2.1 Pengertian
Hipertensi, Preeklamsi Dan Eklamsia
Hipertensi adalah masalah medis yang umum ditemui selama
kehamilan. Inilah yang perlu diketahui ibu hamil agar lebih meningkatkan
kesadaran merawat diri. Penyakit Hipertensi Dalam Kehamilan (HDK) adalah salah
satu penyebab kesakitan dan kematian ibu mau pun janin. Kira-kira 15-25%
wanita yang didiagnosis awal dengan hipertensi dalam kehamilan akan mengalami
Pre-Eklamsia Berat (PEB). Sulit memprediksi yang mana akan mengalami PEB.Dr.
Meutia Ria Octaviana, Sp.OG, M.Kes – Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan
dari Primaya Hospital Tangerang menjelaskan bahwa hipertensi dalam
kehamilan adalah penyakit yang harus diwaspadai. Dengan penanganan yang baik,
hipertensi tidak akan berkembang atau membahayakan, dan dapat hilang setelah
kelahiran. Namun jika dibiarkan, hipertensi saat hamil bisa membahayakan.Hipertensi pada
kehamilan apabila tekanan darahnya ≥140/90 mmHg. Dibagi menjadi ringan-sedang
(140 – 159 / 90 – 109 mmHg) dan berat (≥160/110 mmHg) (Malha et al., 2018).
Hipertensi pada kehamilan dapat digolongkan menjadi:
a. pre-eklampsia/
eclampsia
b. hipertensi kronis
pada kehamilan
c. hipertensi kronis
disertai preeklampsia
d.
hipertensi gestational
Preeklamsia
adalah kondisi peningkatan tekanan darah disertai dengan
adanya protein dalam urine. Kondisi ini terjadi setelah usia kehamilan lebih
dari 20 minggu.Preeklamsia
harus diberikan penanganan untuk mencegah komplikasi dan mencegahnya berkembang
menjadi eklamsia yang dapat mengancam nyawa ibu hamil dan janin.
Salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia adalah
ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun atau di bawah 20 tahun.
Eklampsia adalah penyakit akut dengan kejang dan coma pada
wanita hamil dan dalam masa nifas disertai dengan hypertensi oedema dan
proteinuria. (obstetricpatologi,unpad,1984).Eklampsia adalah kelainan akut pada
wanita hamil, dalam persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya
kejang (bukan timbul akibat kelianan neurologik) dan atau koma dimana
sebeblumnya sudah menunjukkan gejala – gejala pre eklampsia.Eklampsia merupakan
kasus akut pada penderita preeclampsia, yang disertai dengan kejang menyeluruh dan
koma.Eklampsia lebih sering terjadi pada primagravidae dari pada multiparae.
Eklampsia juga sering terjadi pada : kehamilan kembar, hydramnion, mola
hidatidosa. Eklampsia post partum umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam
pertama setelah persalinan.
2.2 Etiologi
Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia
Etiologi hipertensi dalam kehamilan beragam, tergantung dari
subtipe hipertensi. Hipertensi kronis yang sekunder dapat disebabkan oleh
beberapa etiologi yakni penyakit parenkimal ginjal (mis. ginjal polikistik),
penyakit vaskular ginjal (mis.stenosi arteri ginjal, displasia fibromuskuler),
gangguan endokrin (mis.kelebihan adrenokortikosteroid atau mineralokortikoid,
feokromositoma, hipertiroidisme atau hipotiroidisme, kelebihan hormon
pertumbuhan, hiperparatiroidisme), koarktasio aorta, atau
penggunaan kontrasepsi oral. Faktor risiko dari
hipertensi dalam kehamilan di antaranya:
·
Riwayat hipertensi pada keluarga
·
Riwayat hipertensi kronis sebelumnya
·
Diabetes
·
Nuliparitas
·
Obesitas
Etiologi Preeklamsia
Penyebab preeklamsia masih
belum diketahui secara pasti. Meski demikian, ada dugaan bahwa kondisi ini
disebabkan oleh kelainan perkembangan dan fungsi plasenta, yaitu organ yang
berfungsi menyalurkan darah dan nutrisi untuk janin.
Kelainan tersebut
menyebabkan pembuluh darah menyempit dan timbulnya reaksi yang berbeda dari
tubuh ibu hamil terhadap perubahan hormon. Akibatnya, timbul gangguan pada ibu
hamil dan janin.
Meskipun penyebabnya belum
diketahui, sejumlah faktor berikut ini dinilai dapat memicu gangguan pada
plasenta:
·
Pernah
atau sedang menderita diabetes, hipertensi, penyakit
ginjal, penyakit
autoimun, dan gangguan
darah
·
Pernah
mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
·
Baru
pertama kali hamil
·
Hamil
lagi setelah jeda 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya
·
Hamil
di usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun
·
Mengandung
lebih lebih dari satu janin
·
Mengalami
obesitas saat hamil, yang ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥30 kg/m2
·
Kehamilan
yang sedang dijalani merupakan hasil metode bayi tabung (in vitro fertilization)
· Ada riwayat preeklamsia dalam keluarga
Diagnosis
Preeklamsia
Dokter akan menanyakan
keluhan dan gejala yang dialami ibu hamil, serta riwayat kesehatan ibu hamil
dan keluarganya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh,
termasuk tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, suhu tubuh,
pembengkakan pada tungkai, kaki, dan tangan, serta kondisi kandungan. Jika
tekanan darah ibu hamil lebih dari 140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan dengan
jeda waktu 4 jam, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang berikut untuk
memastikan diagnosis preeklamsia:
·
Tes urine, untuk mengetahui kadar protein dalam urine
·
Tes darah, untuk memeriksa fungsi hati, ginjal, dan
jumlah trombosit darah
·
Ultrasonografi (USG), untuk melihat pertumbuhan janin
·
USG
Doppler, untuk mengukur efisiensi aliran darah ke plasenta
·
Nonstress test (NST) dengan cardiotocography
atau CTG, untuk mengukur
detak jantung janin saat bergerak di dalam kandungan
Penyebab Eklamsia
Hingga saat ini, penyebab
terjadinya preeklamsia dan eklamsia belum diketahui dengan pasti. Namun, diduga
kondisi ini diakibatkan oleh adanya kelainan pada fungsi dan formasi plasenta.
Faktor-faktor lain yang diduga dapat meningkatkan risiko preeklamsia dan
eklamsia pada ibu hamil adalah:
·
Memiliki
riwayat menderita preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
·
Sedang
menjalani kehamilan pertama atau memiliki jarak antar kehamilan yang terlalu
dekat (kurang dari 2 tahun)
·
Memiliki
riwayat hipertensi kronis atau hipertensi dalam
kehamilan
·
Hamil
pada usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
·
Mengalami
kondisi dan penyakit tertentu, seperti diabetes, penyakit ginjal, anemia sel sabit, obesitas, serta penyakit autoimun, seperti lupus dan sindrom antifosfolipid (APS)
·
Kondisi
tertentu dalam kehamilan, seperti mengandung lebih dari satu janin atau hamil
dengan program bayi tabung (IVF)
Diagnosis Eklamsia
Dalam mendiagnosis
eklamsia, dokter akan menanyakan kepada keluarga yang membawa ibu hamil ke
rumah sakit tentang kejang yang dialami, termasuk riwayat pemeriksaan
kehamilan, penyakit, dan preeklampsia sebelumnya.
Setelah itu, dokter akan
melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh untuk memastikan apakah kondisi ibu
hamil dan janin dalam keadaan stabil.
Untuk memastikan eklampsia
dan kerusakan organ yang sudah terjadi, akan dilakukan pemeriksaan penunjang
berikut:
·
Tes darah, untuk mengetahui jumlah sel darah secara
keseluruhan
·
Tes urin, untuk memeriksa keberadaan dan kadar
protein di urin
·
Tes fungsi hati, untuk mendeteksi kerusakan fungsi hati
·
Tes fungsi ginjal, termasuk ureum dan kreatin, untuk
mengetahui kadar kreatin di ginjal dan mendeteksi adanya kerusakan ginjal
·
Ultrasonografi (USG), untuk memastikan kondisi janin
dalam keadaan sehat
2.1 Tanda
Dan Gejala Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia
Umumnya, hipertensi biasa tidak selalu menunjukkan tanda-tanda dan
gejala tertentu.
Pada kasus hipertensi gestasional, tanda-tanda dan gejala pada setiap
penderita mungkin akan berbeda, tetapi gejala akan muncul saat kehamilan sedang
berlangsung.
Tanda-tanda dan gejala yang
utama tentunya adalah:
·
Tekanan darah tinggi pada saat usia kandungan di
atas 20 minggu
o Tidak ada protein di dalam
urine (proteinuria)
o Pusing
o Berat badan naik secara
tidak wajar
o Penglihatan kabur atau
buram
o Mual dan muntah berlebihan
o Sakit di bagian kanan atas
perut
o Buang air kecil semakin
sedikit
Gejala Preeklamsia
dan Eklamsia
Gejala Preeklampsia biasanya tanda-tanda Preeklampsia
timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema,
hipertensi, dan akhirnya proteinuria.
1) Preeklampsia
ringan :
a) Tekanan darah 140/90 mmHg, atau kenaikan diastolic
15 mmHg atau lebih, atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih setelah 20 minggu
kehamilan dengan riwayat tekanan darah normal.
b) Proteinuria kuantitatif ≥ 0,3 gr perliter atau
kualitatif 1+ atau 2+ pada urine kateter atau midstearm
2) Preeklampsia berat
:
a) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
b) Proteinuria 5 gr atau lebih perliter dalam 24 jam
atau kualitatif 3+ atau 4+.
c) Oligouri, yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc per
24 jam.
d) Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan
rasa nyeri di epigastrium.
e) Terdapat edema paru dan sianosis
f) Trombositopenig (gangguan fungsi hati)
g) Pertumbuhan janin terhambat.
Gejala eklampsia
Pada umumnya kejanga didahului oleh makin memburuknya
Preeklampsia dan terjadinya gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal,
gangguan penglihatan, mual keras, nyeri di epigastrium dan hiperrefleksia. Bila
keadaan ini tidak dikenal dan tidak segera diobati, akan timbul kejangan
terutama pada persalinan bahaya ini besar.
2.2 Komplikasi
Hipertensi, Preeklamsi Dan Eklamsia
Komplikasi
yang terberat adalah kematian ibu dan janin.Komplikasi dibawahini biasanya
terjadi pada Preeklampsia berat dan eklampsia.
a.
Solusio plasenta. Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensiakut
dan lebih sering terjadi pada Preeklampsia.
b.
Hipofibrinogenemia. Pada Preeklampsia berat
c.
Hemolisis. Penderita dengan Preeklampsia berat kadang-kadang menunjukkangejala
klinik hemolisis yang di kenal dengan ikterus.Belum di ketahui dengan pasti
apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darahmerah.
Nekrosis periportal hati sering di temukan pada autopsi penderita eklampsia
dapat menerangkan ikterus tersebut.
d.
Perdarahan otak. Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematianmaternal
penderita eklampsia.
e.
Kelainan mata, Kehilanganpenglihatan untuk sementara, yang
berlansungsampaiseminggu.
f.
Edema paru-paru.
g.
Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada Preeklampsi – eklampsia merupakan
akibat vasopasmus arteriol umum.
h.
Sindrom HELLP yaitu haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet.
i.
Kelainan ginjal
j.
Komplikasi lain. Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh
akibatkejang-kejang pneumonia aspirasi.
k.
Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra – uterin.
2.5.Pencegahan Hipertensi, Preeklamsia Dan
Eklamsia
Mencegah
Hipertensi pada Ibu Hamil
Meski
pada beberapa kondisi hipertensi pada ibu hamil sulit dicegah, ada beberapa
upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko tersebut. Berikut di
antaranya:
1.Ketahui
Tingkat Tekanan Darah sebelum Hamil
Penting
untuk mengetahui berapa tingkat tekanan darah yang dimiliki, sejak sebelum
hamil. Jadi, saat sedang program hamil, sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan
kesehatan, atau sekadar cek tekanan darah. Dengan begitu, kamu bisa tahu kapan
tekanan darah sudah mulai tinggi dan harus berhati-hati.
2.Kurangi
Asupan Garam
Asupan
garam atau natrium yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah. Jika kamu
biasanya menaburkan garam di setiap hidangan, sebaiknya segera hentikan
kebiasaan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan batas aman
konsumsi garam per harinya 1 sendok teh atau 2.400 miligram.
Selain
pada masakan, perhatikan juga kandungan garam pada setiap makanan kemasan dan
olahan. Terutama makanan olahan, yang biasanya sudah mengandung garam atau
natrium dalam jumlah yang besar.
3.Olahraga Rutin
Sejak program hamil, atau jauh sebelumnya,
penting untuk menjadikan olahraga sebagai rutinitas. Jika sudah hamil, tanyakan
kepada dokter tentang bagaimana memulai program olahraga teratur, termasuk apa
saja jenis olahraga yang boleh dilakukan.
Wanita yang tidak banyak bergerak cenderung
menambah berat badan, yang dapat meningkatkan risiko hipertensi selama
kehamilan, juga sebelum dan sesudahnya. Jadi, cobalah untuk mulai menerapkan
gaya hidup sehat dan aktif sebelum memulai kehamilan.
4.Perhatikan
Obat-obatan yang Dikonsumsi
Pastikan kamu tidak minum obat yang dapat
meningkatkan tekanan darah. Sebaiknya selalu tanyakan kepada dokter untuk
mengetahui obat apa yang aman. Pikirkan dua kali untuk menggunakan obat apa pun
kecuali dokter menyarankan. Agar lebih mudah, kamu juga bisa download aplikasi Halodoc untuk
berkonsultasi pada dokter tentang penggunaan
obat.
5.Jalani Pemeriksaan
Prenatal Rutin
Jika tekanan darah mulai meningkat selama
kehamilan, ibu hamil perlu mengetahuinya lebih awal. Pastikan untuk menepati
semua jadwal kontrol kehamilan dan pertimbangkan untuk membeli monitor tekanan
darah rumah untuk memeriksa tekanan darah lebih sering di rumah.
6.Hindari Rokok dan
Alkohol
Tembakau dan alkohol tidak aman untuk janin dan
dapat meningkatkan risiko hipertensi pada ibu hamil. Jadi, pastikan untuk
menghindari dua hal ini selama kehamilan, agar terhindar dari risiko gangguan
kesehatan serius, ya.
Jika kamu sudah memiliki tekanan darah tinggi,
bicarakan dengan dokter tentang penggunaan obat sebelum dan selama kehamilan.
Sangat penting untuk mengendalikan tekanan darah dan stabil sebelum hamil,
karena sembilan bulan kehamilan bukanlah waktu terbaik untuk mencoba obat baru
atau tambahan.
a.
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali
tanda-tanda sedini mungkin (Preeklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan
yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
b.
Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya Preeklampsia kalau ada
faktor-faktor predeposisi.
c.
Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet bergunadalam pencegahan.
Istirahat tidakselalu berarti berbaring ditempat tidur,namun pekerjaan
sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring.
Diet tinggi protein, dan rendah lemak, karbohidrat,garam dan penambahan berat
badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan.
d.
Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tandaPreeklampsia dan mengobatinya segera
apabila di temukan.
e. Mengakhiri
kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah
dirawat tanda – tanda Preeklampsia tidak juga dapat di hilangkan.
CONTOH TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. ”S”UMUR 23 TAHUN
G1P0A0 USIA KEHAMILAN 30 MINGGU DENGAN EKLAMPSIA DI RSUD MAMUJU TANGGAL 14 JUNI
2015
No.
Register
:
65789
Masuk BPM Tanggal/ Pukul :14 Juni 2015 Jam 08.00 WITA
Dirawat
diruang
: Periksa
Tanggal
pengkaji
:14
Juni 2015 Jam : 08.00 WITA
Nama
pengkaji
: -
LANGKAH
I IDENTIFIKASI DATA DASAR
A. Identitas
istri / suami
Nama
: Ny “S”/Tn “K
Umur
: 23 Tahun/27 Tahun
Nikah/Lamanya
: 1 Kali/ ± 1 Tahun
Suku
: Jawa/Jawa
Agama
: Islam
Pendidikan
: Sma/Sma
Pekerjaan
: Irt/Polisi
Alamat
: Jl. Soekarno Hatta
B. Riwayat
Keluhan Utama
Keluarga mengatakan ibu mengalami
kejang-kejang sejak 30 menit yang lalu
C. Riwayat
Menstruasi
Menarche
:15 tahun
Siklus
:28 hari
Lama
:6 hari
Disminorhe
: kadang-kadang
D. Riwayat Obstetri
G1P0A0
|
NO |
Kehamilan |
Persalinan |
nifas |
||||||
|
Tahun |
Umur (mg) |
Jenis persalinan |
Peno-long |
berlangsung |
B B L |
Keadaan Ibu/bayi |
Berlang-sung |
Lama-nya |
|
|
1 |
2015 |
Kehamilan
sekarang |
|||||||
a. HPHT :06
November 2014
b. HTP :13
Agustus 2015
c. umur kehamilan 30
minggu
d. Kunjungan ANC
Trimester I
- Frekuensi :
2 kali
- Keluhan :
mual muntah
- Komplikasi
: tidak ada
- Terapi
: B6 1x1
Trimester II
- Frekuensi
: 2 kali
- Keluhan
: pusing,odema kaki dan tangan
- Komplikasi
: tidak ada
- Terapi
: fe 1x1
Trimester III
- Frekuensi
: 1 kali
- Keluhan
: pusing,odema pada kaki dan
tangan
- Komplikasi
: tidak ada
- Terapi
: fe 1x1
e. Imunisasi TT 2
kali
TT
1
:23 Maret 2015
TT
2
:23 April 2015
f. Pergerakan
janin selama 24 jam (dalam sehari)
Ibu mengatakan pergerakan janin lebih dari 10
kali dalam sehari
F. Riwayat
Kesehatan
1. Ibu tidak mempunyai
riwayat penyakit jantung, paru-paru ginjal, dan diabetes militus (DM
2. Ibu mempunyai
riwayat hipertensi
3. Ibu tidak pernah
dioperasi atau transfuse darah
4. Ibu tidak pernah
merokok dan minum minuman yang beralkohol
5. Ibu tidak ada
alergi obat obatan dan makanan
G. Pola
Pemenuhan Kebutuhan Sehari – hari
a. Pola nutrisi
Makan
Frekuensi : 3-4x/
hari
Porsi
: 1 Piring
Jenis
: Nasi, Sayur, Lauk, Roti
Minum
Frekuensi : 5-6x/
hari
Porsi
: 1 gelas
Jenis
: Air Putih, Susu
b. Pola Eliminasi
BAB
Frekuens : 1x/hari
Konsistensi :
Padat
Warna
: kuning
BAK
Frekuensi : 3-4x
perhari
Konsistensi
: Cair
Warna
: kekuningan dan keruh
c. Pola Istirahat
Tidur
Siang
Lama
: lama ±1 jam (13.00-14.00)
Tidur
Malam
Lama
: lama ±5 jam (24.00-05.00)
d. Personal Hygiene
Mandi
:
2x/hari
Ganti
baju
:
2x/sehari
Gosok Gigi :
2x/sehari
Keramas
:
3x/seminggu
e. Pola Seksualitas
Frekuensi
: 1 x/seminggu
f. Pola
Aktifitas ( terkait kegiatan fisik, olahraga)
1. Ibu mengatakan melakukan
kegiatan sebagai IRT(menyapu, mencuci pakaian, memasak)
2. Kebiasaan yang mengganggu
kesehatan (merokok, minum jamu, minuman beralkohol)
3. Ibu mengtakan tidak
memiliki kebiasaan yang mengganggu kesehatan seperti merokok, minum jamu,
minuman beralkohol.
4. Data Psikososial,
spiritual dan ekonomi ( Penerimaan ibu/ suami/ keluarga terhadap kehamilan,
dukungan keluarga, hubungan dengan suami/keluarga/tetangga, perawatan bayi,
kegiatan ibadah, kegiatan sosial, keadaan ekonomii keluarga)
Ibu
mengatakan senang dengan kehamilannya
Suami
dan keluarga sangat mendukung kehamilannya
Ibu
menjalin silaturahmi dengan tetangga sekitar
Ibu
rajin ibadah sholat 5 waktu
Ibu
mengikuti kegiatan PKK di desanya
Ibu
sudah menabung sedikit demi sedikit untuk biaya persalinan dan kemungkinan
komplikasi
H. Pemeriksaan
Fisik
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan
Umum : tidak baik
b. Kesadaran :
stupor
c. Status
Emosional : tidak stabil
d. Tanda Vital
TekananDarah
: 210/120 mmHg
Nadi
: 120 x/menit
Pernapasan
: 26 x/menit
Suhu
: 38,60C
2. Pemeriksaan
Fisik
a. Kepala :
Mesochephalus, tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa, rambut hitam, lurus
b. Wajah :
terdapat odema, tidak ada bekas luka, ada nya cloasma grapidarum
c. Mata :
terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar
d. Hidung :tidak
ada polip, bersih, tidak ada pernapasan cuping hidung
e. Mulut : mulut
membuka
f. Telinga :
simetris, tidak ada serumen, terdapat lubang telinga
g. Leher : tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid, parotis, limfe dan vena jugularis
h. Dada :
simetris, tidak ada retraksi dinding dada
i. Payudara :
simetris putting susu menonjol hiperpigmentsi areola mamae
j. Abdomen :
adanya odema, adanya linea nigra dan strie gravidarum
k. Palpasi
Leopold
Leopold I : Tfu 3 jari diatas
pusat, teraba bulat, lunak dan tidak melenting (bokong)
Leopold II : Punggung kanan
Leopold III: bagian terendah janin teraba
bulat, (kepala)
Leopold IV: kepala belum masuk
panggul
Osborn Test : tidak dilakukan
Tinggi Fundus Uteri : 28 cm
Lingkar
Perut : 88,5
cm
Tafsiran Berat Janin : 2480 gram
Auskultasi
DJJ : 140x/ menit
l. Ekstremitas
Atas :
terdapat odema, tangan bergetar, jari tangan menggenggam
m. Ekstremitas Bawah : terdapat odema
n. Genetalia
luar : bersih, tidak berbau, tidak ada tanda – tanda infeksi
o. Pemeriksaaan
panggul : tidak
dilakukan
I. Pemeriksaan
Laboraturium
Tanggal 14 juni 2015 pukul 08.30
wita
- Hemoglogin :
9,2 gr/dl
- Protein urin :
(++++)
- Albumin
: negative
LANGKAH
II IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH AKTUAL
A. Diagnosa Kebidanan
Ny. “S” umur 23 tahun G1P0A0 usia kehamilan
30 minggu dengan eklampsia
Data
Subjektif :
1. Keluarga mengatakan ibu
mengalami kejang-kejang sejak 30 menit yang lalu
2. Keluarga mengatakan
ibu berusia 23 Tahun
3. Keluarga mengatakan bahwa ini
kehamilan yang pertama
4. Kelurga mengatakan
HPHT 06 november 2014
5. Ibu mengatakan tidak pernah
keguguran
Data
Objektif
:
1. Keadaan Umum
: tidak baik
2. Kesadaran
:
stupor
3. Tanda-Tanda Vital :
- Tekanan
D arah :
210/120 mmHg
- Nadi
: 120 x/menit
- Pernafasan
: 26 x/menit
- Suhu
: 38,60 C
4. Pemeriksaan fisik
- kepala dalam
posisi mesochephalus
- Terdapat odema
pada wajah
- Mata terbuka
tanpa melihat, kelopak mata bergetar
- Mulut membuka
5. Pada pemeriksaan laboratorium
terdapat hasil protein urin (++++)
B. Masalah
Terjadi serangan kejang tingkat konvulsi (tingkat kejang clonis).
C. Analisa
dan Interpretasi Data
EKLAMPSIA selalu didahului oleh gejela-gejala preEKLAMPSIA berat yaitu salah
satunya kegelisahan dan hyperrefleksi sering mendahului serangan kejang. Salah
satu serangan kejang yaitu tingkat konvulsi ditandai dengan terjadinya kejang
yang timbul hilang; rahang membuka dan menutup begitu pla mata, otot –otot muka
dan otot badan berkontraksi dan berelaksasi berulang. Kejang ini sangat kuat
hingga pasien dapat terlempar dari temapt tidur atau lidahnya tergigit. Ludah
yang berbuih bercampur darah keluar dari mulutnya, mata merah, muka biru,
berangsur kejang berkurang dan akhirnya berhenti. Lamanya ± 1 menit. (obstetric
patologi,unpad,1984, hal : 99-100).
LANGKAH
III IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL
Dengan adanya tanda-tanda kejang tingkat
konvulsi maka dapat berpotensi menjadi coma.
LANGKAH
IV RENCANA TINDAKAN SEGERA/ KOLABORASI
1. Mandiri
Membaringkan pasien pada posisi miring kiri.
2. Kolaborasi
Dengan rekan sejawat (bidan), Pihak
transportasi (Ambulance).
3. Merujuk
Merujuk ke rumah sakit/ fasilitas kesehatan
yang lebih memadai
LANGKAH
V RENCANA ASUHAN KEBIDANAN / INTERVENSI
Tanggal 14 juni 2014 pukul 08.00 wita
1. Beritahu
keluarga pasien bahwa akan dilakukan tindakan
Rasional : dengan memberitahu keluarga pasien
petugas kesehatan dapat bebas dari gugatan jika terjadi sesuatu pada pasien.
2. Lindungi
pasien dari kemungkinan trauma
Rasional : menghindarkan pasien dari
kemungkinan trauma
3. Beritahu
keluarga pasien akan di Pasang infuse
Rasional : dengan memasang infuse dapat
memenuhi kebutuhan cairan pasien.
4. Beritahu
keluarga pasien bahwa pasien akan diberikan obat anti kejang
Rasional : dengan pemberian obat anti kejang,
kejang dapat mengurangi terjadinya kejang susulan.
5. Beritahu
keluarga pasien bahwa pasien akan dipasangkan oksigen
Rasional : dengan memasng oksigen kebutuhan
oksigen pasien terpenuhi.
6. Baringkan
pasien pada sisi kiri
Rasional : untuk mengurangi resiko
aspirasi
7. Beritahu
keluarga pasien bahwa akan di lakukan rujukan
Rasional : dengan dilakukannya rujukan pasien
dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan fasilitas lebih lengkap
LANGKAH
VI IMPLEMENTASI
Tanggal 14 juni 2015 pukul 08.05 wita
1. Memberitahu
keluarga pasien bahwa akan dilakukan tindakan
Hasil : keluarga menyetujui tindakan yang
akan dilakukan
2. Melindungi pasien
dari kemungkianan trauma dengan mengikat pasien tetapi jangan diikat terlalu
kuat.
Hasil : Pasien sudah dilindungi dari
kemungkinan terjadinya trauma
3. Memberitahu
keluarga psien bahwa akan dipasang infuse RL (Ringer Laktat).
Hasil : Infuse RL (ringer laktat) sudah
dipasang pada pasien
4. Memberitahu
keluarga pasien bahwa pasien akan diberikan obat anti kejang berupa MgSO4
dengan syarat pemberian
a. Frekuensi
pernafasan minimal 16x/ menit
b. Reflex patella
positif
c. Urun minimal
30ml/jam dalam 4 jam terakhir atau 0,5 ml/kgBB/ jam
d. Menyiapkan ampul
Kalsium Glukonas 10% dam 10 ml
Hasil : Obat anti kejang berupa MgSO4 sudah
diberikan kepada pasien.
5. Memberitahu keluarga
pasien akan bahwa pasien akan diberikan oksigen 4-6 liter per menit
Hasil : Oksigen sudah diberikan 4-6 liter per
menit.
6. Membaringkan posisi
pasien ke sebelah kiri
Hasli : Pasien sudah dibaringkan ke posisi
kiri untuk mengurangi resiko aspirasi.
7. Memberitahu
keluarga pasien akan dilakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang
lebih tinggi
Hasil : Rujukan sudah dilakukan ke fasilitas
kesehatan yang lebih tinggi
LANGKAH
VII EVALUASI
Tanggal 14 Juni 2015 pukul 08.10 wita
1. Pasien sudah
dilindungi dari kemungkinan terjadinya trauma
2. Infuse RL (ringer
laktat) sudah dipasang pada pasien
3. Obat anti kejang
berupa MgSO4 sudah diberikan kepada pasien
4. Oksigen sudah
diberikan 4-6 liter per menit
5. Pasien sudah
dibaringkan ke posisi kiri untuk mengurangi resiko aspirasi
6. Rujukan sudah
dilakukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi
PENDOKUMENTASIAN
HASIL ASUHAN KEBIDANAN
(SOAP)
No.
Register
: 65789
Masuk BPM Tanggal/ Pukul :14 Juni 2015 Jam 08.00 WITA
Dirawat
diruang
: Periksa
Tanggal pengkaji :14 Juni 2015 Jam : 08.00 WITA
Nama
pengkaji
: Kelompok II
IDENTIFIKASI
DATA DASAR
Nama
: Ny “S”/Tn “K
Umur
: 23 Tahun/27 Tahun
Nikah/Lamanya
: 1 Kali/ ± 1 Tahun
Suku
: Jawa/jawa
Agama
: Islam
Pendidikan
: Sma/Sma
Pekerjaan
: Irt/Polisi
Alamat
: Jl. Soekarno Hatta
DATA
SUBJEKIF (S)
1. Keluarga mengatakan ibu
mengalami kejang-kejang sejak 30 menit yang lalu
2. Keluarga mengatakan
ibu berusia 23 Tahun
3. Keluarga mengatakan bahwa ini
kehamilan yang pertama
4. Kelurga mengatakan
HPHT 06 november 2014
5. Ibu mengatakan tidak pernah
keguguran
DATA
OBJEKTIF (O)
1. Keadaan Umum :
tidak baik
2. Kesadaran
: stupor
3. Tanda-Tanda Vital :
- Tekanan
Darah :
210/120 mmHg
- Nadi
: 120 x/menit
- Pernafasan
:
26 x/menit
- Suhu
: 38,60 C
4. Pemeriksaan fisik:
- kepala
dalam posisi mesochephalus
- Terdapat
odema pada wajah
- Mata
terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar
- Mulut membuka
5. Pada pemeriksaan laboratorium
terdapat hasil protein urin (++++)
ASSESMENT
(A)
Ny. “S” umur 23 tahun G1P0A0 usia kehamilan 30 minggu dengan eklampsia.
PENATALAKSANAAN
(P)
Tanggal 14 juni 2015 pukul 08.05 wita
1. Memberitahu
keluarga pasien bahwa akan dilakukan tindakan
Hasil : keluarga menyetujui tindakan yang
akan dilakukan
2. Melindungi pasien
dari kemungkianan trauma dengan mengikat pasien tetapi jangan diikat terlalu
kuat.
Hasil : Pasien sudah dilindungi dari
kemungkinan terjadinya trauma
3. Memberitahu
keluarga psien bahwa akan dipasang infuse RL (Ringer Laktat).
Hasil : Infuse RL (ringer laktat) sudah
dipasang pada pasien
4. Memberitahu
keluarga pasien bahwa pasien akan diberikan obat anti kejang berupa MgSO4
dengan syarat pemberian
a. Frekuensi
pernafasan minimal 16x/ menit
b. Reflex patella
positif
c. Urun minimal
30ml/jam dalam 4 jam terakhir atau 0,5 ml/kgBB/ jam
d. Menyiapkan ampul Kalsium
Glukonas 10% dam 10 ml
Hasil : Obat anti kejang berupa MgSO4 sudah
diberikan kepada pasien.
5. Memberitahu
keluarga pasien akan bahwa pasien akan diberikan oksigen 4-6 liter per menit
Hasil : Oksigen sudah diberikan 4-6 liter per
menit.
6. Membaringkan posisi
pasien ke sebelah kiri
Hasli : Pasien sudah dibaringkan ke posisi
kiri untuk mengurangi resiko aspirasi.
7. Memberitahu
keluarga pasien akan dilakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang
lebih tinggi
Hasil : Rujukan sudah dilakukan ke fasilitas
kesehatan yang lebih tinggi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar