Senin, 23 Agustus 2021

 Deteksi Dini awal kegawatdaruratan pada kala III (Retensio Plasenta, Inversio Uteri dan Ancaman Robekan Rahim)

          Retensio Plasenta 

Pengertian

Retensi plasenta adalah kondisi ketika plasenta atau ari-ari tidak keluar dengan sendirinya atau tertahan di dalam rahim setelah melahirkan. Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan infeksi, bahkan kematian. Plasenta adalah organ yang terbentuk di dalam rahim ketika masa kehamilan dimulai. Organ ini berfungsi sebagai penyedia nutrisi dan oksigen untuk janin, serta sebagai saluran untuk membuang limbah sisa metabolisme dari darah janin.

Normalnya, plasenta keluar dari rahim dengan sendirinya beberapa menit setelah bayi dilahirkan. Namun, pada ibu yang mengalami retensi plasenta, plasenta tidak keluar dari dalam rahim sampai lewat dari 30 menit setelah persalinan.

Etiologi

Penyebab Retensi Plasenta

Berdasarkan penyebabnya, retensi plasenta dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

 

·         Placenta adherens

Retensi plasenta jenis placenta adherens terjadi ketika kontraksi rahim tidak cukup kuat untuk mengeluarkan plasenta. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelelahan pada ibu setelah melahirkan atau karena atonia uteri. Placenta adherens merupakan jenis retensi plasenta yang paling umum terjadi.

·         Plasenta akreta


Plasenta akreta terjadi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam di dinding rahim sehingga kontraksi rahim saja tidak dapat mengeluarkan plasenta. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh kelainan pada lapisan rahim akibat menjalani operasi pada rahim atau operasi caesar pada kehamilan sebelumnya.

 

 

·         Trapped placenta

Trapped placenta adalah kondisi ketika plasenta sudah terlepas dari dinding rahim, tetapi belum keluar dari rahim. Kondisi ini terjadi akibat menutupnya leher rahim (serviks) sebelum plasenta keluar.

Faktor Risiko Retensi Plasenta

 

Retensi plasenta lebih berisiko dialami oleh ibu dengan beberapa faktor berikut:

 

1.       Hamil di usia 30 tahun ke atas

2.       Melahirkan sebelum usia kehamilan mencapai 34 minggu (kelahiran prematur).

3.       Mengalami proses persalinan yang terlalu lama

4.       Melahirkan bayi yang mati di dalam kandungan

 

Gejala Retensi Plasenta

 

Tanda utama retensi plasenta adalah tertahannya sebagian atau seluruh plasenta di dalam tubuh lebih dari 30 menit setelah bayi dilahirkan. Keluhan lain yang dapat dialami adalah:

          Demam

          Menggigil

          Nyeri yang berlangsung lama

          Perdarahan hebat

          Keluar cairan dan jaringan berbau tidak sedap dari vagina


Komplikasi Retensi Plasenta

 

Retensi plasenta menyebabkan pembuluh darah yang melekat pada plasenta terus terbuka dan mengeluarkan darah. Kondisi ini menyebabkan perdarahan pasca melahirkan yang dapat mengancam nyawa pasien.Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah:

          Infeksi rahim atau endometritis

          Subinvolusi uteri, yaitu kondisi ketika rahim tidak kembali ke ukuran normal setelah melahirkan

          Polip plasenta atau tumbuhnya jaringan tidak normal pada plasenta

 

Pencegahan Retensi Plasenta

 

Untuk mencegah retensi plasenta, akan melakukan langkah antisipasi selama proses persalinan, seperti:

          Memberikan obat-obatan, seperti oksitosin, segera setelah bayi lahir untuk merangsang kontraksi rahim agar seluruh plasenta keluar

          Menjalankan prosedur controlled cord traction (CCT), yaitu dengan menjepit dan menarik tali pusar bayi sambil melakukan pijatan ringan pada perut ibu untuk merangsang kontraksi Rahim

          Selain itu, ibu hamil juga disarankan untuk menjalani pemeriksaan kehamilan dengan USG secara berkala. Melalui pemeriksaan ini, dokter bisa mengetahui sejak awal jika pasien memiliki faktor risiko yang dapat memicu terjadinya retensi plasenta. Dengan begitu, retensi plasenta dapat diantisipasi dengan persiapan yang matang untuk persalinan.

 

Inversio Uteri

 

1.          Pengertian

Inversio uteri dikenal sebagai rahim terbalik yang terjadi karena komplikasi persalinan. Jelasnya, kondisi ini hadir ketika bagian rahim atau uteris yang bernama fundus terbalik menghadap bawah ke arah vagina.


Seharusnya, fundus sendiri berada di bagian atas dan dekat pada dada. Dalam beberapa kasus, bagian rahim tersebut ada yang ikut keluar dari leher rahim atau bahkan ikut ke vagina ketika masa persalinan. inversio uteri adalah suatu kondisi di mana lapisan terdalam dari rahim (endometrium) turun, bahkan keluar melalui lubang luar rahim.

 

2.          Etiologi Inversio Uterus yang Berhubungan dengan Kehamilan

          Persalinan lama dan berlangsung lebih dari 24 jam

          Sudah pernah melahirkan sebelumnya

          Rahim lemah

          Tali pusar janin yang pendek

          Ibu hamil yang menggunakan obat pelemas otot saat persalinan

          Adanya plasenta akreta yang bisa membuat plasenta tertanam terlalu dalam di dinding Rahim

          Memiliki riwayat inversio uteri sebelumnya

          Tenaga medis yang menarik tali pusat terlalu keras ketika proses persalinan

          Plasenta yang mendempel di bagian atas Rahim

          Bayi yang tumbuh terlalu besar ketika masih di dalam kandungan

 

Gejala yang bisa menandakan hadirnya kondisi adalah;

 

          Benjolan yang keluar dari vagina

          Pusing

          Perdarahan hebat

          Lemas

          Muncul keringat dingin

          Napas yang pendek

          Jantung terasa lebih kencang dari keadaan normal

          Tak hanya itu, dokter pun bisa mendiagnosis seseorang mengalami kondisi ini ketika ia merasa rahimnya tak berada di posisi yang seharusnya dan diikuti dengan menurunnya tekanan darah secara drastis.


Ancaman Robekan Rahim

1. Pengertian

 

Pengertian rahim robek atau yang dalam istilah medis disebut dengan ruptur uteri adalah kondisi yang terjadi ketika ada robekan pada dinding rahim.Sesuai dengan namanya, rupture uteri adalah kondisi yang dapat membuat seluruh lapisan dinding rahim robek sehingga membahayakan kesehatan ibu dan bayinya.Tidak menutup kemungkinan, ruptur uteri bisa mengakibatkan perdarahan hebat pada ibu dan bayi yang tertahan di dalam rahim.

Meski begitu, risiko terjadinya rupture uteri atau rahim robek selama proses persalinan sangatlah kecil.Angka ini berkisar kurang dari 1 persen atau hanya 1 dari 3 wanita yang berisiko mengalami ruptur uteri saat melahirkan.

1.  Risiko ibu mengalami rahim robek

 

Risiko ibu mengalami rahim robek memang meningkat jika pernah melakukan operasi caesar, terutama bila bekas operasi merupakan sayatan vertikal di bagian atas rahim. Oleh sebab itu, dokter cenderung menyarankan ibu hamil menghindari persalinan normal melalui vagina jika sebelumnya pernah melakukan operasi caesar. Selain itu, faktor risiko ruptur uteri yang lain, di antaranya:

a.Pernah melahirkan sebanyak 5 kali atau lebih

b.Rahim yang terlalu besar atau buncit karena banyaknya cairan ketuban atau mengandung bayi kembar

c.Plasenta yang menempel terlalu dalam pada dinding rahim

d.Kontraksi yang terlalu sering dan kuat, baik terjadi secara tiba-tiba, akibat obat-obatan tertentu, maupun solusio plasenta (lepasnya plasenta dari dinding rahim)

e.Trauma rahim

f.Proses persalinan yang lama karena ukuran bayi terlalu besar bagi panggul ibu.

 

·          Gejala yang timbul yaitu :

 

·          Perdarahan vagina

·          Nyeri luar biasa saat kontraksi

·          Kontraksi yang lambat atau kurang intens


·          Sakit perut atau nyeri yang tidak biasa

·          Resesi kepala janin (kepala bayi bergerak kembali ke jalan lahir)

·          Menggembung di bawah tulang kemaluan (kepala bayi telah menonjol di luar bekas luka uterus)

·          Rasa nyeri yang tajam di bagian bekas luka sebelumnya

·          Uterus atonia (melemahnya otot rahim)

·          Denyut jantung cepat dan hipotensi (tekanan darah rendah abnormal)

 

 


 

Deteksi Dini Kegawatdaruratan pada kala IV( Perdarahan Robekan Jalan lahir dan pendarahan postpartum)

Robekan jalan lahir

 

Pengertian

Serviks mengalami laterasi pada lebih dari separuh pelahiran pervaginatum, sebagian besar berukuran kurang dari 0.5 cm. Robekan yang dalam dapat meluas ke sepertiga atas vagina. Cedera terjadi setelah setalah rotasi forceps yang sulit atau pelahiran yang dilakukan pada serviks yang belum membuka penuh dengan daun forseps terpasang pada serviks. Robekan dibawah 2 cm dianggap normal dan biasanya cepat sembuh dan jarang menimbulkan kesulitan.


Etiologi

          Persalinan pertama

          Menjalani persalinan dengan alat bantu

          Bayi dalam kandungan berukuran besar, berat badan mencapai lebih dari 3,5 kilogram

          Pernah mengalami robekan vagina pada persalinan sebelumnya

          Bayi lahir dengan posisi posterior, atau kepala di bawah dan menghadap ke perut ibu

          Menjalani episiotomi

          Mempunya perineum yang lebih pendek

          Persalinan berjalan panjang atau harus mengejan untuk waktu yang lama


          Usia ibu lebih tua saat melahirkan, yakni di atas 35 tahun

 


Gejala :

·         Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir

·         Uterus kontraksi dan keras

·         Plasenta lengkap, dengan gejala lain

·         Pucat, lemah, dan menggigil

 

Tingkatan Robekan

 

Berdasarkan tingkat robekan, maka robekan perineum, dibagi menadi 4 tingkatan yaitu:

Tingkat  I:  Robekan  hanya  terdapat  pada  selaput  lendir  vagina  dengan  atau    tanpa mengenai kulit perineum

Tingkat II: Robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei transversalis, tetapi tidak mengenai sfringter ani

Tingkat III: Robekan mengenai seluruh perineum dan otot sfingter ani Tingkat IV: Robekan sampai mukosa rectum

Perdarahan Kala IV Primer

 

Pengertian

Perdarahan postpartum atau perdarahan pasca persalinan adalah keluarnya darah dari jalan lahir segera setelah melahirkan. Perdarahan setelah melahirkan dengan jumlah wajar merupakan hal yang normal terjadi, hal ini disebut lochia.

Kondisi ini terjadi ketika kehilangan darah yang sangat banyak hingga lebih dari 500cc dalam 24 jam setelah melahirkan merupakan suatu kondisi yang abnormal.

Penyebab perdarahan kala IV Primer


          Tonus/kekuatan otot, keadaan ketika uterus tidak dapat berkontraksi atau disebut atonia uteri, menyebabkan darah yang keluar dari uterus tidak dapat berhenti secara alamiah. Hal ini menyebabkan darah yang keluar semakin banyak dan harus mendapatkan pertolongan.

          Trauma/cedera, adanya robekan jalan lahir karena bayi terlalu besar, atau karena penggunaan obat pacu persalinan yang tidak sesuai dengan aturan dapat menyebabkan kontraksi terlalu kuat dan robeknya jalan lahir.

          Jaringan, sisa jaringan plasenta yang masih menempel pada uterus dapat menyebabkan sumber perdarahan dari jalan lahir.

          Faktor pembekuan darah, perdarahan yang banyak dapat menyebabkan hilangnya faktor- faktor yang dibutuhkan darah untuk membantu penutupan luka. Selain itu, pengidap kelainan hemofilia, yaitu ketika darah sukar membeku menyebabkan kelainan perdarahan pasca melahirkan.


 

Gejala Perdarahan Postpartum

Pada keadaan yang normal darah yang keluar segera setelah melahirkan kurang dari 500cc. Namun, pada keadaan ketika perdarahan postpartum merupakan sebuah kelainan, darah yang muncul lebih dari 500cc.

          Keadaan tersebut disertai gejala lain:

          Darah berwarna merah segar.

          Nyeri pada perut bawah.

          Demam.

          Pernapasan cepat.

          Keringat dingin.

          Penurunan kesadaran, mengantuk atau pingsan.

 

Pencegahan Perdarahan Postpartum

     Identifikasi dan koreksi anemia pada ibu hamil sebelum persalinan.

          Pemeriksaan tanda vital sebelum persalinan juga penting untuk mengidentifikasi                   kemungkinan perdarahan yang terjadi.

               Untuk petugas kesehatan, manajemen aktif saat persalinan dan tindakan persalinan yang            menghindarkan dari terjadinya perdarahan pascapersalinan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL

     Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL 1. Pengertian      Kejang pada bayi baru lahir adalah kejang yang terjadi ...