I.
PR PRINSIP
GIZI PADA SAAT PERSALINAN
Status gizi adalah keadaan kesehatan
tubuh seseorang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat
gizi makanan. Status ini merupakan tanda-tanda atau penampilan seseorang akibat
keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi yang berasal dari pangan
yang dikonsumsi (Sunarti, 2004).
KEBUTUHAN OKSIGEN
Pemenuhan
kebutuhan oksigen selama proses persalinan perlu diperhatikan oleh bidan,
terutama pada kala I dan kala II, dimana oksigen yang ibu hirup sangat penting
artinya untuk oksigenasi janin melalui plasenta. Suply oksigen yang tidak
adekuat, dapat menghambat kemajuan persalinan dan dapat mengganggu
kesejahteraan janin. Oksigen yang adekuat dapat diupayakan dengan pengaturan
sirkulasi udara yang baik selama persalinan. Ventilasi udara perlu
diperhatikan, apabila ruangan tertutup karena menggunakan AC, maka pastikan
bahwa dalam ruangan tersebut tidak terdapat banyak orang. Hindari menggunakan
pakaian yang ketat, sebaiknya penopang payudara/BH dapat dilepas/ dikurangi
kekencangannya. Indikasi pemenuhan kebutuhan oksigen adekuat adalah Denyut
Jantung Janin (DJJ) baik dan stabil.
KEBUTUHAN CAIRAN DAN NUTRISI
Kebutuhan cairan dan nutrisi (makan dan
minum) merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi dengan baik oleh ibu selama
proses persalinan. Pastikan bahwa pada setiap tahapan persalinan (kala I, II,
III, maupun IV), ibu mendapatkan asupan makan dan minum yang cukup. Asupan
makanan yang cukup (makanan utama maupun
makanan ringan), merupakan sumber dari glukosa darah. Glukosa darah merupakan
sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Kadar gula darah yang rendah akan
mengakibatkan hipoglikemia. Sedangkan asupan cairan yang kurang, akan
mengakibatkan dehidrasi pada ibi bersalin.
Pada ibu bersalin, hipoglikemia dapat
mengakibatkan komplikasi persalinan baik ibu maupun janin. Pada ibu, akan
mempengaruhi kontraksi/his, sehingga akan menghambat kemajuan persalinan dan
meningkatkan insiden persalinan dengan tindakan, serta dapat meningkatkan
risiko perdarahan postpartum. Pada janin, akan mempengaruhi kesejahteraan
janin, sehingga dapat mengakibatkan komplikasi persalinan seperti asfiksia.
Dehidrasi pada ibu bersalin dapat mengakibatkan melambatnya kontraksi/his, dan
mengakibatkan kontraksi menjadi tidak teratur. Ibu yang mengalami dehidrasi
dapat diamati dari bibir yang kering, peningkatan suhu tubuh, dan eliminasi
yang sedikit.
KEBUTUHAN ELIMINASI
Pemenuhan
kebutuhan eliminai selama persalinan perlu difasilitasi oleh bidan, untuk
membantu kemajuan persalinan dan meningkatkan kenyamanan pasien. Anjurkan ibu
untuk berkemih secara spontan sesering mungkin atau minimal setiap 2 jam sekali
selama persalinan. Kandung kemih yang penuh, dapat mengakibatkan:
·
Menghambat proses
penurunan bagian terendah janin ke dalam rongga panggul, terutama apabila
berada di atas spina isciadika
·
Menurunkan efisiensi
kontraksi uterus/his
·
Mengingkatkan rasa
tidak nyaman yang tidak dikenali ibu karena bersama dengan munculnya kontraksi
uterus
·
Meneteskan urin selama
kontraksi yang kuat pada kala II
·
Memperlambat kelahiran
plasenta
·
Mencetuskan perdarahan
pasca persalinan, karena kandung kemih yang penuh menghambat kontraksi uterus.
KEBUTUHAN HYGIENE
(KEBERSIHAN PERSONAL)
Kebutuhan hygiene (kebersihan) ibu
bersalin perlu diperhatikan bidan dalam memberikan asuhan pada ibu bersalin,
karena personal hygiene yang baik dapat membuat ibu merasa aman dan relax,
mengurangi kelelahan, mencegah infeksi, mencegah gangguan sirkulasi darah,
mempertahankan integritas pada jaringan dan memelihara kesejahteraan fisik dan
psikis. Tindakan personal hygiene pada ibu bersalin yang dapat dilakukan bidan
diantaranya: membersihkan daerah genetalia (vulva-vagina, anus), dan
memfasilitasi ibu untuk menjaga kebersihan badan dengan mandi.
Mandi pada saat persalinan tidak
dilarang. Pada sebagian budaya, mandi sebelum proses kelahiran bayi merupakan
suatu hal yang harus dilakukan untuk mensucikan badan, karena proses kelahiran
bayi merupakan suatu proses yang suci dan mengandung makna spiritual yang
dalam. Secara ilmiah, selain dapat membersihkan seluruh bagian tubuh, mandi
juga dapat meningkatkan sirkulasi darah, sehingga meningkatkan kenyamanan pada
ibu, dan dapat mengurangi rasa sakit. Selama proses persalinan apabila
memungkinkan ibu dapat diijinkan mandi di kamar mandi dengan pengawasan dari
bidan.
Pada kala I fase aktif, dimana terjadi
peningkatan bloodyshow dan ibu sudah tidak mampu untuk mobilisasi, maka bidan
harus membantu ibu untuk menjaga kebersihan genetalianya untuk menghindari
terjadinya infeksi intrapartum dan untuk meningkatkan kenyamanan ibu bersalin.
Membersihkan daerah genetalia dapat dilakukan dengan melakukan vulva hygiene
menggunakan kapas bersih yang telah dibasahi dengan air Disinfeksi Tingkat
Tinggi (DTT), hindari penggunaan air yang bercampur antiseptik maupun lissol.
Bersihkan dari atas (vestibulum), ke bawah (arah anus). Tindakan ini dilakukan
apabila diperlukan, misal setelah ibu BAK, setelah ibu BAB, maupun setelah
ketuban pecah spontan.
Pada kala II dan kala III, untuk
membantu menjaga kebersihan diri ibu bersalin, maka ibu dapat diberikan alas
bersalin (under pad) yang dapat menyerap cairan tubuh (lendir darah, darah, air
ketuban) dengan baik. Apabila saat mengejan diikuti dengan faeses, maka bidan
harus segera membersihkannya, dan meletakkannya di wadah yang seharusnya.
Sebaiknya hindari menutupi bagian tinja dengan tisyu atau kapas ataupun melipat
undarpad.
Pada kala IV setelah janin dan placenta
dilahirkan, selama 2 jam observasi, maka pastikan keadaan ibu sudah bersih. Ibu
dapat dimandikan atau dibersihkan di atas tempat tidur. Pastikan bahwa ibu
sudah mengenakan pakaian bersih dan penampung darah (pembalut bersalin,
underpad) dengan baik. Hindari menggunakan pot kala, karena hal ini
mengakibatkan ketidaknyamanan pada ibu bersalin. Untuk memudahkan bidan dalam
melakukan observasi, maka celana dalam sebaiknya tidak digunakan terlebih
dahulu, pembalut ataupun underpad dapat dilipat disela-sela paha.
KEBUTUHAN ISTIRAHAT
Selama proses persalinan berlangsung,
kebutuhan istirahat pada ibu bersalin tetap harus dipenuhi. Istirahat selama
proses persalinan (kala I, II, III maupun IV) yang dimaksud adalah bidan
memberikan kesempatan pada ibu untuk mencoba relax tanpa adanya tekanan
emosional dan fisik. Hal ini dilakukan selama tidak ada his (disela-sela his).
Ibu bisa berhenti sejenak untuk melepas rasa sakit akibat his, makan atau
minum, atau melakukan hal menyenangkan yang lain untuk melepas lelah, atau
apabila memungkinkan ibu dapat tidur. Namun pada kala II, sebaiknya ibu
diusahakan untuk tidak mengantuk.
Setelah proses persalinan selesai (pada
kala IV), sambil melakukan observasi, bidan dapat mengizinkan ibu untuk tidur
apabila sangat kelelahan. Namun sebagai bidan, memotivasi ibu untuk memberikan
ASI dini harus tetap dilakukan. Istirahat yang cukup setelah proses persalinan
dapat membantu ibu untuk memulihkan fungsi alat-alat reproduksi dan meminimalisasi trauma pada saat persalinan.
POSISI DAN AMBULASI
Posisi persalinan yang akan dibahas
adalah posisi persalinan pada kala I dan posisi meneran pada kala II. Ambulasi
yang dimaksud adalah mobilisasi ibu yang dilakukan pada kala I.
Persalinan merupakan suatu peristiwa
fisiologis tanpa disadari dan terus berlangsung/progresif. Bidan dapat membantu
ibu agar tetap tenang dan rileks, maka bidan sebaiknya tidak mengatur posisi
persalinan dan posisi meneran ibu. Bidan harus memfasilitasi ibu dalam memilih
sendiri posisi persalinan dan posisi meneran, serta menjelaskan
alternatif-alternatif posisi persalinan dan posisi meneran bila posisi yang
dipilih ibu tidak efektif.
Bidan harus memahami posisi-posisi
melahirkan, bertujuan untuk menjaga agar proses kelahiran bayi dapat berjalan
senormal mungkin. Dengan memahami posisi persalinan yang tepat, maka diharapkan
dapat menghindari intervensi yang tidak perlu, sehingga meningkatkan persalinan
normal. Semakin normal proses kelahiran, semakin aman kelahiran bayi itu
sendiri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menentukan posisi melahirkan :
o Klien/ibu
bebas memilih, hal ini dapat meningkatkan kepuasan, menimbulkan perasaan
sejahtera secara emosional, dan ibu dapat mengendalikan persalinannya secara
alamiah.
o Peran
bidan adalah membantu/memfasilitasi ibu agar merasa nyaman.
o Secara
umum, pilihan posisi melahirkan secara alami/naluri bukanlah posisi berbaring.
o Sejarah:
posisi berbaring diciptakan agar penolong lebih nyaman dalam bekerja. Sedangkan
posisi tegak, merupakan cara yang umum digunakan dari sejarah penciptaan
manusia sampai abad ke-18.
Pada awal persalinan, sambil menunggu
pembukaan lengkap, ibu masih diperbolehkan untuk melakukan
mobilisasi/aktivitas. Hal ini tentunya disesuaikan dengan kesanggupan ibu.
Mobilisasi yang tepat dapat membantu dalam meningkatkan kemajuan persalinan,
dapat juga mengurangi rasa jenuh dan kecemasan yang dihadapi ibu menjelang
kelahiran janin.
Macam-macam
posisi meneran diantaranya :
·
Duduk atau setengah
duduk, posisi ini memudahkan bidan dalam membantu kelahiran kepala janin dan
memperhatikan keadaan perineum.
·
Merangkak, posisi
merangkak sangat cocok untuk persalinan dengan rasa sakit pada punggung,
mempermudah janin dalam melakukan rotasi serta peregangan pada perineum
berkurang.
·
Jongkok atau berdiri,
posisi jongkok atau berdiri memudahkan penurunan kepala janin, memperluas
panggul sebesar 28% lebih besar pada pintu bawah panggul, dan memperkuat
dorongan meneran. Namun posisi ini beresiko memperbesar terjadinya laserasi
(perlukaan) jalan lahir.
·
Berbaring miring,
posisi berbaring miring dapat mengurangi penekanan pada vena cava inverior,
sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya hipoksia janin karena suply
oksigen tidak terganggu, dapat memberi suasana rileks bagi ibu yang mengalami
kecapekan, dan dapat mencegah terjadinya robekan jalan lahir.
·
Hindari posisi
telentang (dorsal recumbent), posisi ini dapat mengakibatkan : hipotensi
(beresiko terjadinya syok dan berkurangnya suply oksigen dalam sirkulasi
uteroplacenter, sehingga mengakibatkan hipoksia bagi janin), rasa nyeri yang
bertambah, kemajuan persalinan bertambah lama, ibu mangalami gangguan untuk
bernafas, buang air kecil terganggu, mobilisasi ibu kurang bebas, ibu kurang
semangat, dan dapat mengakibatkan kerusakan pada syaraf kaki dan punggung.
PENGURANGAN RASA NYERI
Nyeri
persalinan merupakan pengalaman subjektif tentang sensasi fisik yang
terkait dengan kontraksi uterus, dilatasi dan penipisan serviks, serta
penurunan janin selama persalinan. Respon fisiologis terhadap nyeri meliputi:
peningkatan tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, keringat, diameter pupil,
dan ketegangan otot. Rasa nyeri ini apabila tidak diatasi dengan tepat, dapat
meningkatkan rasa khawatir, tegang, takut dan stres, yang pada akhirnya dapat
menyebabkan terjadinya persalinan lama.
Rasa nyeri selama persalinan akan berbeda antara
satu dengan lainnya. Banyak faktor yang mempengaruhi persepsi rasa nyeri,
diantaranya: jumlah kelahiran sebelumnya (pengalaman persalinan), budaya
melahirkan, emosi, dukungan keluarga, persiapan persalinan, posisi saat
melahirkan, presentasi janin, tingkat beta-endorphin, kontraksi rahim yang
intens selama persalinan dan ambang nyeri alami. Beberapa ibu melaporkan
sensasi nyeri sebagai sesuatu yang menyakitkan.
KEBUTUHAN AKAN PROSES
PERSALINAN YANG TERSTANDAR
Mendapatkan pelayanan asuhan kebidanan
persalinan yang terstandar merupakan hak setiap ibu. Hal ini merupakan salah
satu kebutuhan fisiologis ibu bersalin, karena dengan pertolongan persalinan
yang terstandar dapat meningkatkan proses persalinan yang alami/normal.
Hal yang perlu disiapkan bidan dalam
memberikan pertolongan persalinan terstandar dimulai dari penerapan upaya
pencegahan infeksi. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan dengan
menggunakan sabun dan air mengalir dapat mengurangi risiko penularan infeksi
pada ibu maupun bayi. Dilanjutkan dengan penggunaan APD (alat perlindungan
diri) yang telah disepakati. Tempat persalinan perlu disiapkan dengan baik dan
sesuai standar, dilengkapi dengan alat dan bahan yang telah direkomendasikan
Kemenkes dan IBI. Ruang persalinan harus memiliki sistim pencahayaan yang cukup
dan sirkulasi udara yang baik.
II.
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI GIZI PADA SAAT BERSALIN
Faktor-faktor
yang mempengaruhi gizi ibu bersalin :
o Umur.
o Berat
badan.
o Suhu
lingkungan.
o Aktivitas.
o Status
kesehatan.
o Pengetahuan
zat gizi dalam makanan.
o Status
ekonomi.
1. Umur
Lebih
muda umur ibu hamil, maka energi yangg dibutuhkan lebih banyak.
2. Berat
Badan
Berat
badan lebih ataupun kurang dari berat badan rata-rata untuk umur tertentu,
merupakan faktor menentukan jumlah zat makanan yang harus dicukupi selama
hamil.
3. Suhu
Lingkungan
Suhu
tubuh dipertahankan pada 36,5-37 derajat Celcius yang digunakan untuk
metabolisme optimum. Lebih besar perbedaan suhu tubuh dan lingkungan berarti
lebih besar pula masukan energi yang diperlukan.
4. Aktivitas
Semakin
banyak aktivitas yang dilakukan maka semakin banyak energi yang dibutuhkan oleh
tubuh.
5. Status
Kesehatan
Pada
saat kondisi tidak sehat maka asupan energi tetap harus diperhatikan.
6. Pengetahuan
Zat Gizi dalam Makanan
Perencanaan
dan Penyusunan Makanan
Perencanaan
dan penyusunan makanan kaum ibu atau wanita dewasa mempunyai peranan yang
penting. Faktor yang mempengaruhi perencanaan dan penyusunan makanan yang sehat
dan seimbang antara lain:
·
Kemampuan keluarga
dalam membeli makanan.
·
Pengetahuan tentang zat
gizi.
Dengan
demikian, tubuh ibu akan menjadi lebih efisien dalam menyerap zat gizi dari
makanan sehari-hari.
7. Status
Ekonomi
Status
ekonomi maupun sosial mempengaruhi terhadap pemilihan makanan.
Kebiasaan
dan Pandangan Wanita Terhadap Makanan
Pada
umumnya, kaum ibu atau wanita lebih memperhatikan keluarga daripada saat ibu
tersebut hamil. Ibu hamil sebaiknya memeriksakan kehamilannya, minimal empat
kali selama kehamilannya.
III.
PENGARUH
STATUS GIZI PADA PROSES PERSALINAN
1.
Makanan Yang Dianjurkan Selama Persalinan
Makanan
yang disarankan dikonsumsi pada kelompok Ibu yang makan saat persalinan adalah
roti, biskuit, sayuran dan buah-buahan, yogurt rendah lemak, sup, minuman
isotonik dan jus buah-buahan (O’Sullivan et al, 2009). Menurut Elias (2009)
Nutrisi dan hidrasi sangat penting selama proses persalinan untuk memastikan
kecukupan energi dan mempertahankan kesimbangan normal cairan dan elektrolit
bagi Ibu dan bayi. Cairan isotonik dan makanan ringan yang mempermudah
pengosongan lambung cocok untuk awal persalinan. Jenis makanan dan cairan yang
dianjurkan dikonsumsi pada Ibu bersalin adalah sebagai berikut (Champion dalam
Elias,2009):
Makanan:
·
Roti atau roti panggan
(rendah serat) yang rendah lemak baik diberi selai ataupun madu.
·
Sarapan sereal rendah
serat dengan rendah susu.
·
Nasi tim.
·
Biskuit.
·
Yogurt rendah lemak.
·
Buah segar atau buah
kaleng.
Minuman:
·
Minuman yogurt rendah
lemak.
·
Es blok.
·
Jus buah-buahan.
·
Kaldu jernih.
·
Diluted squash drinks.
·
Air mineral.
·
Cairan olahraga atau
cairan isotonik.
Ibu
melahirkan harus dimotivasi untuk minum sesuai kebutuhan atau tingkat kehausannya.
Jika asupan cairan Ibu tidak adekuat atau mengalami muntah, dia akan menjadi
dehidrasi, terutama ketika melahirkan menjadikannya banyak berkeringat
(Micklewirght & Champion, 2002 dalam Thorpe et al, 2009). Salah satu gejala
dehidrasi adalah kelelahan dan itu dapat mengganggu kemajuan persalinan dan
menyulitkan bagi Ibu untuk lebih termotivasi dan aktif selama persalinan. Jika
Ibu dapat mengikuti kecenderungannya untuk minum, maka mereka tidak mungkin
mengalami dehidrasi (McCormick, 2003 dalam Thorpe et al, 2009).
Pembatasan makan dan minum pada Ibu melahirkan
memberikan rasa ketidaknyamanan pada Ibu. Selain itu, kondisi gizi buruk
berpengaruh terhadap lama persalinan dan tingkat kesakitan yang diakibatkannya,
dan puasa tidak menjamin perut kosong atau berkurang keasamannya. Lima
penelitian yang melibatkan 3130 Ibu bersalin. Pertama penelitian membandingkan
Ibu dengan pembatasan makan dan minum dengan Ibu yang diberi kebebasan makan
dan minum.