Jumat, 27 Agustus 2021

Deteksi dini Post partum blues, psikosis post partum dan depresi postpartum

 

 2.1 POSTPARTUM BLUES

1. Pengertian Post partum blues

Post partum blues adalah gangguan suasana hati yang bersifat sementara, terjadi pada ibu

pasca bersalin yang disebabkan oleh perubahan fisik dan perubahan emosional (Damayanti,

2014: 73). Post partum blues adalah perasaan sedih dan depresi segera setelah persalinan dengan

gejala dimulai dua atau tiga hari pasca persalinan dan akan hilang dalam waktu satu atau dua

minggu. Gejala post partum blues akan memuncak antara hari ke-tiga hingga ke-lima pasca

persalinan dan akan membaik pada 2 minggu post partum. Apabila gejala ini berlanjut lebih dari

dua minggu, maka dapat menjadi tanda terjadinya gangguan depresi yang lebih berat, ataupun

psikosis post partum dan tidak boleh diabaikan (Rukiyah, 2018: 57).

Berdasarkan pengertian post partum blues diatas, dapat disimpulkan bahwa post partum

blues adalah keadaan depresi ringan pasca bersalin yang bersifat sementara yang akan dimulai

sejak hari kedua dan mencapai puncaknya pada hari ke-3 sampai ke-5, berangsur membaik

setelah 2 minggu post partum.


2. Gejala-Gejala Post partum blues

Gejala post partum blues mencapai puncaknya pada hari ke-3 sampai hari ke-5 yang

disertai dengan merasa sedih, mudah tersinggung, gangguan pada nafsu makan dan tidur. Gejala

post partum blues menurut Suherni (2009: 91):

a. Reaksi sedih/depresi/gelisah.

b. Sering menangis.

c. Mudah tersinggung.

d. Cemas.

e. Cenderung menyalahkan diri sendiri.

f. Gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.

g. Kelelahan.

h. Mudah sedih.

i. Cepat marah.

j. Mood mudah berubah, cepat merasa sedih dan cepat merasa gembira.

k. Perasaan terjebak, marah terhadap pasangan dan bayinya.

l. Perasaan bersalah.


3. Penanganan post partum blues

Penanganan gangguan mental post partum pada prinsipnya tidak berbeda dengan

penanganan gangguan mental lainnya. Ibu dengan post partum blues membutuhkan dukungan

psikologis terutama dari pihak terdekat. Hal yang dibutuhkan oleh ibu dengan keadaan post

partum blues adalah kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan situasi yang

menakutkan serta waktu istirahat yang cukup. Para ahli obstetri memegang peranan penting

untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin

dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut, bahkan merujuk

para ahli psikologi atau konselor bila memang diperlukan. Pendekatan menyeluruh atau holistik

dalam penanganan para ibu yang mengalami post partum blues sangat dibutuhkan. Pengobatan

medis, konseling emosional, bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang

pengalaman dan harapan-harapan mereka pada saat-saat tertentu. Secara garis besar dapat

dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di tingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan

psikologis secara bersama-sama, dengan melibatkan lingkungannya, yaitu: suami, keluarga dan

juga teman dekatnya (Rukiyah, 2010: 378).


4. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Post Partum Blues

Faktor penyebab post partum blues pada umumnya tidak berdiri sendiri sehingga faktor

penyebab post partum blues merupakan hasil suatu mekanisme multi faktorial. Beberapa faktor

penyebab post partum blues menurut Sutanto (2018: 25) diantaranya:


1. Faktor Hormonal Setelah melahirkan, kadar hormon kortisol (hormon pemicu stress)

meningkat. Pada waktu yang bersamaan kadar estrogen turun secara tajam. Estrogen memiliki

efek supresi aktivitas enzim non-adrenalin maupun serotonin yang berperan dalam suasana hati

dan kejadian depresi.

2. Faktor aktifitas fisik Kelelahan fisik karna aktifitas mengasuh bayi, menyusui,

memandikan, mengganti popok, dan menimang sepanjang hari menguras energi yang besar. Hal

ini diperparah dengan ketidaknyamanan fisik seperti rasa sakit akibat luka jahit atau bengkak

pada payudara yang dialami sehingga menimbulkan rasa emosi pada wanita pasca melahirkan.

Fisik yang lelah dan kondisi psikis yang belum dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut

menjadi salah satu pemicu gangguan psikologi.

3. Faktor demografi Faktor demografi meliputi usia (terlalu muda atau terlalu tua) dan

paritas.

a. Usia Usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau

makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Usia yang dianggap paling aman bagi seorang

wanita untuk menjalani kehamilan dan persalinan adalah pada usia 20-35 tahun. Usia yang

terlalu muda dapat memengaruhi tingkat kestabilan emosi ibu. Ibu dengan usia kurang dari 20

tahun seringkali mengalami kesulitan beradaptasi sehingga masih membutuhkan pertolongan

sekitar dalam merawat bayi. Ibu dengan usia lebih dari 35 tahun, memiliki resiko kelelahan yang

tinggi sebab keadaan anatomi tubuh yang tidak baik lagi untuk hamil dan bersalin. Kelelahan

dapat berdampak pada faktor psikologi ibu sehingga memengaruhi terjadinya post partum blues

(Kurniasari, 2014: 7).

b. Paritas Paritas merupakan jumlah kehamilan yang menghasilkan jumlah janin hidup,

bukan janin yang dilahirkan, janin yang lahir hidup atau mati setelah viabilitas (28 minggu/lebih)

dicapai, tidak mempengaruhi paritas (Bobak, 2005: 104). Paritas dibagi menjadi 3 yaitu wanita

yang telah melahirkan bayi aterm sebanyak satu kali disebut primipara, multipara yaitu wanita

yang telah melahirkan anak hidup beberapa kali, dimana persalinan tersebut tidak lebih dari lima

kali, grandemultipara yaitu wanita yang telah melahirkan janin aterm lebih dari empat kali

(Manuaba, 2010: 166). Faktor paritas diduga riwayat obstetri dan komplikasi yang meliputi

riwayat hamil sampai melahirkan sebelumnya yang juga berpengaruh buruk pada ibu pasca

bersalin sehingga memicu timbulnya postpartum blues. Kehamilan secara tradisional dipandang

sebagai krisis emosi oleh beberapa ahli psikologi. Kondisi yang dialami wanita pada saat

pertama kali mengalami kehamilan merupakan kondisi yang baru dihadapi sehingga tidak jarang

dapat menimbulkan stres. Perubahan yang terjadi selama kehamilan khususnya peningkatan

hormon dapat menimbulkan tingkat kecematan yang semakin berarti (Hanifah, 2017: 20). Ibu

dengan jarak usia melahirkan terlalu dekat dapat memicu terjadinya Sibling Rivalry. Kebutuhan

dasar anak sebelumnya yang masih membutuhkan perhatian dari orang tua serta kelahiran anak

berikutnya yang membutuhkan perhatian lebih besar dapat menimbulkan stress pada ibu

sehingga memicu terjadinya post partum blues (Sutanto, 2018: 26).


4. Faktor psikososial Latar belakang psikososial wanita yang dipengaruhi beberapa

hal, yaitu:

a. Sosial ekonomi Beberapa kajian telah menunjukkan bahwa beberapa kelompok

masyarakat pada umumnya mendefinisikan status sosial ekonomi berdasarkan 3 faktor utama,

yaitu: pekerjaan, pendidikan, pendapatan (Baldrige dalam Alifah, 2016: 13).

b. Status Kehamilan Pasangan akan merasa sangat bahagia bila kehamilan istri

merupakan hal yang sangat dinantikan. Hal ini akan berbanding terbalik jika keberadaan janin

merupakan kehamilan yang tidak diinginkan. Kehamilan yang tidak diinginkan (Unwanted

Pregnancy) merupakan istilah yang digunakan di kalangan medis untuk memberikan istilah

adanya kehamilan yang tidak dikehendaki oleh wanita maupun lingkungannya.

c. Latar belakang psikologis Stress yang dialami wanita itu sendiri. Misalnya, belum

bisa menyusui bayinya atau rasa bosan terhadap rutinitas baru. Rasa memiliki yang terlalu dalam

sehingga takut yang berlebihan akan kehilangan bayinya.

d. Dukungan suami. Dukungan adalah bentuk motivasi serta bantuan yang nyata yang

diberikan oleh orang terdekat baik suami maupun lingkungan sosial. Pasca beberapa hari

melahirkan, ibu akan merasa kelelahan dalam menghadapi perubahan peran serta bertambahnya

anggota keluarga. Dukungan dari lingkungan, terutama suami memiliki peran penting dalam

proses adaptasi pasca bersalin. Dukungan yang dibutuhkan adalah dukungan fisik dan moril,

seperti bantuan dalam membantu pekerjaan rumah tangga, membantu mengurus bayi serta

mendengarkan keluh kesah ibu (Suherni, 2009: 94).



2.2 PSIKOSIS POSTPARTUM

1. Pengertian

Psikosis postpartum adalah penyakit mental serius yang kerap dialami ibu dalam beberapa hari

atau minggu usai persalinan. Masalah mental yang satu ini dapat berkembang secara tiba-tiba

bahkan hanya dalam beberapa jam sekali pun ibu belum pernah mengalami penyakit mental.


2. Gejala

gejala psikosis postpartum berikut:

 Mendengar suara dan melihat hal-hal yang tidak ada (halusinasi)

 Perubahan mood yang ekstrim (mood swings)

 Berperilaku manik (mood manic), misalnya bicara atau berpikir terlalu banyak dan cepat,

merasa terlalu senang, dan lainnya

 Merasa bingung, curiga, dan takut

 Berkhayal atau percaya pada hal yang tidak benar dan tidak logis (delusi)

 Menunjukkan tanda depresi, menarik diri dari lingkungan, dan gampang menangis

 Kurang berenergi, kehilangan nafsu makan, gelisah, dan sulit tidur

 Menjadi sangat agresif atau kasar

 Merasa paranoid

 Sulit berkonsentrasi

 Memperlakukan bayi dengan cara yang tidak tepat

 Berencana untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi


3. Penyebab

Ada beberapa hal yang diduga menjadi penyebab Mama bisa mengalami postpartum psikosis, di

antaranya adalah:

 Perubahan hormonal yang cepat pasca melahirkan

 Stres fisik yang ekstrim pasca melahirkan, terutama jika Mama memiliki kondisi medis

lainnya

 Predisposisi genetik – perempuan dengan riwayat keluarga yang pernah mengalami

postpartum psikosis atau gangguan bipolar memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami

postpartum psikosis pasca melahirkan

 Kurang tidur dalam skala ekstrem pada periode awal setelah kelahiran bayi


4. Pencegahan

Pencegahan psikosis pascamelahirkan bisa dilakukan dengan konsultasi dan perawatan

yang tepat dari dokter selama kehamilan bila Anda berisiko mengalami masalah ini. Bahkan,

konsultasi dan perawatan bisa dilakukan saat Anda sedang merencanakan atau sebelum

kehamilan. Tak lupa, setelah melahirkan sebaiknya tetap rutin memeriksakan diri ke dokter guna

mendeteksi dan menangani sejak dini bila ada kemungkinan Anda memiliki masalah mental.


2.3 POSTPARTUM DEPRESSION


1. Pengertian

Depresi postpartum atau postpartum depression adalah depresi yang terjadi setelah

melahirkan. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia di otak dan dialami oleh 10% ibu

yang melahirkan. Postpartum depression membuat penderita merasa putus harapan, merasa tidak

menjadi ibu yang baik, sampai tidak mau mengurus anak.

Postpartum depression bukan hanya dialami oleh ibu, tetapi juga bisa dialami oleh ayah.

Postpartum depression pada ayah paling sering terjadi 3-6 bulan setelah bayi lahir. Seorang ayah

lebih rentan terkena postpartum depression ketika istrinya juga menderita kondisi tersebut.


2. Gejala

Gejala postpartum depression atau postnatal depression bisa terjadi pada awal kehamilan,

beberapa minggu sesudah melahirkan, atau hingga setahun sesudah bayi lahir. Ketika mengalami

postpartum depression, seseorang akan mengalami gejala-gejala berikut:

 Merasa cepat lelah atau tidak bertenaga.

 Mudah tersinggung dan marah.

 Menangis terus-menerus.

 Merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.

 Mengalami perubahan suasana hati yang drastis.

 Kehilangan nafsu makan atau justru makan lebih banyak dari biasanya.

 Tidak dapat tidur (insomnia) atau tidur terlalu lama.

 Sulit berpikiran jernih, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan.

 Tidak ingin bersosialisasi dengan teman dan keluarga.

 Kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasa disukainya.

 Putus asa.

 Berpikir untuk melukai dirinya sendiri atau bayinya.

 Munculnya pikiran tentang kematian dan ingin bunuh diri.


3. Penyebab

Postpartum depression tidak disebabkan oleh satu faktor penyebab saja. Biasanya kondisi

ini disebabkan oleh kombinasi faktor fisik dan emosional.

Setelah melahirkan, kadar hormon estrogen dan progesteron di dalam tubuh ibu akan turun

drastis. Hal ini menyebabkan perubahan kimia di otak yang memicu terjadinya perubahan

suasana hati.

Ditambah lagi, kegiatan mengasuh bayi dapat membuat ibu tidak dapat beristirahat dengan

cukup untuk memulihkan dirinya setelah melahirkan. Kurangnya istirahat dapat menimbulkan

kelelahan, baik secara fisik maupun emosional, hingga akhirnya memicu depresi

pascamelahirkan.

Tidak hanya itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami

depresi postpartum, di antaranya:

 Pernah menderita depresi sebelum atau selama

 Menderita gangguan bipolar.

 Ada anggota keluarga yang menderita depresi.

 Menyalahgunakan NAPZA.

 Kesulitan menyusui anak.

 Hamil di usia muda dan memiliki banyak anak.

Di samping itu, risiko terjadinya depresi pascapersalinan juga akan meningkat jika ibu yang baru

melahirkan mengalami kejadian yang membuat stres, misalnya baru kehilangan pekerjaan,

mengalami masalah finansial, terlibat konflik dalam keluarga, menderita komplikasi kehamilan,

melahirkan bayi kembar, atau bayi yang dilahirkan menderita penyakit tertentu.


4. Kompikasi

Komplikasi akibat postpartum depression dapat dialami oleh ayah, ibu, dan anak. Komplikasi ini

dapat menimbulkan masalah di dalam keluarga.

 Komplikasi pada ibu Depresi postpartum yang tidak tertangani dan berlangsung lama

dapat berkembang menjadi gangguan depresif kronis. Kondisi ini dapat meningkatkan

risiko terjadinya depresi berat di kemudian hari.

 Komplikasi pada anak Anak-anak dari ibu penderita depresi setelah melahirkan lebih

berisiko mengalami gangguan perilaku dan masalah emosional. Akibatnya, anak tidak

mau makan, menangis terus menerus, dan kemampuan bicaranya terhambat.

 Komplikasi pada ayah Saat ibu mengalami depresi, ayah juga memiliki kemungkinan

yang tinggi untuk mengalami depresi postpartum.


5. Pencegahan

Postpartum depression tidak dapat dicegah, namun dapat dideteksi lebih dini. Dengan

kontrol rutin pascamelahirkan, dokter dapat memonitor kondisi ibu, terutama jika sebelumnya

ibu pernah menderita depresi atau postpartum depression.

Jika diperlukan, dokter dapat meminta ibu menjalani konseling bahkan mengonsumsi

obat antidepresan untuk mencegah terjadinya postpartum depression, baik pada saat hamil

maupun setelah melahirkan.

Yang tidak kalah penting, ibu perlu menjalin komunikasi yang baik, menyelesaikan masalah,

atau berdamai dengan pasangan, keluarga, dan teman jika memiliki masalah.

Kamis, 26 Agustus 2021

ABNORMALITAS PAYUDARA

 

ABNORMALITAS PAYUDARA

Bendungan ASI

1.      Pengertian

BendunganASI alias breast engorgement adalah pembengkakan payudara yang menyebabkan payudara terasa nyeri dan keras. Bendungan ASI terjadi terutama karena adanya peningkatan aliran darah dan suplai ASI di payudara. Biasanya kondisi ini dialami pada hari-hari pertama setelah melahirkan

 

2.      Beberapa tanda bendungan ASI di antaranya:

ü  Payudara bengkak dan teraba kencang Seperti disebutkan sebelumnya, bendungan ASI terjadi ketika ada peningkatan aliran darah dan suplai ASI di payudara. Akibatnya, payudara pun akan menjadi keras dan teraba kencang. Ini terjadi karena Mama tidak mengeluarkan ASI secara teratur atau tidak sesuai jadwal, sehingga produksi ASI yang terus terjadi membuatnya berlimpah dan terbendung di dalam payudara

ü  Payudara terasa hangat saat disentuh Bengkak yang terjadi di area payudara juga menimbulkan gejala mastitis, yakni peradangan payudara. Akibatnya, payudara juga terlihat memiliki gejala yang muncul teraba hangat dan terlihat sedikit memerah. Kadangkadang jika kondisinya sudah cukup parah, pembuluh darah di dalam payudara juga bisa terlihat jelas

ü  Puting menjadi Datar. Saat payudara bengkak dan menjadi lebih besar, puting Mama kadangkadang akan menjadi tampak lebih datar. Selain itu, area gelap di sekitar puting yakni aerola juga akan menjadi lebih membengkak. Bayi pun akan menjadi lebih sulit untuk menyusu langsung.

3.      Berikut cara mengatasi bendungan ASI

a.       Menyusui bayi dengan posisi dan perlekatan yang benar.

b.      Menyusui bayi tanpa jadwal atau on demand

c.       ASI dengan tangan/pompa bila produksi melebihi kebutuhan bayi.

d.      Tidak memberikan minuman lain pada bayi.

e.       Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara lebih lembek, sehingga lebih mudah memasukkannya ke dalam mulut bayi.

f.       Bila bayi belum dapat menyusu, ASI dikeluarkan dengan tangan atau pompa dan diberikan pada bayi dengan cangkir/sendok.

g.      Kompres dingin untuk mengurangi statis pembuluh darah vena dan mengurangi rasa nyeri. bisa dilakukan selang-seling dengan kompres panas untuk melancarkan pembuluh darah.

h.      Bila ibu demam dapat diberikan obat penurun demam dan pengurang sakit.

i.        Lakukan pemijatan pada daerah payudara yang bengkak, bermanfaat untuk membantu memperlancar pengeluaran asi.

j.        Makan-makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan perbanyak minum.

k.      Gunakan Bra yang menyangga/menyokong/menopang payudara. Kondisi rileks sangat dibutuhkan bagi ibu yang menyusui sehingga ASI tetap lancar produksinya.

 

Mastitis

1.      Pengertian

Mastitis adalah infeksi peradangan pada mamma, terutama pada primipara yang biasanya disebabkan oleh staphylococcus aureus, infeksi terjadi melalui luka pada putting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darahBila tidak segera ditangani menyebabkan Abses Payudara (pengumpulan nanah lokal di dalam payudara)merupakan komplikasi berat dari mastitis

 

Dibedakan berdasar tempat serta penyebab dan kondisinya:

·         Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae

·         Mastitis di tengah-tengah mammae yang menyebabkan abses di tempat itu

·         Mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dan otot-otot di bawahnya.

 

Untuk menentukan adanya kegawatdaruratan ibu nifas dengan mastitis, dapat diilhat dari tanda dan gejala yang muncul, biasanya terjadinya akhir minggu pertama pasca partum. Hal ini berkaitan erat dengan produksi dari ASI yang dihasilkan oleh kelenjar acinin yang dalam alveoli dan tidak dapat dipancarkan keluar.

Dengan demikian Anda akan medapatlan tanda gejala kegawatdaruratan ibu nifas dengan mastitis seperti dibawah ini :

§  Adanya nyeri ringan sampai berat

§  Payudara nampak besar dan memerah

§  Badan terasa demam seperti hendak flu, nyeri otot, sakit kepala, keletihan

 

1.      Tanda dan gejala abses meliputi hal – hal berikut :

§  Discharge putting susu purulenta

§  Demam remiten ( suhu naik turun ) disertai mengigil

§  Pengobatan simtomatik

§  Diterapi dengan anlgesik (mis: Ibuprofen, Pembengkakkan payudara dan sangat nyeri, massa besar dan keras dengan area kulit berwarna berfluktasi kemerahan dan kebiruan mengindikasikan lokasi abses berisi pus

§  Peningkatan suhu yang cepat dari (39,5°C sampai 40°C)

§  Peningkatan kecepatan nadi

§  Menggigil

§  Malaise umum, sakit kepala

2.      Penatalaksanaan mastitis

§  Dimulai dengan memperbaiki teknik menyusui ibu untuk aliran ASI yang baikdengan lebih sering menyusui dimulai dari payudara yang bermasalah.

§  Bila ibu merasa sangat nyeri, menyusui dimulai dari sisi payudara yang sehat, kemudian sesegera mungkin dipindahkan ke payudara bermasalah, bila sebagian ASI telah menetes (let down) dan nyeri sudah berkurang.

§  Posisikan bayi pada payudara, dagu atau ujung hidung berada pada tempat yang mengalami sumbatan agar membantu mengalirkan ASI dari daerah tersebut.

§  Ibu yang tidak mampu melanjutkan menyusui harus memerah ASI dari payudara dengan tangan atau pompa.

§  Pijatan payudara yang dilakukan dengan jari-jari yang dilumuri minyak atau krim selama proses menyusui dari daerah sumbatan ke arah puting juga dapat membantu melancarkan aliran ASI.

§  Konseling suportif

§  Memberikan dukungan,bimbingan.keyakinan kembali tentang menyusui yang aman untuk diteruskan, bahwa ASI dari payudara yang terkena tidak akan membahayakan bayi, serta payudara akan pulih bentuk maupun fungsinya

§  Pengeluaran ASI yang efektif

§  Bantu ibu perbaiki kenyutan bayi pada payudara

§  Dorong untuk sering menyusui selama bayi menghendaki serat tanpa batasan

§  Bila perlu peras ASI dengan tangan atau pompa atau botol panas sampai menyusui dapat dimulai lagi

§  Terapi antibiotika, diindikasikan pada:

§  Hitung sel dan koloni bakteri dan biakan yang ada serta menunjukkan infeksi

§  Gejala berat sejak awal

§  Terlihat putting pecah-pecah

§  Parasetamol)

§  Istirahat atau tirah baring dengan bayinya

§  Penggunaan kompres hangat pada payudara

§  Yakinkan ibu untuk cukup cairan

§  Pendekatan terapeutik lain (misalnya penyinggiran pus, tindakan diit,pengobatan herbal, menggunakan daun kol untuk kompres dingin.


 

      Abses Payudara

1.      Pengertian

Terdapat benjolan yang membengkak yang sangat nyeri dengan kemerahan,panas,edema kulit diatasnya.Bila tidak segara ditangani benjolan akan akan menjadi berfluktuasi dengan perubahan warna kulit dan nekrosi Bisul payudara atau abses payudara adalah benjolan pada payudara yang berisi nanah. Abses payudara biasanya disebabkan oleh infeksi. Penyakit ini sering dialami oleh ibu menyusui.

2.      Penyebab Abses Payudara

Peradangan jaringan payudara (mastitis) yang tidak segera diobati atau yang disebabkan oleh sumbatan di kelenjar payudara, merupakan penyebab utama berkumpulnya nanah (abses) di payudara. Infeksi payudara dapat terjadi karena beberapa hal. Salah satunya adalah masuknya bakteri dari mulut bayi ke saluran susu melalui retakan di puting. Meski lebih sering terjadi pada ibu menyusui, wanita yang tidak menyusui dan sebagian kecil pria juga dapat mengalami abses payudara.

3.      Gejala yang dialami

Gejala yang dialami oleh penderita abses payudara dapat berbeda-beda tergantung pada tingkat keparahannya. Jika menderita abses payudara, seseorang dapat mengalami gejala berupa:

a)      a Payudara terlihat kemerahan, bengkak, dan terasa

b)      b Jika diraba, ada gumpalan yang tidak menghilang setelah menyusui.

c)      c Keluar nanah dari puting.

d)     d Payudara terasa sakit berkelanjutan sampai mengganggu aktivitas.

e)      e Nyeri payudara menyebabkan ibu tidak dapat menyusui anaknya.

f)       f Demam selama lebih dari 3 hari dan tidak membaik walaupun sudah diobati.

4.      Komplikasi Abses Payudara

Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat abses payudara, di antaranya:

  • Infeksi payudara berulan.
  • Timbulnya bekas luka atau jaringan parut.
  • Ukuran payudara menyusut sehingga terlihat tidak seimbang.
  • Abses payudara yang berkepajangan (kronis).
  • Penyebaran infeksi ke area tubuh lainnya.
  • Munculnya saluran tidak normal pada payudara.
  • Kelainan saluran getah bening yang membuat pembengkakan pada lengan (limfedema)

  

5.      Pencegahan Abses Payudara

Mastitis merupakan salah satu penyebab abses payudara. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan ibu menyusui untuk mencegah mastitis, di antaranya:

  • Selalu mencuci tangan sebelum menyusui, untuk menghindari kemungkinan penyebaran bakteri.
  • Menyusui anak dengan posisi yang pas, serta memastikan puting dan bagian kecoklatan di sekitarnya (areola) menempel sempurna dengan mulut anak.
  • Menyusui dengan kedua payudara secara bergantian dan tidak menggunakan posisi menyusui yang sama terus-menerus.
  • Menyusui secara rutin. Hindari jeda yang lama di antara waktu menyusui.
  • Mengenakan bra yang ukurannya pas dan tidak mengenakan pakaian yang ketat.
  • Tidak menggunakan krim dan obat oles di puting susu.
  • Tidak menggunakan bantalan puting susu dalam jangka panjang.
  • Minum banyak air untuk menghindari dehidrasi.

Selain itu, rutin lakukan SADARI dan SADANIS untuk mendeteksi adanya kelainan pada payudara Anda secara lebih dini.

 

 

Deteksi dini Abnormalitas Rahim (Subinvolutio Uteri, Perdarahan kala nifas sekunder dan Infeksi nifas)

 

                  Abnormalitas Rahim

A.Subinvolutio Uteri

Pengertian

Subinvolusi uterus adalah suatu kondisi medis di mana setelah melahirkan, rahim tidak kembali

ke ukuran normal. Involusi merupakan proses kembalinya suatu organ ke ukuran semula.

Subinvolusi adalah kegagalan perubahan fisiologis pada sistem reproduksi pada masa nifas yang

terjadi pada setiap organ dan saluran yang reprodukif untuk kembali ke keadaan tidak hamil.

Uterus (rahim) adalah organ yang paling umum mengalami subinvolusi. Subinvolusi uterus

adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal involusi uterus atau proses involusi yang

tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilan uterus terhambat. Karena

rahim merupakan organ yang paling mudah diakses untuk diukur, penilaian involusi uterus

perlu dilakukan dalam menilai subinvolusi.

a.Faktor Penyebab:


o Faktor predisposisi

o Infeksi

o Multiparitas

o Peregangan berlebihan pada rahim seperti pada kehamilan kembar dan

hidramnion

o Masalah kesehatan ibu

o Operasi sesar

o Prolaps uteri

o Retroversi (kelainan bentuk) setelah uterus kembali menjadi organ panggul

o Fibroid uterus


b.Faktor yang memberatkan

Tertahannya hasil konsepsi

Sepsis uterus, endometritis


c.Faktor-faktor lainnya

o Lokia yang menetap/perdarahan segar

o Persalinan lama

o anestesi

o kandung kemih penuh

o kelahiran yang sulit

o retensio plasenta

o ibu infeksi


2.Gejala

Kondisi ini dapat bersifat asimtomatik. Gejala-gejala utama di antaranya adalah:

 Keluarnya lokia abnormal yang berlebihan atau berkepanjangan

 Perdarahan uterus yang tidak teratur atau berlebihan

 Kram nyeri yang irreguler pada kasus-kasus tertahannya hasil konsepsi atau

kenaikan suhu pada sepsis


3.Tanda-tanda

1. Tinggi uterus adalah lebih besar dari normal pada hari-hari tertentu dari masa nifas. Uterus

saat nifas normal dapat tergantikan oleh kandung kemih penuh atau rektum yang terisi penuh.

Rasanya berlumpur dan lembut pada palpasi.

2. Adanya tanda khas yang membuat subinvolusi semakin jelas.

4.komplikasi:

Subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah yang

lebar tidak menutup sempurna, sehingga pendarahan terjadi terus menerus, menyebabkan

permasalahan lainya baik itu infeksi maupun inflamasi pada bagian rahim terkhususnya

endromatrium.

5.pencegahan

 Antibiotik pada endometritis


 Eksplorasi rahim pada hasil konsepsi tertahan

 Kerokan pada sisa plasenta yang tertinggal di dalam uterus.

 Ergometrine sering diresepkan untuk meningkatkan proses involusi dengan mengurangi

aliran darah dari uterus.


      B.Perdarahan kala nifas sekunder

1. Pengertian :

Perdarahan postpartum sekunder yaitu perdarahan postpartum yang terjadi setelah 24 jam

pertama kelahiran. Perdarahan postpartum sekunder disebabkan oleh infeksi, penyusutan

rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang tertinggal (Manuaba, 2014).


2.Etiologi

Perdarahan postpartum disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa faktor predisposisi adalah

anemia, yang berdasarkan prevalensi di negara berkembang merupakan penyebab yang paling

bermakna. Penyebab perdarahan postpartum paling sering adalah atonia uteri serta retensio

plasenta, penyebab lain kadang-kadang adalah laserasi serviks atau vagina, ruptur uteri, dan

inversi uteri (Saifuddin, 2014).

Sebab-sebab perdarahan postpartum primer dibagi menjadi empat kelompok utama:


1) Tone (Atonia Uteri)


Atonia uteri menjadi penyebab pertama perdarahan postpartum. Perdarahan postpartum bisa

dikendalikan melalui kontraksi dan retraksi serat-serat miometrium. Kontraksi dan retraksi ini

menyebabkan terlipatnya pembuluh-pembuluh darah sehingga aliran darah ke tempat plasenta

menjadi terhenti. Kegagalan mekanisme akibat gangguan fungsi miometrium dinamakan atonia

uteri (Oxorn, 2010).


Diagnosis ditegakkan bila setelah bayi dan plasenta lahir perdarahan masih ada dan mencapai

500-1000 cc, tinggi fundus uteri masih setinggi pusat atau lebih dengan kontraksi yang lembek

(Saifuddin, 2014).

Pencegahan atonia uteri adalah dengan melakukan manajemen aktif kala III dengan sebenar-

benarnya dan memberikan misoprostol peroral 2-3 tablet (400-600 mcg) segera setelah bayi

lahir (Oxorn, 2010).


2) Trauma dan Laserasi


Perdarahan yang cukup banyak dapat terjadi karena robekan pada saat proses persalinan baik

normal maupun dengan tindakan, sehingga inspeksi harus selalu dilakukan sesudah proses

persalinan selesai sehingga sumber perdarahan dapat dikendalikan. Tempat-tempat

perdarahan dapat terjadi di vulva, vagina, servik, porsio dan uterus (Oxorn, 2010).


3) Tissue (Retensio Plasenta)


Retensio sebagian atau seluruh plasenta dalam rahim akan mengganggu kontraksi dan retraksi,

sinus-sinus darah tetap terbuka, sehingga menimbulkan perdarahan postpartum. Perdarahan

terjadi pada bagian plasenta yang terlepas dari dinding uterus. Bagian plasenta yang masih

melekat merintangi retraksi miometrium dan perdarahan berlangsung terus sampai sisa organ

tersebut terlepas serta dikeluarkan (Oxorn, 2010).

Retensio plasenta, seluruh atau sebagian, lobus succenturiata, sebuah kotiledon, atau suatu

fragmen plasenta dapat menyebabkan perdarahan plasenta akpostpartum. Retensio plasenta

dapat disebabkan adanya plasenta akreta, perkreta dan inkreta. Faktor predisposisi terjadinya

plasenta akreta adalah plasenta previa, bekas seksio sesarea, pernah kuret berulang, dan

multiparitas (Saifuddin, 2014).


4) Thrombophilia (Kelainan Perdarahan)


Afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia dapat terjadi setelah abruption placenta, retensio

janin-mati yang lama di dalam rahim, dan pada emboli cairan ketuban. Kegagalan mekanisme

pembekuan darah menyebabkan perdarahan yang tidak dapat dihentikan dengan tindakan

yang biasanya dipakai untuk mengendalikan perdarahan. Secara etiologi bahan thromboplastik

yang timbul dari degenerasi dan autolisis decidua serta placenta dapat memasuki sirkulasi

maternal dan menimbulkan koagulasi intravaskuler serta penurunan fibrinogen yang beredar

(Oxorn, 2010).


5.Gejala Klinis Perdarahan Postpartum


Efek perdarahan banyak bergantung pada volume darah sebelum hamil, derajat hipervolemia-

terinduksi kehamilan, dan derajat anemia saat persalinan. Gambaran PPP yang dapat

mengecohkan adalah kegagalan nadi dan tekanan darah untuk mengalami perubahan besar

sampai terjadi kehilangan darah sangat banyak. Kehilangan banyak darah tersebut

menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat, tekanan darah rendah, denyut nadi

cepat dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain (Wiknjosastro, 2012).


6.komplikasi:

 Muncul tanda infeksi, seperti keluarnya cairan berbau dari vagina atau luka

operasi, menggigil, dan demam hingga suhu tubuh di atas 38 o C

 Darah yang keluar berwarna merah cerah dan kental pada minggu kedua

 Salah satu atau kedua sisi perut terasa lunak

 Pusing atau merasa ingin pingsan

 Detak jantung tidak beraturan dan bertambah cepat

 Gumpalan darah yang keluar sangat besar atau banya


7.pencegahan:


Hal pertama yang akan dilakukan bidan untuk menangani perdarahan pascamelahirkan

adalah tindakan untuk menyelamatkan nyawa pasien, terutama bila terjadi syok

hipovolemik. Pasalnya, syok dapat membuat kerja organ tubuh berhenti dengan cepat.


Bidan dapat memberikan cairan infus atau transfusi darah untuk mengganti darah yang

hilang. Setelah kondisi pasien stabil, dokter akan berupaya mengendalikan perdarahan

sesuai penyebabnya.

Berikut ini adalah beberapa metode yang dapat dilakukan bidan untuk menangani

perdarahan pascamelahirkan:

 Memijat rahim

Jika perdarahan terjadi karena otot rahim lemas, dokter akan memijat rahim

pasien untuk merangsang kontraksi, sehingga perdarahan dapat berhenti. Bidan

juga dapat memberikan obat oksitosin untuk memicu kontraksi rahim.

Pemberian oksitosin dapat dilakukan melalui dubur, infus, atau disuntikkan

langsung ke otot.

 Menekan pembuluh darah dengan balon khusus

Jika perdarahan disebabkan oleh luka robekan, dokter dapat memasukkan kasa

atau balon yang kemudian dikembangkan di dalam rahim. Tujuannya agar

pembuluh darah di tempat terjadinya perdarahan tertekan, sehingga darah dapat

berhenti keluar.

 Mengeluarkan jaringan sisa plasenta dengan tindakan kuret

Untuk kasus perdarahan yang terjadi akibat jaringan plasenta yang masih

tertinggal di dalam rahim (retensi plasenta), bidan menganjurkan kuret dapat


3.Infeksi nifas

 Pengertian

Infeksi pada dan melalui tractus genitalis setelah persalinan disebut infeksi nifas. Suhu 38°C

atau lebih yang terjadi antara hari ke 2 – 10 post partum dan diukur per oral sedikitnya 4 kali

sehari disebut sebagai morbiditas puerperalis. Kenaikan suhu tubuh yang terjadi di dalam masa

nifas, dianggap sebagai infeksi nifas jika tidak diketemukan sebab – sebab ekstragenital.


a.Faktor Penyebab


Sebagai bidan, Anda harus mengetahui beberapa factor predisposisi yang menyebabkan infeksi

pada ibu nifas :

1. Kurang gizi atau malnutrisi

2. Anemia

3. Masalah kebersihan

4. Kelelahan

5. Proses persalinan bermasalah seperti partus lama / macet, korioamnionitis, persalinan

traumatik, Pencegahan Infeksi yang tidak baik, manipulasi intrauteri (ekplorasi uteri dan manual

plasenta).


b.Gejala


Nyeri perut bawah, demam rendah, serta keputihan dan lokia yang berbau busuk

(tanda-tanda endometritis)

Area yang terasa sakit, keras, hangat dan merah (biasanya hanya pada satu payudara)

dan demam, menggigil, nyeri otot, kelelahan atau sakit kepala (tanda-tanda mastitis)

Kemerahan, cairan, pembengkakan, hangat atau meningkatnya rasa sakit di sekitar area

sayatan atau luka. Hal tersebut bisa terjadi di sayatan operasi caesar, episiotomi atau

luka gores, atau sayatan yang terlihat seperti akan terpisah

Sulit dan nyeri saat buang air kecil, merasa seperti ingin buang air kecil dengan sering

dan mendesak. Namun, hanya sedikit urin, tidak ada urin yang keluar, atau urin keruh

dan berdarah (tanda-tanda infeksi saluran kemih).


C,komplikasi:

 Infeksi di rahim dapat menyebabkan pembekuan darah, sedangkan infeksi di

ginjal dapat menyebabkan gangguan ginjal.

 Infeksi yang masuk ke aliran darah pun dapat menyebabkan sepsis.

 Komplikasi yang paling mungkin terjadi adalah pemulihan pasca persalinan yang

lebih sulit.

d.pencegahan:


Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda

mengatasi infeksi postpartum:

 Mandi dengan antiseptik pada pagi di hari operasi

 Cukur rambut kemaluan Anda dengan clippers dibandingkan dengan pisau cukur

 Gunakan chlorhexidine-alcohol untuk mempersiapkan kulit

 Gunakan antibiotik extended-spectrum sebelum operasi.

    Infeksi masa nifas paling sering diobati dengan antibiotik oral. Misalnya dengan resep obat

clindamycin atau gentamicin.

Senin, 23 Agustus 2021

 Deteksi Dini awal kegawatdaruratan pada kala III (Retensio Plasenta, Inversio Uteri dan Ancaman Robekan Rahim)

          Retensio Plasenta 

Pengertian

Retensi plasenta adalah kondisi ketika plasenta atau ari-ari tidak keluar dengan sendirinya atau tertahan di dalam rahim setelah melahirkan. Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan infeksi, bahkan kematian. Plasenta adalah organ yang terbentuk di dalam rahim ketika masa kehamilan dimulai. Organ ini berfungsi sebagai penyedia nutrisi dan oksigen untuk janin, serta sebagai saluran untuk membuang limbah sisa metabolisme dari darah janin.

Normalnya, plasenta keluar dari rahim dengan sendirinya beberapa menit setelah bayi dilahirkan. Namun, pada ibu yang mengalami retensi plasenta, plasenta tidak keluar dari dalam rahim sampai lewat dari 30 menit setelah persalinan.

Etiologi

Penyebab Retensi Plasenta

Berdasarkan penyebabnya, retensi plasenta dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

 

·         Placenta adherens

Retensi plasenta jenis placenta adherens terjadi ketika kontraksi rahim tidak cukup kuat untuk mengeluarkan plasenta. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelelahan pada ibu setelah melahirkan atau karena atonia uteri. Placenta adherens merupakan jenis retensi plasenta yang paling umum terjadi.

·         Plasenta akreta


Plasenta akreta terjadi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam di dinding rahim sehingga kontraksi rahim saja tidak dapat mengeluarkan plasenta. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh kelainan pada lapisan rahim akibat menjalani operasi pada rahim atau operasi caesar pada kehamilan sebelumnya.

 

 

·         Trapped placenta

Trapped placenta adalah kondisi ketika plasenta sudah terlepas dari dinding rahim, tetapi belum keluar dari rahim. Kondisi ini terjadi akibat menutupnya leher rahim (serviks) sebelum plasenta keluar.

Faktor Risiko Retensi Plasenta

 

Retensi plasenta lebih berisiko dialami oleh ibu dengan beberapa faktor berikut:

 

1.       Hamil di usia 30 tahun ke atas

2.       Melahirkan sebelum usia kehamilan mencapai 34 minggu (kelahiran prematur).

3.       Mengalami proses persalinan yang terlalu lama

4.       Melahirkan bayi yang mati di dalam kandungan

 

Gejala Retensi Plasenta

 

Tanda utama retensi plasenta adalah tertahannya sebagian atau seluruh plasenta di dalam tubuh lebih dari 30 menit setelah bayi dilahirkan. Keluhan lain yang dapat dialami adalah:

          Demam

          Menggigil

          Nyeri yang berlangsung lama

          Perdarahan hebat

          Keluar cairan dan jaringan berbau tidak sedap dari vagina


Komplikasi Retensi Plasenta

 

Retensi plasenta menyebabkan pembuluh darah yang melekat pada plasenta terus terbuka dan mengeluarkan darah. Kondisi ini menyebabkan perdarahan pasca melahirkan yang dapat mengancam nyawa pasien.Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah:

          Infeksi rahim atau endometritis

          Subinvolusi uteri, yaitu kondisi ketika rahim tidak kembali ke ukuran normal setelah melahirkan

          Polip plasenta atau tumbuhnya jaringan tidak normal pada plasenta

 

Pencegahan Retensi Plasenta

 

Untuk mencegah retensi plasenta, akan melakukan langkah antisipasi selama proses persalinan, seperti:

          Memberikan obat-obatan, seperti oksitosin, segera setelah bayi lahir untuk merangsang kontraksi rahim agar seluruh plasenta keluar

          Menjalankan prosedur controlled cord traction (CCT), yaitu dengan menjepit dan menarik tali pusar bayi sambil melakukan pijatan ringan pada perut ibu untuk merangsang kontraksi Rahim

          Selain itu, ibu hamil juga disarankan untuk menjalani pemeriksaan kehamilan dengan USG secara berkala. Melalui pemeriksaan ini, dokter bisa mengetahui sejak awal jika pasien memiliki faktor risiko yang dapat memicu terjadinya retensi plasenta. Dengan begitu, retensi plasenta dapat diantisipasi dengan persiapan yang matang untuk persalinan.

 

Inversio Uteri

 

1.          Pengertian

Inversio uteri dikenal sebagai rahim terbalik yang terjadi karena komplikasi persalinan. Jelasnya, kondisi ini hadir ketika bagian rahim atau uteris yang bernama fundus terbalik menghadap bawah ke arah vagina.


Seharusnya, fundus sendiri berada di bagian atas dan dekat pada dada. Dalam beberapa kasus, bagian rahim tersebut ada yang ikut keluar dari leher rahim atau bahkan ikut ke vagina ketika masa persalinan. inversio uteri adalah suatu kondisi di mana lapisan terdalam dari rahim (endometrium) turun, bahkan keluar melalui lubang luar rahim.

 

2.          Etiologi Inversio Uterus yang Berhubungan dengan Kehamilan

          Persalinan lama dan berlangsung lebih dari 24 jam

          Sudah pernah melahirkan sebelumnya

          Rahim lemah

          Tali pusar janin yang pendek

          Ibu hamil yang menggunakan obat pelemas otot saat persalinan

          Adanya plasenta akreta yang bisa membuat plasenta tertanam terlalu dalam di dinding Rahim

          Memiliki riwayat inversio uteri sebelumnya

          Tenaga medis yang menarik tali pusat terlalu keras ketika proses persalinan

          Plasenta yang mendempel di bagian atas Rahim

          Bayi yang tumbuh terlalu besar ketika masih di dalam kandungan

 

Gejala yang bisa menandakan hadirnya kondisi adalah;

 

          Benjolan yang keluar dari vagina

          Pusing

          Perdarahan hebat

          Lemas

          Muncul keringat dingin

          Napas yang pendek

          Jantung terasa lebih kencang dari keadaan normal

          Tak hanya itu, dokter pun bisa mendiagnosis seseorang mengalami kondisi ini ketika ia merasa rahimnya tak berada di posisi yang seharusnya dan diikuti dengan menurunnya tekanan darah secara drastis.


Ancaman Robekan Rahim

1. Pengertian

 

Pengertian rahim robek atau yang dalam istilah medis disebut dengan ruptur uteri adalah kondisi yang terjadi ketika ada robekan pada dinding rahim.Sesuai dengan namanya, rupture uteri adalah kondisi yang dapat membuat seluruh lapisan dinding rahim robek sehingga membahayakan kesehatan ibu dan bayinya.Tidak menutup kemungkinan, ruptur uteri bisa mengakibatkan perdarahan hebat pada ibu dan bayi yang tertahan di dalam rahim.

Meski begitu, risiko terjadinya rupture uteri atau rahim robek selama proses persalinan sangatlah kecil.Angka ini berkisar kurang dari 1 persen atau hanya 1 dari 3 wanita yang berisiko mengalami ruptur uteri saat melahirkan.

1.  Risiko ibu mengalami rahim robek

 

Risiko ibu mengalami rahim robek memang meningkat jika pernah melakukan operasi caesar, terutama bila bekas operasi merupakan sayatan vertikal di bagian atas rahim. Oleh sebab itu, dokter cenderung menyarankan ibu hamil menghindari persalinan normal melalui vagina jika sebelumnya pernah melakukan operasi caesar. Selain itu, faktor risiko ruptur uteri yang lain, di antaranya:

a.Pernah melahirkan sebanyak 5 kali atau lebih

b.Rahim yang terlalu besar atau buncit karena banyaknya cairan ketuban atau mengandung bayi kembar

c.Plasenta yang menempel terlalu dalam pada dinding rahim

d.Kontraksi yang terlalu sering dan kuat, baik terjadi secara tiba-tiba, akibat obat-obatan tertentu, maupun solusio plasenta (lepasnya plasenta dari dinding rahim)

e.Trauma rahim

f.Proses persalinan yang lama karena ukuran bayi terlalu besar bagi panggul ibu.

 

·          Gejala yang timbul yaitu :

 

·          Perdarahan vagina

·          Nyeri luar biasa saat kontraksi

·          Kontraksi yang lambat atau kurang intens


·          Sakit perut atau nyeri yang tidak biasa

·          Resesi kepala janin (kepala bayi bergerak kembali ke jalan lahir)

·          Menggembung di bawah tulang kemaluan (kepala bayi telah menonjol di luar bekas luka uterus)

·          Rasa nyeri yang tajam di bagian bekas luka sebelumnya

·          Uterus atonia (melemahnya otot rahim)

·          Denyut jantung cepat dan hipotensi (tekanan darah rendah abnormal)

 

 


 

Deteksi Dini Kegawatdaruratan pada kala IV( Perdarahan Robekan Jalan lahir dan pendarahan postpartum)

Robekan jalan lahir

 

Pengertian

Serviks mengalami laterasi pada lebih dari separuh pelahiran pervaginatum, sebagian besar berukuran kurang dari 0.5 cm. Robekan yang dalam dapat meluas ke sepertiga atas vagina. Cedera terjadi setelah setalah rotasi forceps yang sulit atau pelahiran yang dilakukan pada serviks yang belum membuka penuh dengan daun forseps terpasang pada serviks. Robekan dibawah 2 cm dianggap normal dan biasanya cepat sembuh dan jarang menimbulkan kesulitan.


Etiologi

          Persalinan pertama

          Menjalani persalinan dengan alat bantu

          Bayi dalam kandungan berukuran besar, berat badan mencapai lebih dari 3,5 kilogram

          Pernah mengalami robekan vagina pada persalinan sebelumnya

          Bayi lahir dengan posisi posterior, atau kepala di bawah dan menghadap ke perut ibu

          Menjalani episiotomi

          Mempunya perineum yang lebih pendek

          Persalinan berjalan panjang atau harus mengejan untuk waktu yang lama


          Usia ibu lebih tua saat melahirkan, yakni di atas 35 tahun

 


Gejala :

·         Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir

·         Uterus kontraksi dan keras

·         Plasenta lengkap, dengan gejala lain

·         Pucat, lemah, dan menggigil

 

Tingkatan Robekan

 

Berdasarkan tingkat robekan, maka robekan perineum, dibagi menadi 4 tingkatan yaitu:

Tingkat  I:  Robekan  hanya  terdapat  pada  selaput  lendir  vagina  dengan  atau    tanpa mengenai kulit perineum

Tingkat II: Robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei transversalis, tetapi tidak mengenai sfringter ani

Tingkat III: Robekan mengenai seluruh perineum dan otot sfingter ani Tingkat IV: Robekan sampai mukosa rectum

Perdarahan Kala IV Primer

 

Pengertian

Perdarahan postpartum atau perdarahan pasca persalinan adalah keluarnya darah dari jalan lahir segera setelah melahirkan. Perdarahan setelah melahirkan dengan jumlah wajar merupakan hal yang normal terjadi, hal ini disebut lochia.

Kondisi ini terjadi ketika kehilangan darah yang sangat banyak hingga lebih dari 500cc dalam 24 jam setelah melahirkan merupakan suatu kondisi yang abnormal.

Penyebab perdarahan kala IV Primer


          Tonus/kekuatan otot, keadaan ketika uterus tidak dapat berkontraksi atau disebut atonia uteri, menyebabkan darah yang keluar dari uterus tidak dapat berhenti secara alamiah. Hal ini menyebabkan darah yang keluar semakin banyak dan harus mendapatkan pertolongan.

          Trauma/cedera, adanya robekan jalan lahir karena bayi terlalu besar, atau karena penggunaan obat pacu persalinan yang tidak sesuai dengan aturan dapat menyebabkan kontraksi terlalu kuat dan robeknya jalan lahir.

          Jaringan, sisa jaringan plasenta yang masih menempel pada uterus dapat menyebabkan sumber perdarahan dari jalan lahir.

          Faktor pembekuan darah, perdarahan yang banyak dapat menyebabkan hilangnya faktor- faktor yang dibutuhkan darah untuk membantu penutupan luka. Selain itu, pengidap kelainan hemofilia, yaitu ketika darah sukar membeku menyebabkan kelainan perdarahan pasca melahirkan.


 

Gejala Perdarahan Postpartum

Pada keadaan yang normal darah yang keluar segera setelah melahirkan kurang dari 500cc. Namun, pada keadaan ketika perdarahan postpartum merupakan sebuah kelainan, darah yang muncul lebih dari 500cc.

          Keadaan tersebut disertai gejala lain:

          Darah berwarna merah segar.

          Nyeri pada perut bawah.

          Demam.

          Pernapasan cepat.

          Keringat dingin.

          Penurunan kesadaran, mengantuk atau pingsan.

 

Pencegahan Perdarahan Postpartum

     Identifikasi dan koreksi anemia pada ibu hamil sebelum persalinan.

          Pemeriksaan tanda vital sebelum persalinan juga penting untuk mengidentifikasi                   kemungkinan perdarahan yang terjadi.

               Untuk petugas kesehatan, manajemen aktif saat persalinan dan tindakan persalinan yang            menghindarkan dari terjadinya perdarahan pascapersalinan.




Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL

     Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL 1. Pengertian      Kejang pada bayi baru lahir adalah kejang yang terjadi ...