Jumat, 13 Agustus 2021

DETEKSI DINI HIPERTENSI/ PREEKLAMSIA/ EKLAMSIA

 

2.1  Pengertian Hipertensi, Preeklamsi Dan Eklamsia

Hipertensi adalah masalah medis yang umum ditemui selama kehamilan. Inilah yang perlu diketahui ibu hamil agar lebih meningkatkan kesadaran merawat diri. Penyakit Hipertensi Dalam Kehamilan (HDK) adalah salah satu penyebab kesakitan dan kematian ibu mau  pun janin. Kira-kira 15-25% wanita yang didiagnosis awal dengan hipertensi dalam kehamilan akan mengalami Pre-Eklamsia Berat (PEB). Sulit memprediksi yang mana akan mengalami PEB.Dr. Meutia Ria Octaviana, Sp.OG, M.Kes – Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari Primaya Hospital Tangerang menjelaskan bahwa hipertensi dalam kehamilan adalah penyakit yang harus diwaspadai. Dengan penanganan yang baik, hipertensi tidak akan berkembang atau membahayakan, dan dapat hilang setelah kelahiran. Namun jika dibiarkan, hipertensi saat hamil bisa membahayakan.Hipertensi pada kehamilan apabila tekanan darahnya ≥140/90 mmHg. Dibagi menjadi ringan-sedang (140 – 159 / 90 – 109 mmHg) dan berat (≥160/110 mmHg) (Malha et al., 2018).

Hipertensi pada kehamilan dapat digolongkan menjadi:

a.       pre-eklampsia/ eclampsia

b.      hipertensi kronis pada kehamilan

c.       hipertensi kronis disertai preeklampsia

d.      hipertensi gestational

Preeklamsia adalah kondisi peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya protein dalam urine. Kondisi ini terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu.Preeklamsia harus diberikan penanganan untuk mencegah komplikasi dan mencegahnya berkembang menjadi eklamsia yang dapat mengancam nyawa ibu hamil dan janin. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia adalah ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun atau di bawah 20 tahun.

Eklampsia adalah penyakit akut dengan kejang dan coma pada wanita hamil dan dalam masa nifas disertai dengan hypertensi oedema dan proteinuria. (obstetricpatologi,unpad,1984).Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelianan neurologik) dan atau koma dimana sebeblumnya sudah menunjukkan gejala – gejala pre eklampsia.Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita preeclampsia, yang disertai dengan kejang menyeluruh dan koma.Eklampsia lebih sering terjadi pada primagravidae dari pada multiparae. Eklampsia juga sering terjadi pada : kehamilan kembar, hydramnion, mola hidatidosa. Eklampsia post partum umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah persalinan.

 

2.2  Etiologi Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia

Etiologi hipertensi dalam kehamilan beragam, tergantung dari subtipe hipertensi. Hipertensi kronis yang sekunder dapat disebabkan oleh beberapa etiologi yakni penyakit parenkimal ginjal (mis. ginjal polikistik), penyakit vaskular ginjal (mis.stenosi arteri ginjal, displasia fibromuskuler), gangguan endokrin (mis.kelebihan adrenokortikosteroid atau mineralokortikoid, feokromositoma, hipertiroidisme atau hipotiroidisme, kelebihan hormon pertumbuhan, hiperparatiroidisme), koarktasio aorta, atau penggunaan kontrasepsi oral.  Faktor risiko dari hipertensi dalam kehamilan di antaranya:

·         Riwayat hipertensi pada keluarga

·         Riwayat hipertensi kronis sebelumnya

·         Diabetes

·         Nuliparitas

·         Obesitas

Etiologi Preeklamsia

Penyebab preeklamsia masih belum diketahui secara pasti. Meski demikian, ada dugaan bahwa kondisi ini disebabkan oleh kelainan perkembangan dan fungsi plasenta, yaitu organ yang berfungsi menyalurkan darah dan nutrisi untuk janin.

Kelainan tersebut menyebabkan pembuluh darah menyempit dan timbulnya reaksi yang berbeda dari tubuh ibu hamil terhadap perubahan hormon. Akibatnya, timbul gangguan pada ibu hamil dan janin.

Meskipun penyebabnya belum diketahui, sejumlah faktor berikut ini dinilai dapat memicu gangguan pada plasenta:

·         Pernah atau sedang menderita diabetes, hipertensi, penyakit ginjalpenyakit autoimun, dan gangguan darah

·         Pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya

·         Baru pertama kali hamil

·         Hamil lagi setelah jeda 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya

·         Hamil di usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun

·         Mengandung lebih lebih dari satu janin

·         Mengalami obesitas saat hamil, yang ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥30 kg/m2

·         Kehamilan yang sedang dijalani merupakan hasil metode bayi tabung (in vitro fertilization)

·         Ada riwayat preeklamsia dalam keluarga

Diagnosis Preeklamsia

Dokter akan menanyakan keluhan dan gejala yang dialami ibu hamil, serta riwayat kesehatan ibu hamil dan keluarganya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, termasuk tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, suhu tubuh, pembengkakan pada tungkai, kaki, dan tangan, serta kondisi kandungan. Jika tekanan darah ibu hamil lebih dari 140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan dengan jeda waktu 4 jam, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang berikut untuk memastikan diagnosis preeklamsia:

·         Tes urine, untuk mengetahui kadar protein dalam urine

·         Tes darah, untuk memeriksa fungsi hati, ginjal, dan jumlah trombosit darah

·         Ultrasonografi (USG), untuk melihat pertumbuhan janin

·         USG Doppler, untuk mengukur efisiensi aliran darah ke plasenta

·         Nonstress test (NST) dengan cardiotocography atau CTG, untuk mengukur detak jantung janin saat bergerak di dalam kandungan

Penyebab Eklamsia

Hingga saat ini, penyebab terjadinya preeklamsia dan eklamsia belum diketahui dengan pasti. Namun, diduga kondisi ini diakibatkan oleh adanya kelainan pada fungsi dan formasi plasenta. Faktor-faktor lain yang diduga dapat meningkatkan risiko preeklamsia dan eklamsia pada ibu hamil adalah:

·         Memiliki riwayat menderita preeklamsia pada kehamilan sebelumnya

·         Sedang menjalani kehamilan pertama atau memiliki jarak antar kehamilan yang terlalu dekat (kurang dari 2 tahun)

·         Memiliki riwayat hipertensi kronis atau hipertensi dalam kehamilan

·         Hamil pada usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun

·         Mengalami kondisi dan penyakit tertentu, seperti diabetes, penyakit ginjal, anemia sel sabitobesitas, serta penyakit autoimun, seperti lupus dan sindrom antifosfolipid (APS)

·         Kondisi tertentu dalam kehamilan, seperti mengandung lebih dari satu janin atau hamil dengan program bayi tabung (IVF)

Diagnosis Eklamsia

Dalam mendiagnosis eklamsia, dokter akan menanyakan kepada keluarga yang membawa ibu hamil ke rumah sakit tentang kejang yang dialami, termasuk riwayat pemeriksaan kehamilan, penyakit, dan preeklampsia sebelumnya.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh untuk memastikan apakah kondisi ibu hamil dan janin dalam keadaan stabil.

Untuk memastikan eklampsia dan kerusakan organ yang sudah terjadi, akan dilakukan pemeriksaan penunjang berikut:

·         Tes darah, untuk mengetahui jumlah sel darah secara keseluruhan

·         Tes urin, untuk memeriksa keberadaan dan kadar protein di urin

·         Tes fungsi hati, untuk mendeteksi kerusakan fungsi hati

·         Tes fungsi ginjal, termasuk ureum dan kreatin, untuk mengetahui kadar kreatin di ginjal dan mendeteksi adanya kerusakan ginjal

·         Ultrasonografi (USG), untuk memastikan kondisi janin dalam keadaan sehat

 

2.1  Tanda Dan Gejala Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia

Umumnya, hipertensi biasa tidak selalu menunjukkan tanda-tanda dan gejala tertentu.

Pada kasus hipertensi gestasional, tanda-tanda dan gejala pada setiap penderita mungkin akan berbeda, tetapi gejala akan muncul saat kehamilan sedang berlangsung.

Tanda-tanda dan gejala yang utama tentunya adalah:

·         Tekanan darah tinggi pada saat usia kandungan di atas 20 minggu

o   Tidak ada protein di dalam urine (proteinuria)

o   Sakit kepala

o   Pusing

o   Edema (pembengkakan)

o   Berat badan naik secara tidak wajar

o   Penglihatan kabur atau buram

o   Mual dan muntah berlebihan

o   Sakit di bagian kanan atas perut

o   Buang air kecil semakin sedikit

 

Gejala Preeklamsia dan Eklamsia

Gejala Preeklampsia biasanya tanda-tanda Preeklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria.

1) Preeklampsia ringan :

a) Tekanan darah 140/90 mmHg, atau kenaikan diastolic 15 mmHg atau lebih, atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih setelah 20 minggu kehamilan dengan riwayat tekanan darah normal.

b) Proteinuria kuantitatif ≥ 0,3 gr perliter atau kualitatif 1+ atau 2+ pada urine kateter atau midstearm

2) Preeklampsia berat :

a) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih

b) Proteinuria 5 gr atau lebih perliter dalam 24 jam atau kualitatif 3+ atau 4+.

c) Oligouri, yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc per 24 jam.

d) Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan rasa nyeri di epigastrium.

e) Terdapat edema paru dan sianosis

f) Trombositopenig (gangguan fungsi hati)

g) Pertumbuhan janin terhambat.

Gejala eklampsia

Pada umumnya kejanga didahului oleh makin memburuknya Preeklampsia dan terjadinya gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal, gangguan penglihatan, mual keras, nyeri di epigastrium dan hiperrefleksia. Bila keadaan ini tidak dikenal dan tidak segera diobati, akan timbul kejangan terutama pada persalinan bahaya ini besar.

 

 


2.2  Komplikasi Hipertensi, Preeklamsi Dan Eklamsia

Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin.Komplikasi dibawahini biasanya terjadi pada Preeklampsia berat dan eklampsia.

a. Solusio plasenta. Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensiakut dan lebih sering terjadi pada Preeklampsia.

b. Hipofibrinogenemia. Pada Preeklampsia berat

c. Hemolisis. Penderita dengan Preeklampsia berat kadang-kadang menunjukkangejala klinik hemolisis yang di kenal dengan ikterus.Belum di ketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darahmerah. Nekrosis periportal hati sering di temukan pada autopsi penderita eklampsia dapat menerangkan ikterus tersebut.

d. Perdarahan otak. Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematianmaternal penderita eklampsia.

e. Kelainan mata, Kehilanganpenglihatan untuk sementara, yang berlansungsampaiseminggu.

f. Edema paru-paru.

g. Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada Preeklampsi – eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum.

h. Sindrom HELLP yaitu haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet.

i. Kelainan ginjal

j. Komplikasi lain. Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibatkejang-kejang pneumonia aspirasi.

k. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra – uterin.

 

2.5.Pencegahan Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia

Mencegah Hipertensi pada Ibu Hamil

Meski pada beberapa kondisi hipertensi pada ibu hamil sulit dicegah, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko tersebut. Berikut di antaranya:

1.Ketahui Tingkat Tekanan Darah sebelum Hamil

Penting untuk mengetahui berapa tingkat tekanan darah yang dimiliki, sejak sebelum hamil. Jadi, saat sedang program hamil, sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, atau sekadar cek tekanan darah. Dengan begitu, kamu bisa tahu kapan tekanan darah sudah mulai tinggi dan harus berhati-hati.

2.Kurangi Asupan Garam

Asupan garam atau natrium yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah. Jika kamu biasanya menaburkan garam di setiap hidangan, sebaiknya segera hentikan kebiasaan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan batas aman konsumsi garam per harinya 1 sendok teh atau 2.400 miligram.

Selain pada masakan, perhatikan juga kandungan garam pada setiap makanan kemasan dan olahan. Terutama makanan olahan, yang biasanya sudah mengandung garam atau natrium dalam jumlah yang besar.

3.Olahraga Rutin

Sejak program hamil, atau jauh sebelumnya, penting untuk menjadikan olahraga sebagai rutinitas. Jika sudah hamil, tanyakan kepada dokter tentang bagaimana memulai program olahraga teratur, termasuk apa saja jenis olahraga yang boleh dilakukan. 

Wanita yang tidak banyak bergerak cenderung menambah berat badan, yang dapat meningkatkan risiko hipertensi selama kehamilan, juga sebelum dan sesudahnya. Jadi, cobalah untuk mulai menerapkan gaya hidup sehat dan aktif sebelum memulai kehamilan.

4.Perhatikan Obat-obatan yang Dikonsumsi

Pastikan kamu tidak minum obat yang dapat meningkatkan tekanan darah. Sebaiknya selalu tanyakan kepada dokter untuk mengetahui obat apa yang aman. Pikirkan dua kali untuk menggunakan obat apa pun kecuali dokter menyarankan. Agar lebih mudah, kamu juga bisa download aplikasi Halodoc untuk berkonsultasi pada dokter tentang penggunaan obat. 

5.Jalani Pemeriksaan Prenatal Rutin 

Jika tekanan darah mulai meningkat selama kehamilan, ibu hamil perlu mengetahuinya lebih awal. Pastikan untuk menepati semua jadwal kontrol kehamilan dan pertimbangkan untuk membeli monitor tekanan darah rumah untuk memeriksa tekanan darah lebih sering di rumah.

6.Hindari Rokok dan Alkohol

Tembakau dan alkohol tidak aman untuk janin dan dapat meningkatkan risiko hipertensi pada ibu hamil. Jadi, pastikan untuk menghindari dua hal ini selama kehamilan, agar terhindar dari risiko gangguan kesehatan serius, ya. 

 

Jika kamu sudah memiliki tekanan darah tinggi, bicarakan dengan dokter tentang penggunaan obat sebelum dan selama kehamilan. Sangat penting untuk mengendalikan tekanan darah dan stabil sebelum hamil, karena sembilan bulan kehamilan bukanlah waktu terbaik untuk mencoba obat baru atau tambahan. 

 

a. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (Preeklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.

b. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya Preeklampsia kalau ada faktor-faktor predeposisi.

c. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet bergunadalam pencegahan. Istirahat tidakselalu berarti berbaring ditempat tidur,namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein, dan rendah lemak, karbohidrat,garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan.

d. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tandaPreeklampsia dan mengobatinya segera apabila di temukan.

e. Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah dirawat tanda – tanda Preeklampsia tidak juga dapat di hilangkan.

 

 


CONTOH TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. ”S”UMUR 23 TAHUN G1P0A0 USIA KEHAMILAN 30 MINGGU DENGAN EKLAMPSIA DI RSUD MAMUJU TANGGAL 14 JUNI 2015

 

No. Register                                        : 65789

Masuk BPM Tanggal/ Pukul               :14 Juni 2015 Jam 08.00 WITA

Dirawat diruang                                  : Periksa

Tanggal pengkaji                                 :14 Juni 2015 Jam : 08.00 WITA

Nama pengkaji                                    : -

LANGKAH I IDENTIFIKASI DATA DASAR

A.   Identitas istri / suami

Nama                                       : Ny “S”/Tn “K

Umur                                       : 23 Tahun/27 Tahun

Nikah/Lamanya                       : 1 Kali/ ± 1 Tahun

Suku                                        : Jawa/Jawa

Agama                                     : Islam

Pendidikan                              : Sma/Sma

Pekerjaan                                 : Irt/Polisi

Alamat                                   : Jl. Soekarno Hatta

 

B.   Riwayat Keluhan Utama

Keluarga mengatakan ibu mengalami kejang-kejang sejak 30 menit yang lalu

C.   Riwayat Menstruasi

Menarche                    :15 tahun

Siklus                         :28 hari

Lama                           :6 hari

Disminorhe                  : kadang-kadang

D.   Riwayat Obstetri

G1P0A0

NO

Kehamilan

Persalinan

nifas

Tahun

Umur

(mg)

Jenis

persalinan

Peno-long

berlangsung

B

B

L

Keadaan

Ibu/bayi

Berlang-sung

Lama-nya

1

2015

Kehamilan sekarang

 

a.    HPHT :06 November 2014

b.    HTP   :13 Agustus 2015

c.    umur kehamilan 30 minggu

d.    Kunjungan ANC

Trimester I

-     Frekuensi                    : 2 kali

-     Keluhan                       : mual muntah

-     Komplikasi                   : tidak ada

-     Terapi                             : B6 1x1

Trimester II

-     Frekuensi                : 2 kali

-     Keluhan                   : pusing,odema kaki dan tangan

-     Komplikasi               : tidak ada

-     Terapi                                   : fe 1x1

Trimester III

-     Frekuensi                : 1 kali

-     Keluhan                   : pusing,odema pada kaki dan

  tangan

-     Komplikasi               : tidak ada

-     Terapi                                    : fe 1x1

e.    Imunisasi TT 2 kali

TT 1                                      :23 Maret 2015

TT 2                                      :23 April 2015

f.     Pergerakan janin selama 24 jam (dalam sehari)

Ibu mengatakan pergerakan janin lebih dari 10 kali dalam sehari

 

 

F.    Riwayat Kesehatan

1.    Ibu tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, paru-paru  ginjal, dan diabetes militus (DM

2.    Ibu mempunyai riwayat hipertensi

3.    Ibu tidak pernah dioperasi atau transfuse darah

4.    Ibu tidak pernah merokok dan minum minuman yang beralkohol

5.    Ibu tidak ada alergi obat obatan dan makanan

 

G.   Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari – hari

a.    Pola nutrisi

      Makan

Frekuensi         : 3-4x/ hari                                                       

Porsi               : 1 Piring

Jenis               : Nasi, Sayur, Lauk, Roti

      Minum

Frekuensi         : 5-6x/ hari                                                          

Porsi               : 1 gelas

Jenis               : Air Putih, Susu

b.    Pola Eliminasi

      BAB

Frekuens          : 1x/hari

Konsistensi      : Padat

Warna            : kuning           

      BAK

Frekuensi                     : 3-4x perhari                                                     

Konsistensi                  : Cair

Warna                          : kekuningan dan keruh

c.    Pola Istirahat

      Tidur Siang

Lama                           : lama ±1 jam (13.00-14.00)

      Tidur Malam

Lama                           : lama ±5 jam (24.00-05.00)

d.    Personal Hygiene

      Mandi                 : 2x/hari                                                           

Ganti baju                  : 2x/sehari                                                        

Gosok Gigi                  : 2x/sehari                                                        

Keramas                      : 3x/seminggu                                               

e.    Pola Seksualitas

      Frekuensi            : 1 x/seminggu                                                  

f.     Pola Aktifitas ( terkait kegiatan fisik, olahraga)

1.  Ibu mengatakan melakukan kegiatan sebagai IRT(menyapu, mencuci pakaian, memasak)

2.  Kebiasaan yang mengganggu kesehatan (merokok, minum jamu, minuman beralkohol)

3.  Ibu mengtakan  tidak memiliki kebiasaan yang mengganggu kesehatan seperti merokok, minum jamu, minuman beralkohol.

4.    Data Psikososial, spiritual dan ekonomi ( Penerimaan ibu/ suami/ keluarga terhadap kehamilan, dukungan keluarga, hubungan dengan suami/keluarga/tetangga, perawatan bayi, kegiatan ibadah, kegiatan sosial, keadaan ekonomii keluarga)

           Ibu mengatakan senang dengan kehamilannya

           Suami dan keluarga sangat mendukung kehamilannya

           Ibu menjalin silaturahmi dengan tetangga sekitar

           Ibu rajin ibadah sholat 5 waktu

           Ibu mengikuti kegiatan PKK di desanya

           Ibu sudah menabung sedikit demi sedikit untuk biaya persalinan dan kemungkinan komplikasi

 

 

 

 

H.   Pemeriksaan Fisik

1.    Pemeriksaan Umum

a.    Keadaan Umum          : tidak baik

b.    Kesadaran                   : stupor

c.    Status Emosional        : tidak stabil

d.    Tanda Vital

TekananDarah             : 210/120 mmHg

Nadi                            : 120 x/menit

Pernapasan                  : 26 x/menit

Suhu                            : 38,60C

2.     Pemeriksaan Fisik

a.    Kepala : Mesochephalus, tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa, rambut hitam, lurus

b.    Wajah : terdapat odema, tidak ada bekas luka, ada nya cloasma grapidarum

c.    Mata   : terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar

d.    Hidung :tidak ada polip, bersih, tidak ada pernapasan cuping hidung

e.    Mulut : mulut membuka

f.     Telinga : simetris, tidak ada serumen, terdapat lubang telinga

g.    Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, parotis, limfe dan vena jugularis

h.    Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada

i.      Payudara   : simetris putting susu menonjol hiperpigmentsi areola mamae

j.      Abdomen  : adanya odema, adanya linea nigra dan strie gravidarum

k.    Palpasi Leopold                           

Leopold I  : Tfu 3 jari diatas pusat, teraba bulat, lunak dan tidak melenting (bokong)

Leopold II : Punggung kanan

Leopold III: bagian terendah janin teraba bulat, (kepala)

Leopold IV:  kepala belum masuk panggul

Osborn Test : tidak dilakukan

Tinggi Fundus Uteri    :  28 cm

Lingkar Perut              : 88,5 cm                                

Tafsiran Berat Janin    : 2480 gram

Auskultasi DJJ            : 140x/ menit

l.      Ekstremitas Atas             : terdapat odema, tangan bergetar, jari tangan menggenggam

m.   Ekstremitas Bawah          : terdapat odema

n.    Genetalia luar                   : bersih, tidak berbau, tidak ada tanda – tanda infeksi

o.    Pemeriksaaan panggul      : tidak dilakukan

I.      Pemeriksaan Laboraturium

Tanggal 14 juni 2015 pukul 08.30 wita         

-     Hemoglogin : 9,2 gr/dl

-     Protein urin : (++++)

-     Albumin       : negative

 

LANGKAH II IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH AKTUAL

A.   Diagnosa Kebidanan

Ny. “S” umur 23 tahun G1P0A0 usia kehamilan 30 minggu dengan eklampsia

Data Subjektif           :

1.  Keluarga mengatakan ibu mengalami kejang-kejang sejak 30 menit yang lalu

2.  Keluarga  mengatakan ibu berusia 23 Tahun

3.  Keluarga mengatakan bahwa ini kehamilan yang pertama

4.  Kelurga  mengatakan HPHT 06 november 2014

5.  Ibu mengatakan tidak pernah keguguran

Data Objektif                          :          

1.  Keadaan Umum                 : tidak baik

2.  Kesadaran                                      : stupor

3.  Tanda-Tanda Vital :

-     Tekanan D arah                 : 210/120 mmHg

-     Nadi                                  : 120 x/menit

-     Pernafasan                        : 26 x/menit

-     Suhu                                  : 38,60 C

4.  Pemeriksaan fisik

-     kepala dalam posisi  mesochephalus

-     Terdapat odema pada wajah

-     Mata terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar

-     Mulut membuka

5.  Pada pemeriksaan laboratorium terdapat hasil protein urin (++++)

B.   Masalah

        Terjadi serangan kejang tingkat konvulsi (tingkat kejang clonis).

C.   Analisa dan Interpretasi Data

        EKLAMPSIA selalu didahului oleh gejela-gejala preEKLAMPSIA berat yaitu salah satunya kegelisahan dan hyperrefleksi sering mendahului serangan kejang. Salah satu serangan kejang yaitu tingkat konvulsi ditandai dengan terjadinya kejang yang timbul hilang; rahang membuka dan menutup begitu pla mata, otot –otot muka dan otot badan berkontraksi dan berelaksasi berulang. Kejang ini sangat kuat hingga pasien dapat terlempar dari temapt tidur atau lidahnya tergigit. Ludah yang berbuih bercampur darah keluar dari mulutnya, mata merah, muka biru, berangsur kejang berkurang dan akhirnya berhenti. Lamanya ± 1 menit. (obstetric patologi,unpad,1984, hal : 99-100).

LANGKAH III IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL

Dengan adanya tanda-tanda kejang tingkat konvulsi maka dapat berpotensi menjadi coma.

 

LANGKAH IV RENCANA TINDAKAN SEGERA/ KOLABORASI

1.    Mandiri

Membaringkan pasien pada posisi miring kiri.

2.    Kolaborasi

Dengan rekan sejawat (bidan), Pihak transportasi (Ambulance).

3.    Merujuk

Merujuk ke rumah sakit/ fasilitas kesehatan yang lebih memadai

LANGKAH V RENCANA ASUHAN KEBIDANAN / INTERVENSI

Tanggal 14 juni 2014 pukul 08.00 wita

1.     Beritahu keluarga pasien bahwa akan dilakukan tindakan

Rasional : dengan memberitahu keluarga pasien petugas kesehatan dapat bebas dari gugatan jika terjadi sesuatu pada pasien.

2.     Lindungi pasien dari kemungkinan trauma

Rasional  : menghindarkan pasien dari kemungkinan trauma

3.     Beritahu keluarga pasien akan di Pasang infuse

Rasional : dengan memasang infuse dapat memenuhi kebutuhan cairan pasien.

4.     Beritahu keluarga pasien bahwa pasien akan diberikan obat anti kejang

Rasional : dengan pemberian obat anti kejang, kejang dapat mengurangi terjadinya kejang susulan.

5.     Beritahu keluarga pasien bahwa pasien akan dipasangkan oksigen

Rasional : dengan memasng oksigen kebutuhan oksigen pasien terpenuhi.

6.     Baringkan pasien pada sisi kiri

Rasional :  untuk mengurangi resiko aspirasi

7.     Beritahu keluarga pasien bahwa akan di lakukan rujukan

Rasional : dengan dilakukannya rujukan pasien dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan fasilitas lebih lengkap

LANGKAH VI IMPLEMENTASI

Tanggal 14 juni 2015 pukul 08.05 wita

1.    Memberitahu keluarga pasien bahwa akan dilakukan tindakan

Hasil : keluarga menyetujui tindakan yang akan dilakukan

2.    Melindungi pasien dari kemungkianan trauma dengan mengikat pasien tetapi jangan diikat terlalu kuat.

Hasil : Pasien sudah dilindungi dari kemungkinan terjadinya trauma

3.    Memberitahu keluarga psien bahwa akan dipasang infuse RL (Ringer Laktat).

Hasil : Infuse RL (ringer laktat) sudah dipasang pada pasien

4.    Memberitahu keluarga pasien bahwa pasien akan diberikan obat anti kejang berupa MgSO4 dengan syarat pemberian

a.    Frekuensi pernafasan minimal 16x/ menit

b.    Reflex patella positif

c.    Urun minimal 30ml/jam dalam 4 jam terakhir atau 0,5 ml/kgBB/ jam

d.    Menyiapkan ampul Kalsium Glukonas 10%  dam 10 ml

Hasil : Obat anti kejang berupa MgSO4 sudah diberikan kepada pasien.

5.    Memberitahu keluarga pasien akan bahwa pasien akan diberikan oksigen 4-6 liter per menit

Hasil : Oksigen sudah diberikan 4-6 liter per menit.

6.    Membaringkan posisi pasien ke sebelah kiri

Hasli : Pasien sudah dibaringkan ke posisi kiri untuk mengurangi resiko aspirasi.

7.    Memberitahu keluarga pasien akan dilakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi

Hasil : Rujukan sudah dilakukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi

LANGKAH VII EVALUASI

Tanggal 14 Juni 2015 pukul 08.10 wita

1.    Pasien sudah dilindungi dari kemungkinan terjadinya trauma

2.    Infuse RL (ringer laktat) sudah dipasang pada pasien

3.    Obat anti kejang berupa MgSO4 sudah diberikan kepada pasien

4.    Oksigen sudah diberikan 4-6 liter per menit

5.    Pasien sudah dibaringkan ke posisi kiri untuk mengurangi resiko aspirasi

6.    Rujukan sudah dilakukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi

 

                           PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN

                                                                     (SOAP)

 

No. Register                                        : 65789

Masuk BPM Tanggal/ Pukul               :14 Juni 2015 Jam 08.00 WITA

Dirawat diruang                                  : Periksa

Tanggal pengkaji                                 :14 Juni 2015 Jam : 08.00 WITA

Nama pengkaji                                    : Kelompok II

 

IDENTIFIKASI DATA DASAR

Nama                                       : Ny “S”/Tn “K

Umur                                       : 23 Tahun/27 Tahun

Nikah/Lamanya                       : 1 Kali/ ± 1 Tahun

Suku                                        : Jawa/jawa

Agama                                     : Islam

Pendidikan                              : Sma/Sma

Pekerjaan                                 : Irt/Polisi

Alamat                                    : Jl. Soekarno Hatta

 

 

 

DATA SUBJEKIF (S)

1.  Keluarga mengatakan ibu mengalami kejang-kejang sejak 30 menit yang lalu

2.  Keluarga  mengatakan ibu berusia 23 Tahun

3.  Keluarga mengatakan bahwa ini kehamilan yang pertama

4.  Kelurga  mengatakan HPHT 06 november 2014

5.  Ibu mengatakan tidak pernah keguguran

         

DATA OBJEKTIF (O)

1.  Keadaan Umum    : tidak baik

2.  Kesadaran              : stupor

3.  Tanda-Tanda Vital :

-        Tekanan Darah               : 210/120 mmHg

-        Nadi                               : 120 x/menit

-        Pernafasan                     : 26 x/menit

-        Suhu                               : 38,60 C

4.  Pemeriksaan fisik:

-        kepala dalam posisi  mesochephalus

-        Terdapat odema pada wajah

-        Mata terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar

-        Mulut membuka

5.  Pada pemeriksaan laboratorium terdapat hasil protein urin (++++)

 

ASSESMENT (A)

        Ny. “S” umur 23 tahun G1P0A0 usia kehamilan 30 minggu dengan eklampsia.

 

PENATALAKSANAAN (P)

Tanggal 14 juni 2015 pukul 08.05 wita

1.    Memberitahu keluarga pasien bahwa akan dilakukan tindakan

Hasil : keluarga menyetujui tindakan yang akan dilakukan

2.    Melindungi pasien dari kemungkianan trauma dengan mengikat pasien tetapi jangan diikat terlalu kuat.

Hasil : Pasien sudah dilindungi dari kemungkinan terjadinya trauma

3.    Memberitahu keluarga psien bahwa akan dipasang infuse RL (Ringer Laktat).

Hasil : Infuse RL (ringer laktat) sudah dipasang pada pasien

4.    Memberitahu keluarga pasien bahwa pasien akan diberikan obat anti kejang berupa MgSO4 dengan syarat pemberian

a.    Frekuensi pernafasan minimal 16x/ menit

b.    Reflex patella positif

c.    Urun minimal 30ml/jam dalam 4 jam terakhir atau 0,5 ml/kgBB/ jam

d.    Menyiapkan ampul Kalsium Glukonas 10%  dam 10 ml

Hasil : Obat anti kejang berupa MgSO4 sudah diberikan kepada pasien.

5.    Memberitahu keluarga pasien akan bahwa pasien akan diberikan oksigen 4-6 liter per menit

Hasil : Oksigen sudah diberikan 4-6 liter per menit.

6.    Membaringkan posisi pasien ke sebelah kiri

Hasli : Pasien sudah dibaringkan ke posisi kiri untuk mengurangi resiko aspirasi.

7.    Memberitahu keluarga pasien akan dilakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi

Hasil : Rujukan sudah dilakukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL

     Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL 1. Pengertian      Kejang pada bayi baru lahir adalah kejang yang terjadi ...