DETEKSI
DINI IBU HAMIL YANG BERESIKO TERKENA PMS / HIV / AIDS
DAN
HEPATITIS B DAN C
A. PENYAKIT MENULAR SEKSUAL ( PMS )
1. Pengertian
Penyakit Menular
Seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual.
Penyakit menular seksual akan lebih beresiko bila melakukan hubungan seksual
dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal. Banyak penderita PMS tidak menyadari
bahwa dirinya mengidap PMS oleh karena penyakit ini seringkali tidak
menunjukkan gejala. PMS dapat menimbulkan resiko bagi ibu hamil dan janin yang
dikandungnya. PMS dapat menyebabkan :
·
Abortus
·
Kehamilan
Ektopik
·
Persalinan
preterm
·
Lahir
mati
·
Cacat
bawaan
·
Morbiditas
neonatus
2. Etiologi
·
Orang
yang melakukan kontak langsung dengan infeksius awal lesi, awal kulit atau
selaput lendir pada saat melakukan hubungan seksual dengan penderita
·
Dapat
diturunkan oleh ibu penderita pada anak yang dikandungnya
·
Bergonta
ganti pasangan seksual
·
Tidak
menggunakan kondom saat berhubungan seksual
·
Melalui
barang perantara yang sedah dipakai oleh penderita seperti pakaian dalam,
handuk dan sebagainya ( Djuanda,1987 )
3. Tanda dan gejala
·
Rasa sakit atau nyeri pada saat kencing
atau berhubungan seksual.
·
Rasa nyeri pada perut bagian bawah.
·
Pengeluaran lendir pada vagina/alat
kelamin.
·
Keputihan berwarna putih susu, bergumpal
dan disertai rasa gatal dan kemerahan pada alat kelamin atau sekitarnya.
·
Keputihan yang berbusa, kehijauan,
berbau busuk, dan gatal.
·
1. Pencegahan
PMS dapat diobati. Satu-satunya
cara adalah berobat ke dokter atau tenaga kesehatan. Jika kita terkena PMS,
pasangan kita juga harus diperiksa dan diobati. Jangan mengobati diri sendiri.
Patuhi cara pengobatan sesuai petunjuk yang diberikan oleh dokter atau tenaga
kesehatan untuk memastikan kesembuhan. Hindari hubungan seksual selama masih
ada keluhan/gejala. Bila kamu hamil, beritahukan dokter atau tenaga kesehatan.
Mitos-mitos seputar PMS
Kamu perlu mengetahui dan menyadari bahwa PMS tidak dapat dicegah hanya dengan:
·
Memilih pasangan yang kelihatan bersih
penampilannya.
·
Mencuci alat kelamin setelah berhubungan
seks.
·
Minum jamu-jamuan.
·
Minum antibiotik sebelum dan sesudah
berhubungan seks.
2. Jenis – jenis PMS
Ada banyak macam
penyakit yang bisa digolongkan sebagai PMS. Di Indonesia yang banyak ditemukan
saat ini adalah:
a. Gonore
(GO)
Kuman penyebabnya
adalah Neisseria gonorrhoeae. Ada masa tenggang selama 2 –10 hari setelah kuman
masuk ke dalam tubuh melalui hubungan seks.Tanda-tanda penyakitnya adalah
nyeri, merah, bengkak dan bernanah. Gejala pada laki-laki adalah rasa sakit
pada saat kencing, keluarnya nanah kental kuning kehijauan, ujung penis tampak
merah.
b. Herpes
genital
Penyakit yang
disebabkan oleh virus Herpes simplex dengan masa tenggang 4 – 7 hari sesudah
virus masuk ke dalam tubuh melalui hubungan seks. Gejala dan tanda-tandanya
adalah: Bintil-bintil berair (berkelompok seperti anggur) yang sangat nyeri
pada sekitar alat kelamin Kemudian pecah dan meninggalkan luka yang kering
mengerak, lalu hilang sendiri. Penyakit ini belum ada obat yang benar-benar
mujarab, tetapi pengobatan anti virus bisa mengurangi rasa sakit dan lamanya
episode penyakit.
c. Klamidia
Penyakit ini disebabkan
oleh Chlamydia trachomatis. Masa tanpa gejala ber-langsung 7 – 21 hari.
Gejalanya adalah timbul peradangan pada alat reproduksi laki-laki dan
perempuan.
d. Trikomoniasis
vaginalis
Trikomoniasis adalah
PMS yang disebabkan oleh parasit Trikomonas vaginalis. Gejala dan
tanda-tandanya adalah: cairan vagina encer, berwarna kuning kehijauan, berbusa
dan berbau busuk. vulva agak bengkak, kemerahan, gatal dan terasa tidak nyaman,
nyeri saat berhubungan seksual atau saat kencing.
e. Kandidiasis
vagina
Kandidiasis vagina
merupakan keputihan yang disebabkan oleh jamur Candida albicans. Pada keadaan
normal, jamur ini terdapat di kulit maupun di dalam liang kemaluan perempuan.
Tetapi pada keadaan tertentu, jamur ini meluas sedemikian rupa sehingga
menimbulkan keputihan. Gejalanya berupa keputihan berwarna putih seperti susu,
bergumpal, disertai rasa gatal panas dan kemerahan pada kelamin dan di
sekitarnya. Penyakit ini tidak selalu tergolong PMS, tetapi pasangan seksual
dari perempuan yang terinfeksi jamur ini dapat mengeluh gatal dengan gejala
bintik-bintik kemerahan di kulit kelamin.
f. Kutil
kelamin
Penyebabnya adalah human papilloma
virus (HPV) dengan gejala yang khas yaitu terdapat satu atau beberapa kutil di
sekitar kemaluan. Pada perempuan, dapat mengenai kulit di daerah kelamin sampai
dubur, selaput lendir bagian dalam liang kemaluan sampai leher rahim. Bila
perempuan hamil, kutil dapat tumbuh sampai besar sekali.
A. HIV / AIDS
1. Pengertian
AIDS adalah singkatan
dari Aquired Immune Deficiency Syndrome. Penyakit ini adalah kumpulan gejala
akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang terjadi karena seseorang
terinfeksi virus HIV. HIV sendiri adalah singkatan dari Human Immuno Virus.
Orang yang terinfeksi oleh virus ini tidak dapat mengatasi serbuan infeksi
penyakit lain karena sistem kekebalan tubuhnya menurun terus secara drastis.
Apakah HIV / AIDS termasuk
PMS? Ya, karena salah satu cara penularannya adalah hubungan seksual dengan
orang yang telah terinfeksi virus HIV. Cara penularan ini merupakan yang
tersering di Indonesia dewasa ini.
2. Cara
penularannya
HIV terdapat pada
seluruh cairan tubuh manusia, tetapi yang bisa menularkan hanya yang terdapat
pada sperma (air mani), darah dan cairan vagina. Dengan demikian caracara
penularannya adalah sebagai berikut :
·
Berganti-ganti pasangan seksual, atau
berhubungan dengan orang yang positif terinfeksi virus HIV.
·
Pemakai jarum suntik bekas orang yang
terinfeksi virus HIV.
·
Menerima tranfusi darah yang tercemar
HIV.
·
Ibu hamil yang terinfeksi virus HIV akan
menularkannya ke bayi dalam kandungannya.
3. Etiologi
·
Penularan
HIV terjadi kalau ada cairan tubuh yang mengandung HIV,seperti hubungan seks dengan pasangan yang mengidap HIV, jarum
suntik,dan alat-alat penusuk (tato, penindik, dan cukur) yang tercemar HIV dan
ibu hamil yang mengidap HIV kepada janin atau disusui oleh wanita
·
Yang
mengidap HIV (+).Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terkena HIV lebih mungkin tertular.
·
Walaupun
janin dalam kandungan dapat terinfeksi ,sebagian besar penularan terjadi waktu
melahirkan atau menyusui, bayi lebih mungkin tertular jika persalinan berlanjut
lama.Selama proses persalinan, bayi dalam keadaan beresiko tertular oleh darah
ibu,Air susu ibu (ASI) dari ibu yang terinfeksi HIV juga mengandung virus itu.
Jadi jika bayi disusui oleh ibu HIV (+), bayi bisa tertular.
4. Faktor
resiko
·
Mempunyai
perilaku seksual berisiko tinggi yaitu melakukan seksual tanpa kondom dengan
banyak mitra seksual yang dapat berpotensi HIV/ AIDS
·
Mempunyai
riwayat infeksi menular seksual
·
Mempunyai
riwayat menerima transfuse darah berulang, tanpa tes penapisan awal
·
Mempunyai
perlukaan kulit, tato, tindik, atau sirkumsisi dengan alat yang tidak steril
dan bergantian
·
Sebagai
pemakai narkoti suntik terutama pemakaian jarum bersama secara bergantian tanpa
sterilisasi yang memadai.
5. Tanda dan gejala
Sesudah terjadi infeksi
virus HIV, awalnya tidak memperlihatkan gejala-gejala khusus. Baru beberapa
minggu sesudah itu orang yang terinfeksi sering kali menderita penyakit ringan
sehari-hari seperti flu atau diare. Penderita sering kali merasa sehat dan dari
luar memang tampak sehat. Sering kali 3-4 tahun penderita tidak memperlihatkan
gejala yang khas. Sesudahnya, tahun ke 5 atau 6 mulai timbul diare berulang,
penurunan berat badan secara mendadak, sering sariawan di mulut, dan terjadi
pembengkakan di daerah kelenjar getah bening.
6. Pencegahan
·
Tidak berganti-ganti pasangan tetap dan
menghindari hubungan seksual di luar nikah.
·
Menggunakan kondom, terutama kelompok
resiko tinggi seperti pekerja seks komersial.
·
Sedapat mungkin menghindari transfusi
darah yang tak jelas asalnya.
·
Menggunakan alat-alat medis dan
non-medis yang terjamin steril.
Tata cara mencegah penularan HIV
dari ibu ke bayi caranya dengan melakukan skrining yg baik, cara lainnya dengan
pemberian obat antiretroviral pada ibu positif HIV, selain itu dengan melakukan
persalinan yang aman pada saat persalinan, selama persalinan, setelah
persalinan.
Untuk mencegah HIV perlu juga
diberikan obat anti HIV pada ibu hamil yang diketahui terinfeksi HIV pada TM II
dan III, diberikan AZT peroral, sedangkan saat persalinan diberikan AZT melalui
infus, keada bayi baru lahir diberikan selama 6 minggu.
Pada persalinan normal kemungkinan
penularan HIV lebih besar sehingga pada ibu hamil di anjurkan untuk menjalani
operasi caesar.
Manajemen ibu hamil penderita AIDS
tanpa gejala atau dengan gejala, sebaiknya mendapatkan langkah- langkah sebagai
berikut :
·
Identifikasi Resiko Tinggi yaitu
pemakai narkotika intravena, pasangan seksualnya memakai narkotika intravena.
·
Dilakukan pemeriksaan darah terhadap
HIV.
·
Diberikan peningkatan pengetahuan
tentang HIV/ AIDS
·
Memberikan konseling mengenai masalah
HIV/ AIDS
B. HEPATITIS B DAN C
1. Pengertian
Hepatitis adalah
peradangan hati serius yang bisa dengan mudah ditularkan ke orang lain.
Penyakit ini diakibatkan oleh virus hepatitis. Ada beberapa jenis virus
hepatitis, termasuk hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis C. Jika tidak
tertangani dengan baik, hepatitis saat hamil bisa menyebabkan penyakit parah,
kerusakan hati, bahkan kematian. Ibu juga bisa menyebarkan virus ke bayinya.
Hepatitis B dan C adalah jenis hepatitis yang paling umum terjadi selama
kehamilan.
Hepatitis B adalah
bentuk hepatitis yang paling sering ditularkan dari ibu ke bayi di seluruh
dunia, dengan peningkatan risiko yang lebih besar jika Anda tinggal di negara
berkembang.
Sekitar 90% wanita
hamil dengan infeksi hepatitis B akut akan “mewarisi” virus tersebut ke bayi
mereka. Sekitar 10-20% wanita dengan infeksi hepatitis B kronis akan
menularkannya. Sekitar 4% ibu hamil yang terinfeksi virus hepatitis C akan
menyebarkannya ke bayi mereka. Risiko penyebaran penyakit dari ibu ke anak juga
terkait dengan seberapa banyak jumlah virus (viral load) dalam tubuh ibu dan
apakah dia juga terinfeksi oleh HIV.
2. Cara penularan
Hepatitis B dan C
menyebar melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi — misal cairan vagina
atau air mani. Itu berarti Anda bisa mendapatkannya dari hubungan seks tanpa
kondom dengan orang yang terinfeksi, atau ditusuk dengan jarum bekas pakai yang
digunakan oleh seseorang yang terinfeksi — baik jarum suntik narkoba, jarum
tato, maupun jarum suntik medis yang tidak steril. Akan tetapi risiko terkena
hepatitis C melalui hubungan seks tergolong rendah jika Anda hanya memiliki
satu pasangan untuk waktu yang lama. Hepatitis C paling sering terjadi pada
orang yang lahir antara tahun 1945 dan 1965. Untuk alasan ini, semua orang di
kelompok usia ini harus diuji untuk infeksi hepatitis C
3. Tanda
dan gejala
Gejala hepatitis termasuk mual dan
muntah, selalu kecapekan, kehilangan nafsu makan, demam, sakit perut (terutama
di sisi kanan atas, lokasi hati berada), sakit pada otot dan persendian, serta
jaundice alias penyakit kuning — kulit dan bagian putih mata yang menguning.
Masalahnya adalah, gejala bisa mungkin tidak muncul selama berbulanbulan atau
bertahun-tahun setelah infeksi, atau Anda mungkin tidak menunjukkan gejala sama
sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar