Jumat, 27 Agustus 2021

Deteksi dini Post partum blues, psikosis post partum dan depresi postpartum

 

 2.1 POSTPARTUM BLUES

1. Pengertian Post partum blues

Post partum blues adalah gangguan suasana hati yang bersifat sementara, terjadi pada ibu

pasca bersalin yang disebabkan oleh perubahan fisik dan perubahan emosional (Damayanti,

2014: 73). Post partum blues adalah perasaan sedih dan depresi segera setelah persalinan dengan

gejala dimulai dua atau tiga hari pasca persalinan dan akan hilang dalam waktu satu atau dua

minggu. Gejala post partum blues akan memuncak antara hari ke-tiga hingga ke-lima pasca

persalinan dan akan membaik pada 2 minggu post partum. Apabila gejala ini berlanjut lebih dari

dua minggu, maka dapat menjadi tanda terjadinya gangguan depresi yang lebih berat, ataupun

psikosis post partum dan tidak boleh diabaikan (Rukiyah, 2018: 57).

Berdasarkan pengertian post partum blues diatas, dapat disimpulkan bahwa post partum

blues adalah keadaan depresi ringan pasca bersalin yang bersifat sementara yang akan dimulai

sejak hari kedua dan mencapai puncaknya pada hari ke-3 sampai ke-5, berangsur membaik

setelah 2 minggu post partum.


2. Gejala-Gejala Post partum blues

Gejala post partum blues mencapai puncaknya pada hari ke-3 sampai hari ke-5 yang

disertai dengan merasa sedih, mudah tersinggung, gangguan pada nafsu makan dan tidur. Gejala

post partum blues menurut Suherni (2009: 91):

a. Reaksi sedih/depresi/gelisah.

b. Sering menangis.

c. Mudah tersinggung.

d. Cemas.

e. Cenderung menyalahkan diri sendiri.

f. Gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.

g. Kelelahan.

h. Mudah sedih.

i. Cepat marah.

j. Mood mudah berubah, cepat merasa sedih dan cepat merasa gembira.

k. Perasaan terjebak, marah terhadap pasangan dan bayinya.

l. Perasaan bersalah.


3. Penanganan post partum blues

Penanganan gangguan mental post partum pada prinsipnya tidak berbeda dengan

penanganan gangguan mental lainnya. Ibu dengan post partum blues membutuhkan dukungan

psikologis terutama dari pihak terdekat. Hal yang dibutuhkan oleh ibu dengan keadaan post

partum blues adalah kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan situasi yang

menakutkan serta waktu istirahat yang cukup. Para ahli obstetri memegang peranan penting

untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin

dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut, bahkan merujuk

para ahli psikologi atau konselor bila memang diperlukan. Pendekatan menyeluruh atau holistik

dalam penanganan para ibu yang mengalami post partum blues sangat dibutuhkan. Pengobatan

medis, konseling emosional, bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang

pengalaman dan harapan-harapan mereka pada saat-saat tertentu. Secara garis besar dapat

dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di tingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan

psikologis secara bersama-sama, dengan melibatkan lingkungannya, yaitu: suami, keluarga dan

juga teman dekatnya (Rukiyah, 2010: 378).


4. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Post Partum Blues

Faktor penyebab post partum blues pada umumnya tidak berdiri sendiri sehingga faktor

penyebab post partum blues merupakan hasil suatu mekanisme multi faktorial. Beberapa faktor

penyebab post partum blues menurut Sutanto (2018: 25) diantaranya:


1. Faktor Hormonal Setelah melahirkan, kadar hormon kortisol (hormon pemicu stress)

meningkat. Pada waktu yang bersamaan kadar estrogen turun secara tajam. Estrogen memiliki

efek supresi aktivitas enzim non-adrenalin maupun serotonin yang berperan dalam suasana hati

dan kejadian depresi.

2. Faktor aktifitas fisik Kelelahan fisik karna aktifitas mengasuh bayi, menyusui,

memandikan, mengganti popok, dan menimang sepanjang hari menguras energi yang besar. Hal

ini diperparah dengan ketidaknyamanan fisik seperti rasa sakit akibat luka jahit atau bengkak

pada payudara yang dialami sehingga menimbulkan rasa emosi pada wanita pasca melahirkan.

Fisik yang lelah dan kondisi psikis yang belum dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut

menjadi salah satu pemicu gangguan psikologi.

3. Faktor demografi Faktor demografi meliputi usia (terlalu muda atau terlalu tua) dan

paritas.

a. Usia Usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau

makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Usia yang dianggap paling aman bagi seorang

wanita untuk menjalani kehamilan dan persalinan adalah pada usia 20-35 tahun. Usia yang

terlalu muda dapat memengaruhi tingkat kestabilan emosi ibu. Ibu dengan usia kurang dari 20

tahun seringkali mengalami kesulitan beradaptasi sehingga masih membutuhkan pertolongan

sekitar dalam merawat bayi. Ibu dengan usia lebih dari 35 tahun, memiliki resiko kelelahan yang

tinggi sebab keadaan anatomi tubuh yang tidak baik lagi untuk hamil dan bersalin. Kelelahan

dapat berdampak pada faktor psikologi ibu sehingga memengaruhi terjadinya post partum blues

(Kurniasari, 2014: 7).

b. Paritas Paritas merupakan jumlah kehamilan yang menghasilkan jumlah janin hidup,

bukan janin yang dilahirkan, janin yang lahir hidup atau mati setelah viabilitas (28 minggu/lebih)

dicapai, tidak mempengaruhi paritas (Bobak, 2005: 104). Paritas dibagi menjadi 3 yaitu wanita

yang telah melahirkan bayi aterm sebanyak satu kali disebut primipara, multipara yaitu wanita

yang telah melahirkan anak hidup beberapa kali, dimana persalinan tersebut tidak lebih dari lima

kali, grandemultipara yaitu wanita yang telah melahirkan janin aterm lebih dari empat kali

(Manuaba, 2010: 166). Faktor paritas diduga riwayat obstetri dan komplikasi yang meliputi

riwayat hamil sampai melahirkan sebelumnya yang juga berpengaruh buruk pada ibu pasca

bersalin sehingga memicu timbulnya postpartum blues. Kehamilan secara tradisional dipandang

sebagai krisis emosi oleh beberapa ahli psikologi. Kondisi yang dialami wanita pada saat

pertama kali mengalami kehamilan merupakan kondisi yang baru dihadapi sehingga tidak jarang

dapat menimbulkan stres. Perubahan yang terjadi selama kehamilan khususnya peningkatan

hormon dapat menimbulkan tingkat kecematan yang semakin berarti (Hanifah, 2017: 20). Ibu

dengan jarak usia melahirkan terlalu dekat dapat memicu terjadinya Sibling Rivalry. Kebutuhan

dasar anak sebelumnya yang masih membutuhkan perhatian dari orang tua serta kelahiran anak

berikutnya yang membutuhkan perhatian lebih besar dapat menimbulkan stress pada ibu

sehingga memicu terjadinya post partum blues (Sutanto, 2018: 26).


4. Faktor psikososial Latar belakang psikososial wanita yang dipengaruhi beberapa

hal, yaitu:

a. Sosial ekonomi Beberapa kajian telah menunjukkan bahwa beberapa kelompok

masyarakat pada umumnya mendefinisikan status sosial ekonomi berdasarkan 3 faktor utama,

yaitu: pekerjaan, pendidikan, pendapatan (Baldrige dalam Alifah, 2016: 13).

b. Status Kehamilan Pasangan akan merasa sangat bahagia bila kehamilan istri

merupakan hal yang sangat dinantikan. Hal ini akan berbanding terbalik jika keberadaan janin

merupakan kehamilan yang tidak diinginkan. Kehamilan yang tidak diinginkan (Unwanted

Pregnancy) merupakan istilah yang digunakan di kalangan medis untuk memberikan istilah

adanya kehamilan yang tidak dikehendaki oleh wanita maupun lingkungannya.

c. Latar belakang psikologis Stress yang dialami wanita itu sendiri. Misalnya, belum

bisa menyusui bayinya atau rasa bosan terhadap rutinitas baru. Rasa memiliki yang terlalu dalam

sehingga takut yang berlebihan akan kehilangan bayinya.

d. Dukungan suami. Dukungan adalah bentuk motivasi serta bantuan yang nyata yang

diberikan oleh orang terdekat baik suami maupun lingkungan sosial. Pasca beberapa hari

melahirkan, ibu akan merasa kelelahan dalam menghadapi perubahan peran serta bertambahnya

anggota keluarga. Dukungan dari lingkungan, terutama suami memiliki peran penting dalam

proses adaptasi pasca bersalin. Dukungan yang dibutuhkan adalah dukungan fisik dan moril,

seperti bantuan dalam membantu pekerjaan rumah tangga, membantu mengurus bayi serta

mendengarkan keluh kesah ibu (Suherni, 2009: 94).



2.2 PSIKOSIS POSTPARTUM

1. Pengertian

Psikosis postpartum adalah penyakit mental serius yang kerap dialami ibu dalam beberapa hari

atau minggu usai persalinan. Masalah mental yang satu ini dapat berkembang secara tiba-tiba

bahkan hanya dalam beberapa jam sekali pun ibu belum pernah mengalami penyakit mental.


2. Gejala

gejala psikosis postpartum berikut:

 Mendengar suara dan melihat hal-hal yang tidak ada (halusinasi)

 Perubahan mood yang ekstrim (mood swings)

 Berperilaku manik (mood manic), misalnya bicara atau berpikir terlalu banyak dan cepat,

merasa terlalu senang, dan lainnya

 Merasa bingung, curiga, dan takut

 Berkhayal atau percaya pada hal yang tidak benar dan tidak logis (delusi)

 Menunjukkan tanda depresi, menarik diri dari lingkungan, dan gampang menangis

 Kurang berenergi, kehilangan nafsu makan, gelisah, dan sulit tidur

 Menjadi sangat agresif atau kasar

 Merasa paranoid

 Sulit berkonsentrasi

 Memperlakukan bayi dengan cara yang tidak tepat

 Berencana untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi


3. Penyebab

Ada beberapa hal yang diduga menjadi penyebab Mama bisa mengalami postpartum psikosis, di

antaranya adalah:

 Perubahan hormonal yang cepat pasca melahirkan

 Stres fisik yang ekstrim pasca melahirkan, terutama jika Mama memiliki kondisi medis

lainnya

 Predisposisi genetik – perempuan dengan riwayat keluarga yang pernah mengalami

postpartum psikosis atau gangguan bipolar memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami

postpartum psikosis pasca melahirkan

 Kurang tidur dalam skala ekstrem pada periode awal setelah kelahiran bayi


4. Pencegahan

Pencegahan psikosis pascamelahirkan bisa dilakukan dengan konsultasi dan perawatan

yang tepat dari dokter selama kehamilan bila Anda berisiko mengalami masalah ini. Bahkan,

konsultasi dan perawatan bisa dilakukan saat Anda sedang merencanakan atau sebelum

kehamilan. Tak lupa, setelah melahirkan sebaiknya tetap rutin memeriksakan diri ke dokter guna

mendeteksi dan menangani sejak dini bila ada kemungkinan Anda memiliki masalah mental.


2.3 POSTPARTUM DEPRESSION


1. Pengertian

Depresi postpartum atau postpartum depression adalah depresi yang terjadi setelah

melahirkan. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia di otak dan dialami oleh 10% ibu

yang melahirkan. Postpartum depression membuat penderita merasa putus harapan, merasa tidak

menjadi ibu yang baik, sampai tidak mau mengurus anak.

Postpartum depression bukan hanya dialami oleh ibu, tetapi juga bisa dialami oleh ayah.

Postpartum depression pada ayah paling sering terjadi 3-6 bulan setelah bayi lahir. Seorang ayah

lebih rentan terkena postpartum depression ketika istrinya juga menderita kondisi tersebut.


2. Gejala

Gejala postpartum depression atau postnatal depression bisa terjadi pada awal kehamilan,

beberapa minggu sesudah melahirkan, atau hingga setahun sesudah bayi lahir. Ketika mengalami

postpartum depression, seseorang akan mengalami gejala-gejala berikut:

 Merasa cepat lelah atau tidak bertenaga.

 Mudah tersinggung dan marah.

 Menangis terus-menerus.

 Merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.

 Mengalami perubahan suasana hati yang drastis.

 Kehilangan nafsu makan atau justru makan lebih banyak dari biasanya.

 Tidak dapat tidur (insomnia) atau tidur terlalu lama.

 Sulit berpikiran jernih, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan.

 Tidak ingin bersosialisasi dengan teman dan keluarga.

 Kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasa disukainya.

 Putus asa.

 Berpikir untuk melukai dirinya sendiri atau bayinya.

 Munculnya pikiran tentang kematian dan ingin bunuh diri.


3. Penyebab

Postpartum depression tidak disebabkan oleh satu faktor penyebab saja. Biasanya kondisi

ini disebabkan oleh kombinasi faktor fisik dan emosional.

Setelah melahirkan, kadar hormon estrogen dan progesteron di dalam tubuh ibu akan turun

drastis. Hal ini menyebabkan perubahan kimia di otak yang memicu terjadinya perubahan

suasana hati.

Ditambah lagi, kegiatan mengasuh bayi dapat membuat ibu tidak dapat beristirahat dengan

cukup untuk memulihkan dirinya setelah melahirkan. Kurangnya istirahat dapat menimbulkan

kelelahan, baik secara fisik maupun emosional, hingga akhirnya memicu depresi

pascamelahirkan.

Tidak hanya itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami

depresi postpartum, di antaranya:

 Pernah menderita depresi sebelum atau selama

 Menderita gangguan bipolar.

 Ada anggota keluarga yang menderita depresi.

 Menyalahgunakan NAPZA.

 Kesulitan menyusui anak.

 Hamil di usia muda dan memiliki banyak anak.

Di samping itu, risiko terjadinya depresi pascapersalinan juga akan meningkat jika ibu yang baru

melahirkan mengalami kejadian yang membuat stres, misalnya baru kehilangan pekerjaan,

mengalami masalah finansial, terlibat konflik dalam keluarga, menderita komplikasi kehamilan,

melahirkan bayi kembar, atau bayi yang dilahirkan menderita penyakit tertentu.


4. Kompikasi

Komplikasi akibat postpartum depression dapat dialami oleh ayah, ibu, dan anak. Komplikasi ini

dapat menimbulkan masalah di dalam keluarga.

 Komplikasi pada ibu Depresi postpartum yang tidak tertangani dan berlangsung lama

dapat berkembang menjadi gangguan depresif kronis. Kondisi ini dapat meningkatkan

risiko terjadinya depresi berat di kemudian hari.

 Komplikasi pada anak Anak-anak dari ibu penderita depresi setelah melahirkan lebih

berisiko mengalami gangguan perilaku dan masalah emosional. Akibatnya, anak tidak

mau makan, menangis terus menerus, dan kemampuan bicaranya terhambat.

 Komplikasi pada ayah Saat ibu mengalami depresi, ayah juga memiliki kemungkinan

yang tinggi untuk mengalami depresi postpartum.


5. Pencegahan

Postpartum depression tidak dapat dicegah, namun dapat dideteksi lebih dini. Dengan

kontrol rutin pascamelahirkan, dokter dapat memonitor kondisi ibu, terutama jika sebelumnya

ibu pernah menderita depresi atau postpartum depression.

Jika diperlukan, dokter dapat meminta ibu menjalani konseling bahkan mengonsumsi

obat antidepresan untuk mencegah terjadinya postpartum depression, baik pada saat hamil

maupun setelah melahirkan.

Yang tidak kalah penting, ibu perlu menjalin komunikasi yang baik, menyelesaikan masalah,

atau berdamai dengan pasangan, keluarga, dan teman jika memiliki masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL

     Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL 1. Pengertian      Kejang pada bayi baru lahir adalah kejang yang terjadi ...