Selasa, 31 Agustus 2021

DETEKSI DINI PADA KASUS DEHIDRASI

 

                                            DETEKSI DINI PADA KASUS DEHIDRASI


A. DETEKSI DINI PADA KASUS DEHIDRASI

1. Pengertian

Dehidrasi adalah kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang

didapatkan, sehingga keseimbangan zat gula dan garam menjadi terganggu, akibatnya

tubuh tidak dapat berfungsi secara normal.

Kandungan air di dalam tubuh manusia yang sehat adalah lebih dari 60% total berat badan. Kandungan air yang ideal di dalam tubuh berfungsi untuk membantu kerja sistem pencernaan, mengeluarkan kotoran dan racun dari dalam tubuh, sebagai pelumas dan bantalan untuk persendian, melembapkan jaringan-jaringan pada telinga, tenggorokan, dan juga hidung, serta sebagai media transportasi nutrisi untuk sel-sel tubuh dan menjaga kulit tetap sehat.

  Dehidrasi yang parah atau berkepanjangan dan tidak diobati sering kali dapat menyebabkan kondisi yang disebut  hipovolemia . Dehidrasi terkadang dianggap sebagai permasalahan kondisi tubuh yang tidak perlu ditangani secara serius, dan kebanyakan anak-anak dan remaja menganggapnya sebagai

haus biasa. Namun, jika gejala awal dehidrasi tidak ditangani dengan baik, dapat mengganggu fungsi tubuh. 


2.Etiologi

Dehidrasi disebabkan oleh kekurangan asupan cairan dalam tubuh, atau tubuh lebih

banyak kehilangan cairan daripada asupannya. Cairan yang ada di dalam tubuh bisa

terbuang melalui urine,  muntah-muntah , diare, keringat, dan air mata. Selain itu, cuaca,

olahraga, dan makanan akan sangat memengaruhi tingkat keparahan dehidrasi.


  Dehidrasi dapat terjadi pada setiap orang, namun terdapat beberapa kelompok orang yang

lebih mudah terkena dehidrasi akibat risiko yang mereka miliki.


3.Tanda dan gejala

Dua pertanda awal dari dehidrasi adalah rasa haus dan urine berwarna kuning gelap. Ini adalah

cara tubuh ketika berusaha menambah cairan di dalam tubuh dan mengurangi pembuangan

cairan. Tergantung pada seberapa banyak tubuh Anda kehilangan cairan, dehidrasi terbagi

menjadi 2 tingkatan, yaitu ringan sedang, dan berat.


Dehidrasi Ringan Sedang

Dehidrasi ringan sedang pada akan menimbulkan:

 Rasa haus.

 Warna urine menjadi lebih pekat atau gelap.

 Jumlah dan frekuensi buang air kecil menurun.

 Mulut kering dan lengket.

 Mudah mengantuk dan cepat lelah.

 Sakit kepala.

 Sembelit.

 Pusing.

Anda bisa menyembuhkan proses dehidrasi pada tahap ini tanpa bantuan medis dengan

meminum lebih banyak cairan. Jika dehidrasi dibiarkan berlanjut dalam jangka waktu lama,

maka bisa memengaruhi fungsi ginjal dan meningkatkan risiko terkena  batu ginjal . Pada

akhirnya, juga bisa menyebabkan kerusakan otot.

Sedangkan pada anak-anak dan bayi, gejala-gejala dehidrasi adalah sebagai berikut:

 Saat menangis tidak mengeluarkan air mata.

 Mata terlihat cekung ke dalam.

 Menyusutnya ubun-ubun.

 Popok tetap kering selama 12 jam.

 Kulit terasa dingin dan kering.

 Mudah marah dan lesu.

 Mulut kering dan lengket.

 Kelelahan dan pusing.


Dehidrasi Berat

Dehidrasi bisa membahayakan jika dibiarkan saja dan tidak ditangani secepatnya. Dehidrasi

berat dianggap sebagai kondisi medis darurat dan butuh penanganan cepat. Gejala yang dapat

terjadi ketika mengalami dehidrasi berat adalah:

 Mudah marah dan tampak kebingungan.

 Air mata tidak keluar dan mulut terasa kering.

 Denyut jantung cepat, namun lemah.

 Sesak napas.

 Mata tampak cekung.

 Demam.

 Kulit menjadi tidak elastis (butuh waktu lebih lama untuk kembali ke asal setelah

dicubit).

 Tekanan darah rendah.

 Tidak buang air kecil selama 8 jam. Pada bayi, menjadi jarang mengganti popok.

 Sangat pusing atau mengantuk, terutama pada bayi dan anak-anak.

 Kejang.

 Penurunan kesadaran.

 Pada anak-anak dan bayi, kaki dan tangannya akan teraba dingin, serta tampak ruam-

ruam kecil (blotchy-looking) tanpa rasa gatal atau nyeri.

Dehidrasi pada tingkat ini membutuhkan perawatan di rumah sakit. Anda akan diberikan infus

untuk mengembalikan banyaknya cairan yang hilang. Jika tidak ditangani dengan serius, maka

bisa menimbulkan komplikasi.


Gejala-Gejala Dehidrasi pada Bayi

Berikut ini beberapa gejala dehidrasi pada anak yang harus dikenali orang tua:

 Mulut Bayi tampak kering dan bibir pecah-pecah.

 Frekuensi buang air kecil (BAK) menjadi jarang, bahkan tidak BAK selama lebih dari 6-

8 jam.

 Bayi menjadi sering mengantuk dan terlihat lebih lemas.

 Mata bayi yang terlihat lebih cekung.

 Kulit bayi menjadi lebih kering dan agak dingin.

 Anak terlihat tidak aktif.

 Frekuensi napas anak menjadi lebih cepat dan lebih dalam.

4. Komplikasi

Dehidrasi yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan timbulnya komplikasi pada

tubuh Anda. Beberapa komplikasi yang dapat muncul akibat dehidrasi yang tidak ditangani,

yaitu:

 Kejang yang muncul akibat gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh, terutama

natrium dan kalium.

 Permasalahan pada ginjal dan saluran kemih, terutama jika dehidrasi yang dialami terjadi

berulang kali. Dehidrasi dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, batu ginjal,  batu

kandung kemih , bahkan  gagal ginjal akut .

 Cedera akibat suhu tinggi (heat injury). Jika sedang melakukan aktivitas fisik berat,

namun tidak menjaga asupan cairan tubuh, dapat mengalami dehidrasi yang memicu

terjadinya heat injury. Gejala heat injury yang tergolong ringan bisa berupa kram.

Sedangkan gejala beratnya bisa berupa kelelahan dan heat stroke.

 Syok hipovolemik. Ini merupakan komplikasi akibat dehidrasi paling serius, dan bahkan

berpotensi membahayakan jiwa Anda. Kekurangan cairan dapat menyebabkan volume

darah di dalam tubuh menjadi berkurang, sehingga tekanan darah dan kadar oksigen

menjadi menurun.


5. Pencegahan

Saat mengalami dehidrasi ringan, orang tua bisa melakukan beberapa penanganan awal berikut:


1. Berikan asupan cairan yang cukup

Jika anak mengalami gejala dehidrasi, segera berikan asupan cairan yang cukup. Bunda bisa

memberinya air putih,  larutan oralit , atau cairan lain. Pemberian cairan ini berguna untuk

menggantikan cairan dan garam (elektrolit) yang hilang dari tubuh.


2. Berikan anak buah dan sayur yang mengandung banyak air

Bunda bisa memberikan buah dan sayur yang kaya akan kandungan air. Cara ini mampu

mengatasi dehidrasi ringan pada anak. Beberapa buah-buahan memiliki kandungan air cukup

banyak adalah  semangka , melon, jeruk,  pir , timun, dan strawberry.

Sementara sayuran yang mengandung cukup banyak air di antaranya adalah kembang

kol,  bengkoang , seledri, dan selada.


3. Pastikan anak mendapat istirahat yang cukup

Setelah mendapatkan asupan cairan yang memadai, pastikan anak beristirahat yang cukup. Hal

ini bertujuan untuk mempercepat proses pemulihannya.


4. Hindari memberi anak minuman berkafein

Saat anak mengalami dehidrasi, hindari memberi minuman yang mengandung kafein kepadanya.

Memberi  minuman berkafein pada anak  yang mengalami dehidrasi dapat memperburuk

kondisinya. Beberapa minuman yang mengandung kadar kafein adalah teh, minuman bersoda,

dan coklat.

Deteksi dini pada kasus gangguan cerna/ perut buncit dan cidera lahir

 

                      Deteksi dini pada kasus gangguan cerna/ perut buncit dan cidera lahir

1.      Gangguan Cerna

Gangguan pencernaan adalah istilah yang menggambarkan rasa tidak nyaman atau nyeri di perut bagian atas. Kondisi ini bukanlah sebuah penyakit, melainkan kumpulan dari sederet gejala.Kondisi yang juga disebut disebut indigestion ini sangat luas. Mulai dari sakit perut, perut kembung, perasaan begah padahal belum makan, hingga sering buang gas.Gangguan pencernaan juga dapat menjadi gejala dari penyakit saluran cerna lain. Contohnya, GERD, maag, penyakit celiac, hingga kanker usus.

 

Tanda Dan Gejala Gangguan Pencernaan

Secara umum, gejala gangguan pencernaan dapat meliputi:

·         Sensasi panas seperti terbakar di dada (heartburn) atau perut bagian atas

·         Rasa tidak nyaman di perut bagian atas

·         Mulas dan sakit perut

·         Kembung

·         Perasaan kenyang, padahal belum makan

·         Sering bersendawa

·         Mual dan muntah

 

Penyebab Gangguan Pencernaan

Ada berbagai penyakit atau kondisi medis yang dapat mempengaruhi sistem pencernaan dan menjadi penyebab gangguan pencernaan. Sederet penyakit yang umum memicu masalah pada sistem cerna meliputi:

  • Gastritis

Gastritis adalah peradangan, iritasi atau erosi pada dinding lambung. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penggunaan alkohol berlebih, muntah yang kronis, stres, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), atau infeksi.Gejala gastritis umumnya dapat berupa mual, nyeri perut, perut kembung, muntah-muntah, atau terlalu sering bersendawa.

 

 

 

·         Gastroesophageal reflux disease (GERD)

Gejala utama GERD adalah kembalinya makanan atau cairan asam ke kerongkongan (esofagus). GERD disebabkan oleh lemahnya katup esofagus, padahal katup ini berfungsi mencegah makanan dan asam lambung kembali ke kerongkongan.GERD akan memicu iritasi pada kerongkongan yang menimbulkan berbagai gejala, seperti heartburn, nyeri dada, dan mual.

·         Penyakit celiac

Penyakit celiac merupakan kelainan autoimun yang menyebabkan usus halus menjadi alergi terhadap gluten. Konsumsi gluten akan memicu sistem kekebalan tubuh menyerang usus halus, sehingga akan mengganggu fungsi penyerapan nutrisi pada usus halus.Gejala penyakit celiac bisa berupa perut kembung, diare atau sembelit, ruam pada kulit, hingga penurunan berat badan. Bila terjadi pada anak-anak, pertumbuhan yang terhambat dapat menjadi salah satu penandanya.

·         Diare

Diare adalah buang air besar (BAB) dengan tinja lebih encer atau cair. Frekuensi BAB juga akan lebih sering, yakni tiga kali per hari. Keluhan ini juga sering disertai dengan nyeri, kram perut, mual, atau muntah.Diare dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Tapi kondis lain juga bisa memicu diare. Contohnya, keracunan makanan, penggunaan obat-obatan tertentu, atau penyakit lain (seperti penyakit celiac atau penyakit Crohn).Obat antidiare dan konsumsi cukup cairan sangat penting dalam mengatasi diare. Dengan ini, dehidrasi bisa dihindari.

·         Wasir

Wasir atau hemoroid merupakan pembengkakan pada pembuluh darah di sekitar dubur. Kondisi ini terjadi karena adanya tekanan tinggi di dalam perut karena mengejan saat BAB, diare, atau kehamilan.Terdapat dua tipe hemoroid, yaitu hemoroid eksternal dan hemoroid internal. Sesuai namanya, jenis eksternal adalah wasir yang mencuat keluar dari anus, dan tipe internal berada dalam dinding anus.

·         Tukak peptik

Tukak peptik atau ulkus peptikum adalah kondisi yang ditandai dengan adanya lubang kecil pada dinding lambung atau bagian atas usus halus.Bila terjadi di dinding lambung, kondisi ini dikenal dengan nama tukak lambung. Sementara jika muncul pada bagian atas usus halus, tukak ini disebut tukak duodenum.  

·         Irritable bowel syndrome (IBS)

Irritable bowel syndrome merupakan kondisi ketika otot usus besar berkontraksi lebih sering daripada normal. Konsumsi makanan tertentu, obat-obatan, dan stres emosional dapat menjadi faktor pemicu IBS. Gejalanya dapat berupa nyeri, kram perut, kembung, diare, atau sulit BAB.

 

 

·         Inflammatory bowel disease (IBD)

Inflammatory bowel disease atau IBD adalah kondisi peradangan kronis pada saluran pencernaan. Terdapat dua jenis IBD, yaitu kolitis ulseratif dan penyakit Crohn.Kolitis ulseratif merupakan peradangan dan luka pada usus besar dan rektum. Sedangkan penyakit Crohn adalah peradangan pada sepanjang saluran pencernaan, baik usus halus dan usus besar.Gejala yang ditimbulkan dapat berupa diare kronis, sakit perut, mudah lelah, dan penurunan berat badan.

·         Polip dan kanker kolorektal

Polip merupakan benjolan yang terdapat pada lapisan dalam usus besar. Salah satunya, polip adenoma yang dapat berkembang menjadi kanker kolorektal.Kanker kolorektal tumbuh perlahan-lahan dan umumnya baru menimbulkan gejala ketika ukurannya sudah cukup besar.

·         Batu empedu

Adanya batu empedu dapat menyebabkan nyeri pada bagian perut kanan atas. Rasa nyeri biasanya muncul ketika pasien mengonsumsi makanan yang kaya lemak.Batu empedu juga dapat menyebabkan mual, muntah, urine berwarna gelap, atau feses berwarna pucat seperti dempul.Munculnya batu empedu disebabkan oleh kolesterol yang mengeras dan membentuk butiran batu dalam kantong empedu. 

Faktor risiko gangguan pencernaan

Beberapa faktor yang dapat mengganggu fungsi pencernaan dan meningkatkan risikonya meliputi:

·         Pola makan yang rendah serat

·         Kurang gerak dan jarang olahraga

·         Bepergian ke tempat asing

·         Perubahan pada rutinitas

·         Banyak mengonsumsi produk olahan susu

·         Kelebihan berat badan atau obesitas

·         Stres

·         Mengonsumsi obat antasida yang mengandung kalsium atau aluminium

·         Menggunakan obat tertentu, seperti antidepresan, suplemen zat besi, dan obat nyeri

 

 

 

 

 

   Cara mencegah gangguan pencernaan

Cara mencegah gangguan pencernaan yang utama adalah :

·         Makan dalam porsi kecil, tapi sering

·         Mengunyah makanan perlahan-lahan hingga benar-benar lunak

·         Menjauhi makanan asam seperti buah jeruk

·         Menghindari makanan dan minuman yang mengandung kafein

·         Mengatasi stres

·         Tidak memakai baju ketat karena bisa menekan perut, sehingga memicu isi perut kembali naik ke kerongkongan

·         Jangan berbaring tepat setelah makan, berikan jarak setidaknya tiga jam setelah makan

·         Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi dari kaki agar makanan tidak kembali naik ke kerongkongan.

 

Komplikasi gangguan pencernaan

Apabila tidak ditangani dengan benar, gangguan pencernaan bisa memicu berbagai komplikasi. Jenis komplikasi yang muncul akan berbeda-beda dan tergantung penyebabnya.Sebagai contoh, diare dapat menyebabkan dehidrasi bila terus dibiarkan. Sementara gastritis bisa memicu perdarahan pada sistem pencernaan dan meningkatkan risiko kanker lambung.

 

 

2.  Perut Buncit

Pengertian

Perut buncit yang terlihat seperti perut gendut dapat diidentifikasi dari bertambahnya ukuran pinggang akibat adanya penumpukan lemak perut. Hal ini dapat terjadi karena berbagai hal, termasuk pola makan yang buruk, kurang olahraga dan kondisi kesehatan tertentu.Jenis lemak yang terkumpul di perut memiliki dua jenis tipe, yakni:

Viseral: lemak aktif yang membalut organ-organ di ruang perut di dalam tubuh.

Subkutan: jenis lemak yang terletak di bawah lapisan kulit, dapat dirasakan ketika saat kita mencubit bagian tubuh.

Lemak viseral biasanya terpisah dari jenis lemak tubuh secara keseluruhan. Seseorang yang kurus atau ideal berat badannya pun bisa memiliki perut buncit jika terdapat lemak viseral yang menumpuk.Untuk mengetahui apakah Anda memiliki lemak berlebih di area perut, lingkarkan pita meteran pengukur badan di bagian pinggang, sejajar melintang dengan pusar. Ukuran pingang di atas 90 cm pada laki-laki dan 80 cm pada perempuan, menandakan adanya lemak perut yang berlebih.Selain memengaruhi penampilan, perut gendut sering dikaitkan dengan berbagai jenis penyakit. Akibat perut buncit, risiko untuk terkena penyakit jantung, diabetes tipe 2 dan beberapa jenis kanker dapat meningkat.

Penyebab perut buncit

Penyebab umum dari perut buncit di antaranya adalah:

1.      Pola makan tidak sehat

Makanan dan minuman tinggi gula seperti kue, permen atau soda dan jus buah kemasan dapat memicu terjadinya:

ü  Menyebabkan penambahan berat badan

ü  memperlambat metabolisme

ü  mengurangi kemampuan tubuh untuk membakar lemak

Diet rendah protein dan tinggi karbohidrat juga dapat memengaruhi berat badan. Sebab, Protein dapat membuat tubuh merasa kenyang lebih lama. Jadi, orang yang kurang asupan proteinnya akan merasa cepat lapar sehingga memicu untuk makan lebih banyak.Selain itu, lemak trans atau lemak jenuh dapat menyebabkan penumpukan lemak di perut. Lemak ini ada di banyak makanan. Umumnya digunakan untuk memperpanjang umur simpan makanan kemasan seperti pada makanan cepat saji dan makanan yang dipanggang, misalnya roti-rotian atau kerupuk.Pola makan yang minim serat juga dapat mengacaukan berat badan. Serat sangat penting mengontrol berat badan. Sebab, beberapa jenis serat dapat membantu tubuh merasa kenyang, menstabilkan hormon lapar dan mengurangi penyerapan kalori dari makanan.

2.      Kurang aktif bergerak

Salah satu penyebab paling umum dari perut bergelambir adalah mengonsumsi lebih banyak kalori daripada yang dibutuhkan tubuh. Hal ini sering terjadi pada orang yang kurang berolahraga.Gaya hidup yang tidak aktif menyulitkan seseorang untuk membuang lemak berlebih, terutama di sekitar perut.

3.      Penuaan

Seiring bertambahnya usia, metabolisme tubuh secara alami akan melambat. Hal ini kemudian menyebabkan tubuh membakar kalori lebih sedikit, dan total lemak tubuh secara bertahap akan meningkat. Wanita cenderung mendapatkan porsi lemak yang lebih tinggi daripada pria saat mereka menua.Selain itu, massa otot tubuh juga akan sedikit berkurang saat bertambahnya usia. Kehilangan massa otot akan menurunkan laju penggunaan kalori, yang membuat tubuh lebih sulit untuk mempertahankan berat badan yang sehat.

4.      Konsumsi alkohol berlebihan

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa alkohol bisa menekan pembakaran lemak dan kalori yang terkandung dalam alkohol sebagian akan disimpan sebagai lemak perut. Oleh karena itu, perut gendut akibat terlalu banyak alkohol sering juga disebut beer belly.Satu studi menemukan fakta bahwa pria yang mengonsumsi lebih dari tiga minuman beralkohol per hari, 80% lebih mungkin memiliki perut berlemak daripada pria yang mengonsumsi lebih sedikit alkohol.

 

5.   Makan sebelum tidur

Apakah Anda selalu merasa lapar sebelum tidur atau tidak bisa tidur dalam keadaan lapar? Sebenarnya tubuh memang secara alami membakar sebagian timbunan lemak saat tidur, namun jika Anda tidur dalam keadaan perut penuh maka tubuh tidak akan membakar secara efisien. Hal tersebut, tentu akan semakin menambah timbunan lemak di perut.

Tidak hanya makan sebelum tidur saja, bahkan berbaring ketika perut dalam keadaan kenyang dapat menyebabkan risiko terkena refluks asam lambung dan gangguan pencernaan. Hal itu terjadi karena perubahan gravitasi, sehingga tubuh tidak mampu menarik makanan di perut menuju ke bawah.

Oleh karena itu, jangan jadikan makan sebelum tidur sebuah kebiasaan. Setidaknya dua sampai tiga jam sebelum tidur. Hindarilah juga langsung berbaring usai makan.

 

6.      Faktor genetic

Faktor keturunan juga bisa menjadi penyebab perut buncit. Ada orang yang secara genetik cenderung mudah gendut di bagian perutnya daripada bagian lain.Para Ilmuwan berpikir gen dapat mempengaruhi perilaku, metabolisme, dan risiko yang lebih tinggi untuk membuat seseorang mengidap kelebihan berat badan atau obesitas.

7.      Kesehatan mental

Stres akibat kehidupan sehari-hari juga bisa menjadi faktor kenaikan berat badan. Suatu penelitian mengungkapkan, kadar kortisol (hormon stres) yang yang menumpuk dalam jangka waktu lama di tubuh sering dikaitkan sebagai penyebab perut buncit.Beberapa kondisi kesehatan mental juga dapat mengakibatkan penambahan berat badan. Misalnya, salah satu riset yang menyatakan bahwa tingkat obesitas sebesar 60% terjadi pada orang dengan gangguan bipolar dan skizofrenia.

8.      Bakteri usus yang tidak seimbang

Bakteri di usus yang dikenal sebagai flora usus atau mikrobioma berfungsi untuk menjaga kesehatan sistem kekebalan dan melindungi tubuh dari penyakit. Ketidakseimbangan pada jumlah mikrobioma tersebut dapat memicu peningkatan berat badan, termasuk di area perut.Para peneliti menyatakan bahwa orang gemuk cenderung memiliki lebih banyak bakteri Firmicutes daripada orang dengan berat badan normal. Pasalnya, jenis bakteri ini dapat meningkatkan jumlah kalori yang diserap dari makanan.

 

 

9.      Kurangnya waktu tidur

Sebuah studi yang digubah Journal of Clinical Sleep Medicinemengaitkan perut berlemak dengan durasi tidur yang singkat. Kurangnya waktu tidur ternyata dapat menyebabkan kelebihan lemak perut yang memicu penambahan berat badan.Kualitas buruk dan durasi tidur yang singkat juga berpotensi menyebabkan perilaku makan yang tidak sehat, seperti makan karena dorongan emosional.

10.  Merokok

Merokok mungkin bukan merupakan penyebab langsung dari terbentuknya lemak perut, tetapi merokok adalah faktor risiko pada obesitas.Sebuah studi menunjukkan bahwa, meskipun obesitas dapat terjadi pada siapa saja, namun, lemak perut dan viseral pada perokok memiliki kadar yang lebih tinggi dibandingkan pada orang yang tidak merokok.

 

Cara mengecilkan perut buncit

ü  Cara mengecilkan perut buncit dengan berolahraga yang teratur

ü  Mengonsumsi madu dan Jahe

ü  Memperbanyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan

ü  Membatasi makanan dengan kadar gula yang tinggi

ü  Tidak makan menjelang tidur

 

 

 

3.      Cidera Lahir

Pengertian

Cidera lahir adalah kelainan pada bayi baru lahir yang terjadi karena trauma lahir akibat tindakan, cara persalinan atau gangguan persalinan yang di akibatkan kelainan fisiologik persalinan. Misalnya persalinan dengan tindakan ekstraksi vakum, forcep, kelahiran dengan presentasi bokong, presentasi muka dan kelahiran letak lintang.

Apa yang menyebabkan cedera brachial plexus?

Cedera brachial plexus cenderung terjadi ketika bahu dipaksa turun, sementara leher terentang ke atas dan menjauh dari bahu yang cedera. Cedera ini dapat terjadi dengan beberapa cara, termasuk:

 

 

1.      Olahraga.

Umumnya, para pemain sepak bola rentan mengalami luka bakar atau sengatan, yang dapat terjadi ketika saraf brachial plexus meregang melebihi batasnya saat bertabrakan dengan pemain yang lain.

Proses melahirkan yang sulit.

Inilah mengapa bayi yang baru lahir dapat mengalami cedera brachial plexus. Ini berkaitan dengan berat badan lahir tinggi, ukuran bokong, atau persalinan yang terlalu lama. Jika bahu bayi terjepit saat proses persalinan (biasanya di jalan lahir), ada peningkatan risiko cedera brachial plexus.

Trauma.

Beberapa jenis trauma, seperti kecelakaan kendaraan bermotor, sepeda motor, jatuh, atau luka tembak, dapat mengakibatkan cedera brachial plexus.

Tumor dan perawatan kanker.

Tumor bisa saja tumbuh di dalam atau di sepanjang brachial plexus, menekan, atau menyebar ke brachial plexus. Hal ini dapat meningkatkan risiko terkena cedera. Selain itu, perawatan radiasi ke area dada juga dapat menyebabkan kerusakan pada brachial plexus.

Jenis cedera brachial plexus

Jenis cedera brachial plexus dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahannya. Sebagian orang mungkin fungsi motorik dan sensoriknya dapat kembali normal, tetapi bisa juga berakhir dengan cacat seumur hidup, karena tidak dapat menggerakkan atau merasakan bagian tangannya. Adapun jenis cedera brachial plexus berdasarkan seberapa parah kerusakan saraf, yaitu:

Avulsi, akar saraf benar-benar terpisah dari sumsum tulang belakang. Ini adalah jenis  cedera brachial plexus yang paling parah.

Neuropraksia, saraf mengalami peregangan, umumnya kondisi ini tidak parah.

Rupture, bagian saraf pecah, di mana saraf robek menjadi dua bagian.

Neuroma, terbentuknya jaringan parut pada saraf yang meregang saat memperbaiki dirinya sendiri.

Neuritis brakialis, yaitu sindrom langka yang penyebabnya tidak dapat diidentifikasi. Kondisi ini disebut juga dengan sindrom Parsonage-Turner.

Sementara itu, cedera brachial plexus saat lahir disebut juga dengan kelumpuhan Erb (Erb’s palsy) memengaruhi 1 – 2 bayi dalam setiap 1.000 kelahiran.

 

 

Tanda - tanda dan gejala cedera ini terjadi?

Tanda dan gejala cedera brachial plexus bergantung dengan tingkat keparahan tingkat keparahan dan lokasi cedera terjadi. Biasanya, hanya satu lengan yang terpengaruh.

Cedera ringan.

Cedera brachial plexus ringan sering terjadi selama olahraga kontak, seperti sepak bola atau gulat, saat saraf brachial plexus meregang atau tertekan. Cedera ini yang disebut dengan penyengat atau pembakar dengan gejala:

ü  Perasaan, seperti sengatan listrik atau sensasi terbakar cepat ke lengan.

ü  Mati rasa dan kelemahan di lengan.

Gejala tersebut dapat berlangsung hanya beberapa detik atau menit, tetapi pada beberapa orang, gejala bisa berlangsung selama berhari-hari, bahkan lebih.

Cedera parah.

Cedera saraf dapat lebih parah jika melukai, bahkan merobek atau merusak akar saraf brachial plexus dari sumsum tulang belakang. Tanda dan gejala cedera yang parah ini, meliputi:

ü  Lemah atau tidak mampu menggunakan otot tertentu di tangan, lengan, atau bahu.

ü  Kurangnya fungsi gerakan dan perasaan di lengan, bahu, dan tangan.

ü  Sakit parah.

Komplikasi dari cedera brachial plexus?

Dalam beberapa kasus cedera brachial plexus dapat menyebabkan komplikasi yang bersifat sementara atau permanen, seperti:

ü  Sendi yang kaku.

ü  Rasa sakit.

ü  Mati rasa di tangan, lengan, dan bahu.

ü  Atrofi otot.

 

Upaya untuk mencegah cedera ini terjadi?

Meskipun cedera brachial plexus sering kali tidak dapat dicegah, tetapi Anda dapat mengambil langkah untuk mengurangi risiko komplikasi setelah cedera terjadi, yaitu:

ü  Melakukan latihan rentang gerak harian dan terapi fisik untuk membantu mencegah kekakuan sendi.

ü  Jika Anda mengalami mati rasa, hindari luka bakar atau luka lainnya, karena Anda mungkin tidak merasakannya.

ü  Pastikan Anda mengemudi dengan aman.

Pertahankan gerakan tubuh yang baik selama berolahraga.

Cedera brachial plexus dapat menyebabkan lumpuh permanen, meskipun mungkin Anda telah menjalani operasi. Oleh sebab itu, walaupun hanya terlihat seperti cedera ringan, tetapi tidak menutup kemungkinan Anda memerlukan perawatan medis. 

 

Jumat, 27 Agustus 2021

DETEKSI DINI PADA KASUS BBLR HIPOTERMI / HIPOTERMIA

                               DETEKSI DINI PADA KASUS BBLR HIPOTERMI / HIPOTERMIA

DAN GANGGUAN PERNAFASAN

A.    DETEKSI DINI PADA KASUS BBLR HIPOTERMI / HIPOTERMIA DAN GANGGUAN PERNAFASAN

DETEKSI DINI KASUS BBLR

1.      Pengertian

Bayi lahir dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu factor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya, sehingga membutahkan biaya perawatan yang tinggi.

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah salah satu hasil dari ibu hamil yang menderita energy kronis dan akan mempunyai status gizi buruk. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius pada kualitas generasi mendatang, yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkambangan anak, serta berpengaruh pada penurunan kecerdasan.

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram (Arief, 2009).

Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram) (Sarwono).

Dahulu bayi baru lahir yang berat badan lahir kurang atau sama dengan 2500 gram disebut premature. Untuk mendapatkan keseragaman pada kongres European Perinatal Medicine II di London (1970), telah disusun definisi sebagai berikut :

a.       Preterm infant (premature) atau bayi kurang bulan : bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari)

b.      Term infant atau bayi cukup bulan : bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu sampai dengan 42 minggu (259-293 hari)

c.       Post term atau bayi lebih bulan : bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih).

2.      Etiologi

Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran premature. Faktor ibu yang lain adalah umur, parietas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta factor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR.

BBLR dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

Faktor Ibu

a.       Penyakit:

·         Toksemia gravidarum

·         Perdarahan antepartum

·         Truma fisik dan psikologis

·         Nefritis akut

·         Diabetes mellitus

b. Usia Ibu

·         Usia < 16 tahun

·         Usia > 35 tahun

·         Multigravida yang jarak kelahirannya terlalu dekat

c.       Keadaan sosial

·         Golongan social ekonomi rendah

·         Perkawinan yang tidak sah

d.      Sebab lain

·         Ibu yang perokok

·         Ibu peminum alcohol

·         Ibu pecandu narkotik

Faktor janin

·         Hidramnion

·         Kehamilan ganda

·         Kelainan kromosom

Faktor lingkungan

·         Tempat tinggal dataran tinggi

·         Radiasi

·         Zat-zat racun

3.      Tanda dan gejala

Gambaran klinis BBLR secara umum adalah :

·         Berat kurang dari 2500 gram

·         Panjang kurang dari 45 cm

·         Lingkar dada kurang dari 30 cm

·         Lingkar kepala kurang dari 33 cm

·         Umur kehamilan kurang dari 37 minggu

·         Kepala lebih besar

·         Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang

·         Otot hipotonik lemah

·         Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea

·         Eksremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi – lurus

·         Kepala tidak mampu tegak

·         Pernapasan 40 – 50 kali / menit

·         Nadi 100 – 140 kali / menit

Gambaran klinis BBLR secara khusus :

a.       Tanda – tanda Bayi Prematur

1)      BB kurang dari 2500 gr, PB kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, lingkar dada kurang 30 cm.

2)      Umur kehamilan kurang dari 37 mg.

3)      Kepala relatif lebih besar dari pada badannya.

4)      Rambut tipis dan halus, ubun – ubun dan sutura lebar.

5)      Kepala mengarah ke satu sisi.

6)      Kulit tipis dan transparan, lanugo banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik usus.

7)      Tulang rawan dan daun telinga imatur.

8)      Puting susu belum terbentuk dengan baik.

9)      Pergerakan kurang dan lemah.

10)  Reflek menghisap dan menelan belum sempurna.

11)  Tangisnya lemah dan jarang, pernafasan masih belum teratur.

12)  Otot – otot masih hipotonis sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua paha abduksi, sendi lutut dan pergelangan kaki fleksi atau lurus.

13)  Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh labia mayora (pada wanita), dan testis belum turun (pada laki laki).

b.      Tanda – tanda pada Bayi Dismatur

1)      Preterm sama dengan bayi premature

2)      Term dan post term :

a. Kulit pucat atau bernoda, keriput tipis.

b. Vernik caseosa sedikit / kurang atau tidak ada.

c. Jaringan lemak di bawah kulit sedikit.

d. Pergerakan gesit, aktif dan kuat.

e. Tali pusat kuning kehijauan.

f. Mekonium kering.

g. Luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibandingkan BB.

            4. Klasifikasi BBLR

Berdasarkan BB lahir

·         BBLR : BB < 2500gr

·         BBLSR : BB 1000-1500gr

·         BBLASR : BB <1000 gr

Berdasarkan umur kehamilan

1.      Prematur

Adalah bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan  mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau  disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa Kehamilan ( NKB- SMK).

2.      Dismaturitas.

Adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan post term. Dismatur ini dapat juga Neonatus Kurang Bulan – Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK), Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NCB-KMK ), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NLB- KMK )

 

HIPO / HIPERTERMI

1. Pengertian hipotermi / hipotermia

Bayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan dibawah normal. Adapun suhu normal bayi adalah 36,5-37,5 °C. Suhu normal pada neonatus 36,5-37,5°C (suhu ketiak). Hipotermi merupakan salah satu penyebab tersering dari kematian bayi baru lahir, terutama dengan berat badan kurang dari 2,5 Kg.

Bayi – bayi yang sangat rawan terhadap hipotermi yaitu :

                               a.            Bayi kurang bulan / premature

                              b.            Bayi berat lahir rendah

                               c.            Bayi sakit

2.      Etiologi hipotermi / hipotermia

·         Jaringan lemak subkutan tipis.

·         Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar.

·         Cadangan glikogen dan brown fat sedikit.

·         BBL (Bayi Baru Lahir) tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan.

·         Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang beresiko tinggi mengalami hipotermi.

·         Ketika bayi baru lahir tidak segera dibersihkan, terlalu cepat dimandikan, tidak segera diberi pakaian, tutup kepala, dan dibungkus, diletakkan pada ruangan yang dingin, tidak segera didekapkan pada ibunya, dipisahkan dari ibunya, tidak segera disusui ibunya.

·         Bayi berat lahir rendah yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg atau bayi dengaan lingkar lengan kurang dari 9,5 cm atau bayi dengan tanda-tanda otot lembek, kulit keriput.

·         Bayi lahir sakit seperti asfiksia, infeksi sepsis dan sakit berat.

3.      Tanda dan gejala hipotermi / hipotermia

·         Suhu <36°C

·         Kaki dan tangan bayi teraba lebih dingin dibandingkan dengan bagian dada

·         Aktivitas berkurang

·         Kemampuan menghisap lemah

·         Tangisan lemah

·         Ujung jari tangan dan kaki kebiruan

4.      Komplikasi hipotermi / hipotermia

·         Aritmia jantung

·         Edema paru

·         Perdarahan saluran cerna

·         Akut tubular nekrosis

·         Asidosis metabolic

·         Trombosis intravascular

5.      Upaya pencegahan

·         Ruang bersalin yang hangat

·         Pengeringan bayi segera setelah lahir

·         Kontak kulit dengan kulit

·         Pemberian Air Susu Ibu

·         Menunda memandikan & Mmenimbang bayi

·         Pakaian & selimut yang tepat

·         Rawat gabung

·         Resusitasi hangat

·         Pelatihan dan sosialisasi rantai hangat

Hipotermi Sedang (32 – 25,9 )

·         Pakaian hangat, topi, serta selimut yang hangat

·         ASI dan perawatan bayi lekat apabila dimungkinkan. • Gunakan inkubator / radiant warmer

·         Periksa kadar gula darah , terapi hipoglikemia sesuai indikasi

·         Pengawasan dan penanganan segera adanya tanda-tanda kegawatan

·         Pantau suhu tubuh bayi setiap jam :

Bila suhu naik minimal 0,5 / jam, lanjutkan memeriksa suhu setiap 2 jam

Bila suhu tidak naik / naik terlalu pelan kurang dari 0,5 /jam, penanganan kearah sepsis.

·         Setelah suhu normal :

Lakukan perawatan lanjutan

Pantau bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhunya setiap 3 jam.

Hipotermi Berat :

·         Segera hangatkan bayi dibawah radiant warmer, rawat di dalam incubator

·         Pakaian yang hangat, topi

·         Pasang jalur IV pemberian cairan sesuai kebutuhan, dengan pipa infus terpasang dibawah pancaran panas, untuk menghangatkan

·         Periksa kadar gula darah , terapi hipoglikemia sesuai indikasi

·         Pengawasan dan penanganan segera adanya tanda-tanda kegawatan

·         Pemberian antibiotika

·         ASI / menyusu ibu apabila memungkinkan

·         Pantau suhu tubuh bayi setiap jam, apabila terdapat kenaikan paling tidak 0,5 / jam lanjutkan dengan memeriksa suhu tubuh bayi setiap 2 jam

·         Setelah suhu tubuh bayi normal , lakukan perawatan lanjutan untuk bayi

 

DETEKSI DINI PADA KASUS ASFIKSIA DAN GANGGUAN NAPAS PADA BBL

1.      Pengertian

Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan (Asuhan Persalinan Normal, 2007).

Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir.

2.      Etiologi

Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat clan bayi berikut ini:

1. Faktor ibu

a) Preeklampsia dan eklampsia

b) Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)

c) Partus lama atau partus macet

d) Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)

e) Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)

2. Faktor Tali Pusat

a) Lilitan tali pusat

b) Tali pusat pendek

c) Simpul tali pusat

d) Prolapsus tali pusat

3. Faktor Bayi

a) Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)

b) Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)

c) Kelainan bawaan (kongenital)

d) Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)

3. Klasifikasi

Asfiksia Neonatorum dapat dibagi dalam tiga klasifiasi:

1. Asfiksia neonatorum ringan : Skor APGAR 7-10. Bayi dianggap sehat, dan tidak memerlukan tindakan istimewa

2. Asfiksia neonatorum sedang : Skor APGAR 4-6. Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.

3. Asfiksia neonatorum berat : Skor APGAR 0-3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/menit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada, pada asfiksia dengan henti jantung yaitu bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap atau bunyi jantung menghilang post partum pemeriksaan fisik sama asfiksia berat.

4. Tanda dan gejala

·         Tidak bernafas atau bernafas megap-megap

·         Warna kulit kebiruan

·         Kejang

·         Penurunan kesadaran

·         DJJ lebih dari 160x/mnt atau kurang dari l00x/menit tidak teratur

Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala

Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL

     Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL 1. Pengertian      Kejang pada bayi baru lahir adalah kejang yang terjadi ...