yang dapat
menimbulkan tanda bahaya adalah perdarahan, yang dapat dimungkinkan karena
terjadi abortus, dan kehamilan ektopik terganggu (KET) ataupun
molahydatidosa.Namun demikian ketiganya ini mempunyai tanda dan gejala yang
spesifik dan dapat dilihat dalam uraian dibawah ini.
A.
Abortus
1.
Pengertian
abortus
·
Abortus
adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar
kandungan. WHO IMPAC menetapkan batas usia kehamilan kurang dari 22 minggu
namun beberapa acuan terbaru menetapkan batas usia kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
·
Abortus
adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar
kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat
janin dari 500 gram.
·
Abortus
adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibatakibat tertentu) pada atau
sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu
untuk hidup di luar kandungan (Saifuddin, 2008).
·
Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi
sebelum mampu hidup diluar kandungan dengan berat kurang dari 1000 gram atau
usia kehamilan kurang dari 28 minggu
2.
Etiologi
abortus
Penyebab abortus (early
pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan.Umumnya lebih dari satu
penyebab. Penyebab terbanyak di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Kelainan
pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi yang dapat mengakibatkan kematian
dan atau dilahirkannya hasil konsepsi dalam keadaan cacat. Faktor-faktor yang
dapat menyebabkan kelainan hasil konsepsi adalah:
·
Kelainan
kromosom
·
Lingkungan
kurang sempurna
·
Pengaruh
dari luar
b. Kelainan pada plasenta
Keadaan ini biasa
terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.Infeksi pada
plasenta dengan berbagai sebab, sehingga palsenta tidak dapat
berfungsi.Gangguan pembuluh darah plasenta, diantaranya pada diabetes melitus.
Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah palsenta sehingga menimbulkan
keguguran
c. Faktor
maternal
Penyakit-penyakit maternal dan
penggunaan obat: penyakit menyangkut infeksi virus akut, panas tinggi dan
inokulasi, misalnya pada vaksinasi terhadap penyakit cacar nefritis kronis dan
gagal jantung dapat mengakibatkan anoksia janin.
Kesalahan pada metabolisme asam folat yang diperlukan untuk perkembangan janin akan mengakibatkan kematian janin.Penyakit infeksi dapat menyebabkan abortus yaitu pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria, dan lainnya.Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, kemudian terjadi abortus.Kelainan endokrin misalnya diabetes mellitus, berkaitan dengan derajat kontrol metabolik pada trimester pertama.selain itu juga hipotiroidism dapat meningkatkan resiko terjadinya abortus, dimana autoantibodi tiroid menyebabkan peningkatan insidensi abortus walaupun tidak terjadi hipotiroidism yang nyata.
a. Kelainan traktus genetalia
Abnoramalitas uterus yang mengakibatkan kalinan kavum uteri atau
halangan terhadap pertumbuhan dan pembesaran uterus, misalnya fibroid,
malformasi kongenital, prolapsus atau retroversio uteri.Kerusakan pada servik
akibat robekan yang dalam pada saat melahirkan atau akibat tindakan pembedahan
(dilatasi, amputasi).
b. Trauma
Tapi biasanya jika
terjadi langsung pada kavum uteri. Hubungan seksual khususnya kalau terjadi
orgasmedapat menyebabkan abortus pada
wanita dengan riwayat keguguran yang berkali-kali
c. Faktor
– faktor hormonal
Misalnya penurunan
sekresi progesteron diperkirakan sebagai penyebab terjadinya abortus pada usia
kehamilan 10 sampai 12 minggu, yaitu saat plasenta mengambil alih funngsi
korpus luteum dalam produksi hormon.
1.
Patofisiologi
abortus
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus
desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya.Pada
kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta
tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan
lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil
konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil
yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup,
mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.
2.
Tanda
dan gejala abortus
a.
Abortus
iminen
·
Perdarahan
flek-flek (bisa sampai beberapa hari)
·
Rasa
sakit seperti saat menstruasi bisa ada atau tidak
·
Serviks
dan OUE masih tertutup
·
PP test
(+)
b.
Abortus
insipien
·
Perdarahan banyak, kadang-kadang keluar
gumpalan darah
·
Nyeri hebat disertai kontraksi rahim
·
Serviks atau OUE terbuka dan/atau
ketuban telah pecah
·
Ketuban dapat teraba karena adanya
dilatasi serviks
·
PP test dapat positif atau negative
c.
Abortus
inkomplit
·
Abortus
ini dapat ditandai dengan sakit perut,
·
Terasa
mules,
·
Perdarahan
yang bisa keluar sedikit maupun banyak dan bisa berupa stolsel,
·
Keluar
fetus atau jaringan,
·
Serviks
terbuka.
d.
Abortus
komplit
·
Perdarahan
yang sedikit
·
Ostium
uteri telah menutup
·
Uterus
telah mengecil
e.
Missed
abortion
·
Gejala
subyektif kehamilan menghilang
·
Mammae
agak mengendor lagi
·
Uterus
tidak membesar lagi bahkan mengecil
·
Tes
kehamilan menjadi negatif, serta denyut jantung janin menghilang
·
Dengan
ultrasonografi (USG) dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan
besarnya sesuai dengan usia kehamilan
·
Perlu
diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai gangguan pembekuan
darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemerikaan kearah ini perlu dilakukan
f.
Abortus
habitualis
·
Kehamilan
triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa disertai mulas
·
Ketuban
menonjol dan pada suatu saat pecah
·
Timbul
mulas yang selanjutnya diikuti dengan melakukan pemeriksaan vaginal tiap minggu
·
Penderita
sering mengeluh bahwa ia telah mengeluarkan banyak lender dari vagina
·
Diluar
kehamilan penentuan serviks inkompeten dilakukan dengan histerosalfingografi
yaitu ostium internum uteri melebar lebih dari 8 mm
3.
Komplikasi
abortus
a.
Pendarahan
Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah.
b.
Perforasi
Perforasi uterus pada saat curretage dapat terjadi terutama pada uterus
dalam posisi hiperretrofleksi.Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan
oleh orang biasa menimbulkan persoalan gawat karena perlakuan uterus biasanya
luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus.
c.
Infeksi
Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus
tetapi biasanya didapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan
suatu abortus yang tidak aman (Unsafe Abortion)
d.
Syok
pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi
berat (syok endoseptik).
A.
KEHAMILAN
EKTOPIK TERGANGGU ( KET )
1.
Pengertian
Ket
Kehamilan ektopik yaitu kehamilan dimana tempat implantasi blastosit di
area manapun selain endometrium.
2.
Etiologi
Ket
a.
Faktor
uterus Tumor rahim yang menekan tuba, uterus hipoplastik.
b.
Faktor
tuba
·
Penyempitan
lumen tuba oleh karena infeksi endosalfing.
·
Tuba sempit,
panjang dan berlekuk-lekuk.
·
Gangguan
fungsi rambut getar (silia) tuba
·
Operasi
dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna
·
Endometriosis
tuba
·
Divertikel
tuba dan kelainan kongenital lainnya
·
Perlekatan
peritubal dan lekukan tuba
·
Tumor
lain menekan tuba
·
Lumen
kembar dan sempit
c.
Faktor
ovum
·
Migrasi
eksternal dari ovum
·
Perlekatan
membrane granulosa
·
Rapid
sel devision
·
Migrasi
internal ovum
B.
MOLA
HIDATIDOSA
1.
Pengertian
mola hidatidosa
Merupakan jonjot – jonjot korion yang tumbuh berganda berupa
gelembunggelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah
anggur, atau mata ikan.Kelainan ini merupakan neoplasma trofoblas yang
jinak.Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stroma villi
korialis langka vaskularisasi, dan edematus. Janin biasanya meninggal, akan
tetapi villi-villi yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus,
gambaran yang diberikan ialah sebagai segugus buah anggur.
2.
Etiologi
mola hidatidosa
·
Faktor
ovum
·
Imunoselektif
dari tropoblast
·
Keadaan
sosio – ekonomi yang rendah
·
Paritas
tinggi
·
Kekurangan
protein
·
Infeksi
virus dan faktor kromosom yang belum jelas
3.
Patofisiologis
mola hidatidosa
Patofisiologis
dari kehamilan mola hidatidosa yaitu karena tidak sempurnanya peredaran darah fetus,
yang terjadi pada sel telur patologik yaitu hasil pembuahan dimana embrionya
mati pada umur kehamilan 3 – 5 minggu dan karena pembuluh darah villi tidak
berfungsi maka terjadi penimbunan di dalam jaringan masenkim villi (Sarwono,
2016).
PANTEPARTUM DALAM KEHAMILAN
1.
Defenisi
pendarahan antepartum
Pendarahan antepartum adalah pendarah yang
terjadi setelah kehamilan 28 minggu.Biasanya lebih banyak dan
lebih berbahaya daripada pendarahan kehamilan sebelum 28 Minggu.
2.
Klasifikasi pendarahan antepartum
A. PLASENTA
PREVIA
1. Pengertian
plasenta previa
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah
rahim sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagaian dari ostium
uteri internum sehingga plasenta berada di depan jalan lahir (Maryunani dan
Eka, 2013:136).
2. Etiologi plasenta previa
·
Ovum
yang dibuahi tertanam sangat rendah di dalam rahim, menyebabkan plasenta
terbentuk dekat dengan atau di atas pembukaan serviks.
·
Lapisan
rahim (endometrium) memiliki kelainan seperti fibroid atau jaringan parut (dari
previa sebelumnya, sayatan, bagian bedah caesar atau aborsi).
·
Hipoplasia
endometrium: bila kawin dan hamil pada umur muda.
·
Korpus
luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi.
·
Tumor-tumor,
seperti mioma uteri, polip endometrium.
·
Riwayat
seksio sesarea sebelumnya.
·
Plasenta
terbentuk secara tidak normal.
·
Kejadian
plasenta previa tiga kali lebih sering pada wanita multipara daripada
primipara. Pada multipara, plasenta previa disebabkan vaskularisasi yang
berkurang dan perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan masa lampau.
Aliran darah ke plasenta tidak cukup dan memperluas permukaannnya sehingga menutupi
pembukaan jalan lahir.
·
Ibu merokok atau menggunakan kokain.
·
Ibu
dengan usia lebih tua. Risiko plasenta previa berkembang 3 kali lebih besar
pada perempuan di atas usia 35 tahun dibandingkan pada wanita di bawah usia 20
tahun. Diduga risiko plasenta previa meningkat dengan bertambahnya usia ibu,
terutama setelah usia 35 tahun. Hal ini karena sklerosis pembuluh darah arteli
kecil dan arteriole miometrium menyebabkan aliran darah ke endometrium tidak
merata sehingga plasenta tumbuh lebih lebar dengan luas permukaan yang lebih
besar, untuk mendapatkan aliran darah yang adekuat.
3. Tanda dan gejala plasenta previa
·
Pendarahan
tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari
plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau bekerja
biasa, perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat
fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu banyak dari pada sebelumnya, apalagi
kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam.
·
Sumber
perdarahan ialah sinus uterus yang robek karena terlepasnya plasenta dari
dinding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan
tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus
untuk berkontraksi menghentikan perdarahan, tidak sebagaimana serabut otot
uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya
normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena
itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dari pada
plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai.
·
Sering
terjadi pada malam hari saat pembentukan SBR.
·
Bentuk
perdarahan: Sedikit tanpa menimbulkan gejala klinis atau banyak disertai gejala
klinik ibu dan janin.
·
Gejala
klinik ibu:
Tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang.
Terjadi gejala kardiovaskuler dalam bentuk:
Nadi meningkat dan tekanan darah menurun
Anemia
Perdarahan banyak menimbulkan syok sampai kematian
·
Gejala
klinik janin
·
Bagian
terendah belum masuk PAP atau terdapat kelainan letak. Apabila janin dalam
presentasi kepala, kepalanya akan di dapatkan belum masuk ke dalam pintu-atas
panggul yang mungkin karena plasenta previa sentralis; mengolak ke samping
karena plasenta previa posterior; atau bagian terbawah janin sukar ditentukan
karena plasenta previa anterior. Tidak jarang terjadi kelainan letak, seperti
letak lintang atau letak sungsang.
selain
itu juga hipotiroidism dapat meningkatkan resiko terjadinya abortus, dimana
autoantibodi tiroid menyebabkan peningkatan insidensi abortus walaupun tidak
terjadi hipotiroidism yang nyata.
a. Kelainan traktus genetalia
Abnoramalitas uterus yang mengakibatkan kalinan kavum uteri atau
halangan terhadap pertumbuhan dan pembesaran uterus, misalnya fibroid,
malformasi kongenital, prolapsus atau retroversio uteri.Kerusakan pada servik
akibat robekan yang dalam pada saat melahirkan atau akibat tindakan pembedahan
(dilatasi, amputasi).
b. Trauma
Tapi biasanya jika
terjadi langsung pada kavum uteri. Hubungan seksual khususnya kalau terjadi
orgasmedapat menyebabkan abortus pada
wanita dengan riwayat keguguran yang berkali-kali
c. Faktor
– faktor hormonal
Misalnya penurunan
sekresi progesteron diperkirakan sebagai penyebab terjadinya abortus pada usia
kehamilan 10 sampai 12 minggu, yaitu saat plasenta mengambil alih funngsi
korpus luteum dalam produksi hormon.
1.
Patofisiologi
abortus
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus
desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya.Pada
kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta
tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan
lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil
konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil
yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup,
mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.
2.
Tanda
dan gejala abortus
a.
Abortus
iminen
·
Perdarahan
flek-flek (bisa sampai beberapa hari)
·
Rasa
sakit seperti saat menstruasi bisa ada atau tidak
·
Serviks
dan OUE masih tertutup
·
PP test
(+)
b.
Abortus
insipien
·
Perdarahan banyak, kadang-kadang keluar
gumpalan darah
·
Nyeri hebat disertai kontraksi rahim
·
Serviks atau OUE terbuka dan/atau
ketuban telah pecah
·
Ketuban dapat teraba karena adanya
dilatasi serviks
·
PP test dapat positif atau negative
c.
Abortus
inkomplit
·
Abortus
ini dapat ditandai dengan sakit perut,
·
Terasa
mules,
·
Perdarahan
yang bisa keluar sedikit maupun banyak dan bisa berupa stolsel,
·
Keluar
fetus atau jaringan,
·
Serviks
terbuka.
d.
Abortus
komplit
·
Perdarahan
yang sedikit
·
Ostium
uteri telah menutup
·
Uterus
telah mengecil
e.
Missed
abortion
·
Gejala
subyektif kehamilan menghilang
·
Mammae
agak mengendor lagi
·
Uterus
tidak membesar lagi bahkan mengecil
·
Tes
kehamilan menjadi negatif, serta denyut jantung janin menghilang
·
Dengan
ultrasonografi (USG) dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan
besarnya sesuai dengan usia kehamilan
·
Perlu
diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai gangguan pembekuan
darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemerikaan kearah ini perlu dilakukan
f.
Abortus
habitualis
·
Kehamilan
triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa disertai mulas
·
Ketuban
menonjol dan pada suatu saat pecah
·
Timbul
mulas yang selanjutnya diikuti dengan melakukan pemeriksaan vaginal tiap minggu
·
Penderita
sering mengeluh bahwa ia telah mengeluarkan banyak lender dari vagina
·
Diluar
kehamilan penentuan serviks inkompeten dilakukan dengan histerosalfingografi
yaitu ostium internum uteri melebar lebih dari 8 mm
3.
Komplikasi
abortus
a.
Pendarahan
Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah.
b.
Perforasi
Perforasi uterus pada saat curretage dapat terjadi terutama pada uterus
dalam posisi hiperretrofleksi.Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan
oleh orang biasa menimbulkan persoalan gawat karena perlakuan uterus biasanya
luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus.
c.
Infeksi
Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus
tetapi biasanya didapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan
suatu abortus yang tidak aman (Unsafe Abortion)
d. Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik).
A. KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU ( KET )
1.
Pengertian
Ket
Kehamilan ektopik yaitu kehamilan dimana tempat implantasi blastosit di
area manapun selain endometrium.
2.
Etiologi
Ket
a.
Faktor
uterus Tumor rahim yang menekan tuba, uterus hipoplastik.
b.
Faktor
tuba
·
Penyempitan
lumen tuba oleh karena infeksi endosalfing.
·
Tuba sempit,
panjang dan berlekuk-lekuk.
·
Gangguan
fungsi rambut getar (silia) tuba
·
Operasi
dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna
·
Endometriosis
tuba
·
Divertikel
tuba dan kelainan kongenital lainnya
·
Perlekatan
peritubal dan lekukan tuba
·
Tumor
lain menekan tuba
·
Lumen
kembar dan sempit
c.
Faktor
ovum
·
Migrasi
eksternal dari ovum
·
Perlekatan
membrane granulosa
·
Rapid
sel devision
·
Migrasi
internal ovum
B.
MOLA
HIDATIDOSA
1.
Pengertian
mola hidatidosa
Merupakan jonjot – jonjot korion yang tumbuh berganda berupa
gelembunggelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah
anggur, atau mata ikan.Kelainan ini merupakan neoplasma trofoblas yang
jinak.Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stroma villi
korialis langka vaskularisasi, dan edematus. Janin biasanya meninggal, akan
tetapi villi-villi yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus,
gambaran yang diberikan ialah sebagai segugus buah anggur.
2.
Etiologi
mola hidatidosa
·
Faktor
ovum
·
Imunoselektif
dari tropoblast
·
Keadaan
sosio – ekonomi yang rendah
·
Paritas
tinggi
·
Kekurangan
protein
·
Infeksi
virus dan faktor kromosom yang belum jelas
3.
Patofisiologis
mola hidatidosa
Patofisiologis
dari kehamilan mola hidatidosa yaitu karena tidak sempurnanya peredaran darah fetus,
yang terjadi pada sel telur patologik yaitu hasil pembuahan dimana embrionya
mati pada umur kehamilan 3 – 5 minggu dan karena pembuluh darah villi tidak
berfungsi maka terjadi penimbunan di dalam jaringan masenkim villi (Sarwono,
2016).
PERDARAHAN ANTEPARTUM DALAM KEHAMILAN
1.
Defenisi
pendarahan antepartum
Pendarahan antepartum adalah pendarah yang
terjadi setelah kehamilan 28 minggu.Biasanya lebih banyak dan
lebih berbahaya daripada pendarahan kehamilan sebelum 28 Minggu.
2.
Klasifikasi pendarahan antepartum
A. PLASENTA
PREVIA
1. Pengertian plasenta previa Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagaian dari ostium uteri internum sehingga plasenta berada di depan jalan lahir (Maryunani dan Eka, 2013:136).
2. Etiologi plasenta previa
·
Ovum
yang dibuahi tertanam sangat rendah di dalam rahim, menyebabkan plasenta
terbentuk dekat dengan atau di atas pembukaan serviks.
·
Lapisan
rahim (endometrium) memiliki kelainan seperti fibroid atau jaringan parut (dari
previa sebelumnya, sayatan, bagian bedah caesar atau aborsi).
·
Hipoplasia
endometrium: bila kawin dan hamil pada umur muda.
·
Korpus
luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi.
·
Tumor-tumor,
seperti mioma uteri, polip endometrium.
·
Riwayat
seksio sesarea sebelumnya.
·
Plasenta
terbentuk secara tidak normal.
·
Kejadian
plasenta previa tiga kali lebih sering pada wanita multipara daripada
primipara. Pada multipara, plasenta previa disebabkan vaskularisasi yang
berkurang dan perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan masa lampau.
Aliran darah ke plasenta tidak cukup dan memperluas permukaannnya sehingga menutupi
pembukaan jalan lahir.
·
Ibu merokok atau menggunakan kokain.
·
Ibu
dengan usia lebih tua. Risiko plasenta previa berkembang 3 kali lebih besar
pada perempuan di atas usia 35 tahun dibandingkan pada wanita di bawah usia 20
tahun. Diduga risiko plasenta previa meningkat dengan bertambahnya usia ibu,
terutama setelah usia 35 tahun. Hal ini karena sklerosis pembuluh darah arteli
kecil dan arteriole miometrium menyebabkan aliran darah ke endometrium tidak
merata sehingga plasenta tumbuh lebih lebar dengan luas permukaan yang lebih
besar, untuk mendapatkan aliran darah yang adekuat.
3. Tanda dan gejala plasenta previa
·
Pendarahan
tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari
plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau bekerja
biasa, perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat
fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu banyak dari pada sebelumnya, apalagi
kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam.
·
Sumber
perdarahan ialah sinus uterus yang robek karena terlepasnya plasenta dari
dinding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan
tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus
untuk berkontraksi menghentikan perdarahan, tidak sebagaimana serabut otot
uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya
normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena
itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dari pada
plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai.
·
Sering
terjadi pada malam hari saat pembentukan SBR.
·
Bentuk
perdarahan: Sedikit tanpa menimbulkan gejala klinis atau banyak disertai gejala
klinik ibu dan janin.
·
Gejala
klinik ibu:
Tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang.
Terjadi gejala kardiovaskuler dalam bentuk:
Nadi meningkat dan tekanan darah menurun
Anemia
Perdarahan banyak menimbulkan syok sampai kematian
·
Gejala
klinik janin
·
Bagian
terendah belum masuk PAP atau terdapat kelainan letak. Apabila janin dalam
presentasi kepala, kepalanya akan di dapatkan belum masuk ke dalam pintu-atas
panggul yang mungkin karena plasenta previa sentralis; mengolak ke samping
karena plasenta previa posterior; atau bagian terbawah janin sukar ditentukan
karena plasenta previa anterior. Tidak jarang terjadi kelainan letak, seperti
letak lintang atau letak sungsang.
A. SOLUSIO PLASENTA
1. Pengertian solusio plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya
yang normal pada uterus sebelum janin di lahirkan.Definisi ini berlaku pada
kehamilandengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin diatas 500gr.
2.
Etiologi
solusio plasenta
Penyebab primer belum diketahui pasti, namun ada beberapa faktor yang
menjadi predisposisi:
a.
Faktor
Paritas Ibu
Lebih banyak dijumpai pada multipara dari pada primipara.Beberapa
penelitian menerangkan bahwa makin tinggi paritas ibu makin kurang baik keadaan
endometrium.
b.
Lebih
sering terjadi pada wanita usia > 35 tahun
c.
Lebih
seing terjadi bila terdapat hipertensi
d.
Faktor
trauma
·
Dekompresi
uterus pada hidroamnion dan gemeli.
·
Tarikan
pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi
luar atau tindakan pertolongan persalinan
·
Trauma
langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.
e.
Penurunan
cepat ukuran dan tekanan uterus setelah ketuban pecah pada polihidramnion.
f.
Malnutrisi
g.
Tali
pusat pendek
h.
Faktor
kebiasaan merokok Ibu yang perokok plasenta menjadi tipis, diameter lebih luas
dan beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya
i.
Riwayat
solusio plasenta sebelumnya Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis
ibu dengan riwayat solusio plasenta adalah bahwa resiko berulangnya kejadian
ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil
yang tidak memiliki riwayat solusio plasenta.
3.
Tanda
dan gejala solusio plasenta
a.
Solusio plasenta ringan
·
Perdarahan < 100 – 200 cc
·
Uterus tidak tegang
·
Tidak ada renjatan / syok
·
Janin hidup ( bunyi jantung janin
teratur )
·
Uji beku darah baik, kadar plasma
fibrinogen > 250 mg%
·
Pelepasan plasenta < 1/6 bagian
permukaan
b.
Solusio
plasenta sedang
·
Perdarahan
> 200 cc disertai dengan rasa sakit
·
Uterus
tegang
·
Gawat
janin/ gerakjanin berkurang/ janin telah mati
·
Palpasi
bagian janin sulit diraba
·
Auskultasi
jantung janin dapat terjadi asfiksiaringan dan sedang
·
Ada
tanda presyok/ pra- renjatan
·
Uji
beku darahmasih ada pembekuan, kadar fibrinogen darah 120 – 150 mg%
·
Pelepasan
plasenta 1/ 4 – 2/ 3 bagian permukaan.
·
Pada
pemeriksaan dalam, ketuban menonjol
c.
Solusio plasenta berat
·
Perdarahan banyak sekali pervaginan yang
disertai rasanyeri / perdarahan hebat terselubung/tersembunyi.
·
Uterus sangat tegang dan berkontraksi tetanik,
sakit pada perabaan.
·
Terdapat tandarenjatan/syok dengan TD
menurun, nadi dan pernafasan meningkat.
·
Biasanya janin telah meninggal dalam
uterus.
·
Uji beku darah tidak ada pembekuan,kadar
fibrinogen < 100 mg %.
·
Pelepasan plasenta 2/ 3 bagian permukaan
atau telah terlepas seluruhnya.
4.
Komplikasi
solusio plasenta
·
Syok
pendarahan
·
Gagal
ginjal
·
Kelainan
pembekuan darah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar