Kamis, 26 Agustus 2021

Deteksi dini Abnormalitas Rahim (Subinvolutio Uteri, Perdarahan kala nifas sekunder dan Infeksi nifas)

 

                  Abnormalitas Rahim

A.Subinvolutio Uteri

Pengertian

Subinvolusi uterus adalah suatu kondisi medis di mana setelah melahirkan, rahim tidak kembali

ke ukuran normal. Involusi merupakan proses kembalinya suatu organ ke ukuran semula.

Subinvolusi adalah kegagalan perubahan fisiologis pada sistem reproduksi pada masa nifas yang

terjadi pada setiap organ dan saluran yang reprodukif untuk kembali ke keadaan tidak hamil.

Uterus (rahim) adalah organ yang paling umum mengalami subinvolusi. Subinvolusi uterus

adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal involusi uterus atau proses involusi yang

tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilan uterus terhambat. Karena

rahim merupakan organ yang paling mudah diakses untuk diukur, penilaian involusi uterus

perlu dilakukan dalam menilai subinvolusi.

a.Faktor Penyebab:


o Faktor predisposisi

o Infeksi

o Multiparitas

o Peregangan berlebihan pada rahim seperti pada kehamilan kembar dan

hidramnion

o Masalah kesehatan ibu

o Operasi sesar

o Prolaps uteri

o Retroversi (kelainan bentuk) setelah uterus kembali menjadi organ panggul

o Fibroid uterus


b.Faktor yang memberatkan

Tertahannya hasil konsepsi

Sepsis uterus, endometritis


c.Faktor-faktor lainnya

o Lokia yang menetap/perdarahan segar

o Persalinan lama

o anestesi

o kandung kemih penuh

o kelahiran yang sulit

o retensio plasenta

o ibu infeksi


2.Gejala

Kondisi ini dapat bersifat asimtomatik. Gejala-gejala utama di antaranya adalah:

 Keluarnya lokia abnormal yang berlebihan atau berkepanjangan

 Perdarahan uterus yang tidak teratur atau berlebihan

 Kram nyeri yang irreguler pada kasus-kasus tertahannya hasil konsepsi atau

kenaikan suhu pada sepsis


3.Tanda-tanda

1. Tinggi uterus adalah lebih besar dari normal pada hari-hari tertentu dari masa nifas. Uterus

saat nifas normal dapat tergantikan oleh kandung kemih penuh atau rektum yang terisi penuh.

Rasanya berlumpur dan lembut pada palpasi.

2. Adanya tanda khas yang membuat subinvolusi semakin jelas.

4.komplikasi:

Subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah yang

lebar tidak menutup sempurna, sehingga pendarahan terjadi terus menerus, menyebabkan

permasalahan lainya baik itu infeksi maupun inflamasi pada bagian rahim terkhususnya

endromatrium.

5.pencegahan

 Antibiotik pada endometritis


 Eksplorasi rahim pada hasil konsepsi tertahan

 Kerokan pada sisa plasenta yang tertinggal di dalam uterus.

 Ergometrine sering diresepkan untuk meningkatkan proses involusi dengan mengurangi

aliran darah dari uterus.


      B.Perdarahan kala nifas sekunder

1. Pengertian :

Perdarahan postpartum sekunder yaitu perdarahan postpartum yang terjadi setelah 24 jam

pertama kelahiran. Perdarahan postpartum sekunder disebabkan oleh infeksi, penyusutan

rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang tertinggal (Manuaba, 2014).


2.Etiologi

Perdarahan postpartum disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa faktor predisposisi adalah

anemia, yang berdasarkan prevalensi di negara berkembang merupakan penyebab yang paling

bermakna. Penyebab perdarahan postpartum paling sering adalah atonia uteri serta retensio

plasenta, penyebab lain kadang-kadang adalah laserasi serviks atau vagina, ruptur uteri, dan

inversi uteri (Saifuddin, 2014).

Sebab-sebab perdarahan postpartum primer dibagi menjadi empat kelompok utama:


1) Tone (Atonia Uteri)


Atonia uteri menjadi penyebab pertama perdarahan postpartum. Perdarahan postpartum bisa

dikendalikan melalui kontraksi dan retraksi serat-serat miometrium. Kontraksi dan retraksi ini

menyebabkan terlipatnya pembuluh-pembuluh darah sehingga aliran darah ke tempat plasenta

menjadi terhenti. Kegagalan mekanisme akibat gangguan fungsi miometrium dinamakan atonia

uteri (Oxorn, 2010).


Diagnosis ditegakkan bila setelah bayi dan plasenta lahir perdarahan masih ada dan mencapai

500-1000 cc, tinggi fundus uteri masih setinggi pusat atau lebih dengan kontraksi yang lembek

(Saifuddin, 2014).

Pencegahan atonia uteri adalah dengan melakukan manajemen aktif kala III dengan sebenar-

benarnya dan memberikan misoprostol peroral 2-3 tablet (400-600 mcg) segera setelah bayi

lahir (Oxorn, 2010).


2) Trauma dan Laserasi


Perdarahan yang cukup banyak dapat terjadi karena robekan pada saat proses persalinan baik

normal maupun dengan tindakan, sehingga inspeksi harus selalu dilakukan sesudah proses

persalinan selesai sehingga sumber perdarahan dapat dikendalikan. Tempat-tempat

perdarahan dapat terjadi di vulva, vagina, servik, porsio dan uterus (Oxorn, 2010).


3) Tissue (Retensio Plasenta)


Retensio sebagian atau seluruh plasenta dalam rahim akan mengganggu kontraksi dan retraksi,

sinus-sinus darah tetap terbuka, sehingga menimbulkan perdarahan postpartum. Perdarahan

terjadi pada bagian plasenta yang terlepas dari dinding uterus. Bagian plasenta yang masih

melekat merintangi retraksi miometrium dan perdarahan berlangsung terus sampai sisa organ

tersebut terlepas serta dikeluarkan (Oxorn, 2010).

Retensio plasenta, seluruh atau sebagian, lobus succenturiata, sebuah kotiledon, atau suatu

fragmen plasenta dapat menyebabkan perdarahan plasenta akpostpartum. Retensio plasenta

dapat disebabkan adanya plasenta akreta, perkreta dan inkreta. Faktor predisposisi terjadinya

plasenta akreta adalah plasenta previa, bekas seksio sesarea, pernah kuret berulang, dan

multiparitas (Saifuddin, 2014).


4) Thrombophilia (Kelainan Perdarahan)


Afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia dapat terjadi setelah abruption placenta, retensio

janin-mati yang lama di dalam rahim, dan pada emboli cairan ketuban. Kegagalan mekanisme

pembekuan darah menyebabkan perdarahan yang tidak dapat dihentikan dengan tindakan

yang biasanya dipakai untuk mengendalikan perdarahan. Secara etiologi bahan thromboplastik

yang timbul dari degenerasi dan autolisis decidua serta placenta dapat memasuki sirkulasi

maternal dan menimbulkan koagulasi intravaskuler serta penurunan fibrinogen yang beredar

(Oxorn, 2010).


5.Gejala Klinis Perdarahan Postpartum


Efek perdarahan banyak bergantung pada volume darah sebelum hamil, derajat hipervolemia-

terinduksi kehamilan, dan derajat anemia saat persalinan. Gambaran PPP yang dapat

mengecohkan adalah kegagalan nadi dan tekanan darah untuk mengalami perubahan besar

sampai terjadi kehilangan darah sangat banyak. Kehilangan banyak darah tersebut

menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat, tekanan darah rendah, denyut nadi

cepat dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain (Wiknjosastro, 2012).


6.komplikasi:

 Muncul tanda infeksi, seperti keluarnya cairan berbau dari vagina atau luka

operasi, menggigil, dan demam hingga suhu tubuh di atas 38 o C

 Darah yang keluar berwarna merah cerah dan kental pada minggu kedua

 Salah satu atau kedua sisi perut terasa lunak

 Pusing atau merasa ingin pingsan

 Detak jantung tidak beraturan dan bertambah cepat

 Gumpalan darah yang keluar sangat besar atau banya


7.pencegahan:


Hal pertama yang akan dilakukan bidan untuk menangani perdarahan pascamelahirkan

adalah tindakan untuk menyelamatkan nyawa pasien, terutama bila terjadi syok

hipovolemik. Pasalnya, syok dapat membuat kerja organ tubuh berhenti dengan cepat.


Bidan dapat memberikan cairan infus atau transfusi darah untuk mengganti darah yang

hilang. Setelah kondisi pasien stabil, dokter akan berupaya mengendalikan perdarahan

sesuai penyebabnya.

Berikut ini adalah beberapa metode yang dapat dilakukan bidan untuk menangani

perdarahan pascamelahirkan:

 Memijat rahim

Jika perdarahan terjadi karena otot rahim lemas, dokter akan memijat rahim

pasien untuk merangsang kontraksi, sehingga perdarahan dapat berhenti. Bidan

juga dapat memberikan obat oksitosin untuk memicu kontraksi rahim.

Pemberian oksitosin dapat dilakukan melalui dubur, infus, atau disuntikkan

langsung ke otot.

 Menekan pembuluh darah dengan balon khusus

Jika perdarahan disebabkan oleh luka robekan, dokter dapat memasukkan kasa

atau balon yang kemudian dikembangkan di dalam rahim. Tujuannya agar

pembuluh darah di tempat terjadinya perdarahan tertekan, sehingga darah dapat

berhenti keluar.

 Mengeluarkan jaringan sisa plasenta dengan tindakan kuret

Untuk kasus perdarahan yang terjadi akibat jaringan plasenta yang masih

tertinggal di dalam rahim (retensi plasenta), bidan menganjurkan kuret dapat


3.Infeksi nifas

 Pengertian

Infeksi pada dan melalui tractus genitalis setelah persalinan disebut infeksi nifas. Suhu 38°C

atau lebih yang terjadi antara hari ke 2 – 10 post partum dan diukur per oral sedikitnya 4 kali

sehari disebut sebagai morbiditas puerperalis. Kenaikan suhu tubuh yang terjadi di dalam masa

nifas, dianggap sebagai infeksi nifas jika tidak diketemukan sebab – sebab ekstragenital.


a.Faktor Penyebab


Sebagai bidan, Anda harus mengetahui beberapa factor predisposisi yang menyebabkan infeksi

pada ibu nifas :

1. Kurang gizi atau malnutrisi

2. Anemia

3. Masalah kebersihan

4. Kelelahan

5. Proses persalinan bermasalah seperti partus lama / macet, korioamnionitis, persalinan

traumatik, Pencegahan Infeksi yang tidak baik, manipulasi intrauteri (ekplorasi uteri dan manual

plasenta).


b.Gejala


Nyeri perut bawah, demam rendah, serta keputihan dan lokia yang berbau busuk

(tanda-tanda endometritis)

Area yang terasa sakit, keras, hangat dan merah (biasanya hanya pada satu payudara)

dan demam, menggigil, nyeri otot, kelelahan atau sakit kepala (tanda-tanda mastitis)

Kemerahan, cairan, pembengkakan, hangat atau meningkatnya rasa sakit di sekitar area

sayatan atau luka. Hal tersebut bisa terjadi di sayatan operasi caesar, episiotomi atau

luka gores, atau sayatan yang terlihat seperti akan terpisah

Sulit dan nyeri saat buang air kecil, merasa seperti ingin buang air kecil dengan sering

dan mendesak. Namun, hanya sedikit urin, tidak ada urin yang keluar, atau urin keruh

dan berdarah (tanda-tanda infeksi saluran kemih).


C,komplikasi:

 Infeksi di rahim dapat menyebabkan pembekuan darah, sedangkan infeksi di

ginjal dapat menyebabkan gangguan ginjal.

 Infeksi yang masuk ke aliran darah pun dapat menyebabkan sepsis.

 Komplikasi yang paling mungkin terjadi adalah pemulihan pasca persalinan yang

lebih sulit.

d.pencegahan:


Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda

mengatasi infeksi postpartum:

 Mandi dengan antiseptik pada pagi di hari operasi

 Cukur rambut kemaluan Anda dengan clippers dibandingkan dengan pisau cukur

 Gunakan chlorhexidine-alcohol untuk mempersiapkan kulit

 Gunakan antibiotik extended-spectrum sebelum operasi.

    Infeksi masa nifas paling sering diobati dengan antibiotik oral. Misalnya dengan resep obat

clindamycin atau gentamicin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL

     Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL 1. Pengertian      Kejang pada bayi baru lahir adalah kejang yang terjadi ...