Jumat, 20 Agustus 2021

DETEKSI DINI PEMBESARAN UTERUS YANG TIDAK SESUAI UMUR KEHAMILAN OLIGOHIDRAMIN / POLIHIDRAMNION / KEHAMILAN MOLA

   A. Pengertian Oligohidramnion

Oligohidramnion adalah suatu keadaandimana air ketuban kurang dari normal, yaitu kurang dari

dari normal, yaitu kurang dari 500 cc. Cairan ketuban atau cairan amnion adalah cairan yang

memenuhi rahim. Cairan ini ditampung didalam kantung amnion yang disebut kantung ketuban

atau kantung janin. Cairan ketuban diproduksi oleh buah kehamilan, yaitu sel-sel trofoblas,

kemudian akan bertambah dengan produksi cairan janin, yaitu air seni janin. Sejak usia

kehamilan 12 minggu, janin mulai minum air ketuban dan mengeluarkannya kembali dalam

bentuk air seni. Jadi ada pola berbentuk lingkaran atau siklus yang berulang.Cairan amnion

biasanya diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya memiliki perantersendiri pada setiap

usia kehamilan. Pada kehamilan awal, cairan amnion sebagian besar diproduksi oleh sekresi

epitel selaput amnion. Dengan bertambahnya usia kehamilan, produksi cairan amnion di

dominasi oleh kulit janin dengan cara difusi membran.

Pada kehamilan 20 minggu, saat kulit janin mulai kehilangan permeabilitas, ginjal janin

mengambil alih peran tersebut dalam memproduksi cairan amnion. Pada kehamilan aterm,

sekitar 500 ml per hari cairan amnion di sekresikan dari urin janin dan 200 ml berasal dari cairan

trakea. Pada penelitian dengan menggunakan radioisotop, terjadi pertukaran sekitar 500 ml per

jam antara plasma ibu dan cairan amnion pada kondisi terdapat gangguan pada ginjal janin,

seperti agenesis ginjal, akan menyebabkan oligohidramnion. Normal volume cairan amnion

bertambah dari 50 ml pada saat usia kehamilan 12 minggu sampai 400 ml pada pertengahan

gestasi dan 1000 – 1500 ml pada saat aterm. Pada kehamilan postterm jumlah cairan amnion

hanya 100 sampai 200 ml atau kurang.Menurut Lehn, jumlah air ketuban yang normal pada

primigravida adalah 1 liter, pada multigravida sebanyak 1,5 liter, dan sebanyak – banyaknya

yang masih dalam batas normal adalah 2 liter.

2.2 Etiologi Oligohidramnion

Etiologi yang pasti belum jelas, tetapi disangka ada kaitannya dengan renal agenosis

janin.Etiologi primer lainnya mungkin oleh karena amnion kurang baik pertumbuhannya dan

etiologi sekunder lainnya, misalnya pada ketuban pecah dini

Penyebab sekunder biasanya dikaitkan dengan :

- Pecahnya membran ketuban


- Penurunan fungsi ginjal atau terjadinya kelinan ginjal bawaan pada janin sehingga produksiurin

janin berkurang, padahal urin janin termasuk salah satu sumber terbentuknya air ketuban

- Kehamilan post-term sehingga terjadinya penurunan fungsi plasenta.

- Gangguan pertumbuhan janin

- Penyakit yang diderita ibu seperti Hipertensi, Dibetes mellitus, gangguan pembekuan

darah,serta adanya penyakit autoimmune seperti Lupus.

Penyebab oligohidramnion tidak dapat dipahami sepenuhnya. Mayoritas wanita hamil yang

mengalami tidak tau pasti apa penyebabnya. Penyebab oligohidramnion yang telah terdeteksi

adalah cacat bawaan janin dan bocornya kantung / membran cairan ketuban yang mengelilingi

janindalam rahim. Sekitar 7% bayi dari wanita yang mengalami oligohidramnion mengalami

cacat bawaan, seperti gangguan ginjal dan saluran kemih karena jumlah urin yang diproduksi

janin berkurang.Masalah kesehatan lain yang juga telah dihubungkan dengan oligohidramnion

adalahtekanan darah tinggi, diabetes, SLE, dan masalah padaplasenta. Serangkaian pengobatan

yangdilakukan untuk menangani tekanan darah tinggi, yang dikenal dengan nama angiotensin-

converting enxyme inhibitor (miscaptopril), dapat merusak ginjal janin dan

menyebabkanoligohidramnion parah dan kematian janin. Wanita yang memiliki penyakit

tekanan darah tinggiyang kronis seharusnya berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli kesehatan

sebelummerencanakan kehamilan untuk memastikan bahwa tekanan darah mereka tetap terawasi

baikdan pengobatan yang mereka lalui adalah aman selama kehamilan mereka.Jika dilihat dari

segi Fetal, penyebabnya bisa karena :

- Kelainan Kromosom

- Cacat Kongenital

- Hambatan pertumbuhan janin dalam rahim

- Kehamilan postterm

- Premature ROM (Rupture of amniotic membranes)

Jika dilihat dari sisi Maternal, penyebabnya :

- Dehidrasi

- Insufisiensi uteroplasental

- Hipertensi / Preeklamsia

- Diabetes Mellitus

- Hypoxia kronisInduksi Obat :


- Seperti obat antihipertensiPada kehamilan lewat bulan, kekurangan air ketuban juga sering

terjadi karena ukurantubuh janin semakin besar. Oligohydramnion dapat terjadi di masa

kehamilan trimester pertamaatau pertengahan usia kehamilan cenderung berakibat serius

dibandingkan jika terjadi di masakehamilan trimester terakhir.

2.3 tanda dan Gejala Oligohidramnian

Beberapa gejala oligohidramnion yang bisa dialami oleh ibu hamil adalah sebagai berikut:

-Tinggi fundus uteri lebih rendah dari usia kehamilan (perut lebih kecil).

-Bunyi detak jantung janin mulai terdengar sejak bulan ke-5.

-Ibu merasakan nyeri ketika janin bergerak.

Selain melalui USG, kondisi oligohidramnion ini juga bisa terdeteksi dengan melakukan

pemeriksaan amnioskopi. Ini adalah pemeriksaan air ketuban yang dilakukan dengan

menggunakan alat bernama amnioskope (alat bening seperti kaca) yang dimasukkan melalui

jalan lahir.

2.4 komplikasi Oligohidramnion

a. Dari sudut maternal Komplikasi oligohidramnion pada maternal praktis tidak ada, kecuali

akibat Persalinannya oleh karena :

- Sebagian persalinannya dilakukan dengan induksi

- Persalinan dilakukan dengan SC Dengan demikian komplikasi maternal adalah trias komplikasi

persalinan dengan tindakan

b.Komplikasi terhadap janin Oligohidramnion menyebabkan tekanan langsung pada janin:

- Deformitas janin

- Leher telalu menekuk miring

- Bentuk tulang kepala janin tidak bulat

- Deformitas ekstremitas

- Talipes kaki terpelintir keluar

- Kompresi tali pusat langsung sehingga dapat menimbulkan fetal distress.

- Fetal distres menyebabkan makin terangsangnya nervus vagus dengan dikeluarkannya

mekonium semakin mengentalkan air ketuban.


- Oligohidramnion makin menekan dada sehingga saat lahir terjadi kesulitan bernafas, karena

paru mengalami hipoplasia sampai atelektase paru.

- Sirkulus yang sulit diatasi ini akhirnya menyebabkan kematian janin intrauteri.

- Amniotic band Karena sediktnya air ketuban, dapat menyebabkan terjadi hubungan

langsungantara membrane dengan janin sehingga dapat menimbulkan gangguan tumbuh

kembang janinintrauteri. Dapat dijumpai ekstremitas terputus oleh karena hubungan atau ikatan

denganmembrannya.

2.5 Pencegahan Oligohidramnion

TepatKondisi oligohidramnion bergantung pada kondisi bayi, usia kehamilan, dan ada tidaknya

komplikasi selama kehamilan. Yang bisa dilakukan sebagai pengobatan pada usia kehamilan

belum cukup bulan di antaranya:

- Banyak istirahat di tempat tidur.

- Memperbanyak konsumsi cairan.

- Perbaikan pola diet agar nutrisi tercukupi.

- Pemantauan pergerakan dan volume air ketuban dengan USG.

Namun, apabila kondisi oligohidramnion terjadi pada usia kandungan 38-41 minggu (kehamilan

aterm), maka yang bisa dilakukan adalah dengan mempercepat proses persalinan. Hal ini bisa

dilakukan dengan induksi persalinan atau operasi caesar, sehingga meminimalisir komplikasi.

Dan yang terpenting, segera periksakan kehamilan Anda jika janin terasa tidak begitu aktif

seperti biasa selama kehamilan.

3.1 Pengertian Polihidramnion

Polihidramnion adalah Suatu keadaan dimana jumlah air ketuban jauh lebih banyak dari

normal, biasanya lebih dari 2 liter (Amriewibowo, 2010).

Hidramnion adalah suatu jumlah cairan amnion yang berlebihan (lebih dari 2000 ml).

Normal volume cairan amnion meningkat secara bertahap selama kehamilan dan mencapai

puncaknya kira-kira 1000 ml antara 34 sampai 36 minggu (Admin, 2011).


Klasifikasi

- Polihidramnion kronis


Pertambahan air ketuban terjadi secara perlahan-lahan dalam beberapa minggu atau bulan,dan

biasanya terjadi pada kehamilan lanjut

- Polihidramnion Akut

Terjadi pertambahan air ketuban yang sangat tiba-tiba dan cepat dalam waktu beberapa hari saja.

Biasanya terjadi pada kehamilan muda pada bulan ke-4 atau ke-5 (Amriewibowo, 2010).

3.2 Etiologi Polihidramnion

Polihidramnion termasuk kondisi yang jarang dialami oleh ibu hamil. Biasanya, kondisi ini

terjadi pada saat trimester ketiga. Namun, polihidramnion juga dapat terjadi sejak trimester

kedua masa kehamilan. Pada kondisi normal, volume air ketuban akan meningkat secara

perlahan sejak awal kehamilan hingga mencapai jumlah maksimal (sekitar 800 ml–1 liter) pada

minggu ke-34 hingga ke-36. Setelah itu, air ketuban akan berkurang secara perlahan ketika

mendekati waktu persalinan.

Volume air ketuban tetap stabil karena janin menelan dan mengeluarkannya kembali sebagai

urine. Sementara, pada polihidramnion, keseimbangan air ketuban di dalam rahim terganggu.

Gangguan keseimbangan air ketuban ini bisa terjadi akibat sejumlah faktor, yaitu:

- Cacat lahir pada janin yang memengaruhi kemampuannya menelan air ketuban, misalnya

kelainan pada saluran pencernaan atau sistem saraf pusat janin, dan gangguan kendali otot janin

- Anemia pada janin

- Diabetes pada ibu, baik diabetes gestasional maupun diabetes yang sudah ada sebelum hamil

- Infeksi pada janin selama masa kehamilan, seperti toksoplasma atau rubella

- Penumpukan cairan pada salah satu bagian tubuh janin (hydrops fetalis)

- Masalah pada plasenta

- Gangguan pada detak jantung bayi

- Twin to twin transfusion syndrome (TTTS) yang menyebabkan salah satu janin menerima

terlalu banyak darah dari plasenta sehingga cairan yang dikeluarkan janin tersebut melalui urine

bertambah dan meningkatkan volume air ketuban

- Kondisi kromosom atau genetik yang abnormal, seperti sindrom Down, sindrom Edward,

achondroplasia, dan sindrom Beckwith Wiedemann

- Ketidaksesuaian darah antara ibu dan janin

3.3 Tanda dan Gejala Polihidramnion

Polihidramnion yang ringan dan berkembang secara bertahap bisa saja tidak menimbulkan gejala

yang signifikan. Namun, pada beberapa kasus, volume air ketuban dapat meningkat dengan

sangat cepat hingga lebih dari 2 liter. Sedangkan polihidramnion yang berat dapat menyebabkan

rahim meregang secara berlebihan sehingga mendesak organ di sekitarnya. Keluhan yang

biasanya muncul antara lain:

- Berat badan ibu naik lebih banyak dari perkiraan

- Sulit bernapas atau napas menjadi tersengal-sengal

- Nyeri ulu hati

- Gangguan pencernaan, seperti sembelit

- Buang air kecil berkurang

- Bengkak di tungkai bawah dan kemaluan yang dapat disertai dengan varises

- Sulit merasakan gerakan janin dan djj sukar untuk di dengar

- Pada saat di periksa perut tampak menegang dan mengkilap

3.4 Komplikasi Polihidramnion

Komplikasi kehamilan dan persalinan yang dapat timbul akibat polihidromnion, berupa:

- Kelahiran prematur

- Bayi tumbuh terlalu besar

- Ketuban pecah lebih awal

- Solusio plasenta

- Tali pusar yang keluar mendahului bayi saat persalinan

- Kematian janin dalam kandungan

- Perdarahan post partum

3.5 Pencegahan Polihidramnion

Polihidramnion sulit untuk dicegah. Namun, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk

mengurangi risiko terjadinya kondisi ini, yaitu:

- Tidak merokok


- Mengonsumsi makanan bergizi, yang meliputi buah, sayur, produk susu rendah lemak, daging

tanpa lemak, dan kacang-kacangan

- Mengonsumsi vitamin prenatal, seperti asam folat, sesuai anjuran dokter

- Mengendalikan kondisi atau penyakit yang diderita, misalnya diabetes

4.1 Pengertian Kehamilan Mola

Mola hydatidosa atau hamil anggur adalah pembentukan ari-ari (plasenta) yang abnormal saat

kehamilan. Hamil anggur tergolong komplikasi kehamilan yang jarang terjadi. Plasenta atau ari-

ari yang terbentuk pada penderita hamil anggur tidak normal dan terbentuk seperti sekumpulan

anggur. Sering kali janin sama sekali tidak terbentuk, hanya jaringan plasenta yang abnormal.

Hamil anggur sulit terdeteksi pada awal kehamilan, karena pada awalnya mirip dengan

kehamilan normal. Hamil anggur akan terdeteksi oleh dokter kandungan saat pemeriksaan rutin

kehamilan. Seseorang yang pernah mengalami hamil anggur akan lebih berisiko mengalami

hamil anggur kembali di kemudian hari.

4.2 Etiologi Kehamilan Mola

Hamil anggur (mola hydatidosa) terjadi karena awal proses pembuahan yang tidak normal. Bisa

karena sperma yang membuahi sel telur kosong atau terdapat 2 sperma yang membuahi satu sel

telur. Pada kondisi sel sperma yang membuahi sel telur kosong disebut dengan hamil anggur

lengkap. Pada hamil anggur lengkap, sel terbentuk hanya dari gen ayah sehingga janin tidak

terbentuk. Namun, plasenta atau ari-ari tetap tumbuh dan tumbuh menjadi tidak normal.

Pada kondisi 2 sel sperma yang membuahi 1 sel telur disebut dengan hamil anggur sebagian.

Pada kondisi ini terdapat tambahan genetik dari ayah, sehingga hasil pembuahan tidak bisa

bertahan lama atau mati dalam beberapa minggu.

4.3 Tanda dan Gejala Kehamilan Mola

Tanda-tanda hamil anggur awalnya sama dengan kehamilan normal. Namun seiring pertambahan

usia kehamilan, hamil anggur (mola hydatidosa) bisa ditandai dengan gejala khusus, seperti:

- Perdarahan pada trimester pertama. Terkadang perdarahan ini bisa mirip dengan perdarahan

implantasi.

- Mual dan muntah yang sangat parah.

- Perut terlihat membesar melebihi usia kehamilan.

- Keluarnya cairan berwana kecoklatan atau gumpalan-gumpalan seperti anggur dari dalam

vagina.


12


- Nyeri panggul.

4.4 Komplikasi Kehamilan Mola

Ada beberapa komplikasi yang dapat timbul setelah mengalami hamil anggur (mola hydatidosa),

antara lain:

- Gestational trophoblastic neoplasia

Komplikasi ini lebih banyak terjadi pada penderita hamil anggur lengkap, yang ditandai dengan

HCG yang tetap tinggi setelah kuret. Gestational trophoblastic neoplasia terjadi ketika sel

abnormal masuk ke bagian tengah dinding rahim.

- Choricarcinoma

Choriocarcinoma merupakan bentuk kanker dari gestational trophoblastic neoplasia. Meski

jarang terjadi, kanker ini lebih sering dialami penderita hamil anggur lengkap.

- Mengalami hamil anggur kembali

Penderita hamil anggur berisiko mengalami hamil anggur kembali pada kehamilan berikutnya.

Risiko ini lebih tinggi jika dialami penderita yang sudah mengalami beberapa kali hamil anggur

atau mereka yang pernah keguguran.

     4.5 Pencegahan Kehamilan Mola

Hamil anggur terjadi karena kesalahan gen dalam proses pembuahan. Oleh karena itu, kondisi ini

sulit dicegah. Kendati demikian, terdapat beberapa upaya yang bisa dilakukan pada penderita

hamil anggur untuk mengurangi kemungkinan terjadinya hal serupa di kehamilan selanjutnya.

Salah satu upaya untuk mengurangi risiko kembali mengalami hamil anggur (mola hydatidosa)

adalah menunda kehamilan, setidaknya setahun setelah kuret. Untuk mencegah kehamilan,

gunakan alat kontrasepsi. Semua alat kontrasepsi dapat digunakan, kecuali KB spiral.

Pemeriksaan rutin ke dokter kandungan perlu dilakukan jika hamil kembali setelah hamil anggur,

untuk memastikan pertumbuhan plasenta dan janin berlangsung normal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL

     Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL 1. Pengertian      Kejang pada bayi baru lahir adalah kejang yang terjadi ...