Pengertian Gizi dan Gizi Seimbang
Gizi adalah suatu proses penggunaan
makanan yang dikonsumsi secara normal oleh suatu organisme melalui proses
digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, pengeluaran zat-zat
yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi
normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi (Proverwati, A., & Wati,
E,K., 2011:1). Gizi adalah zat-zat sebagai komponen pembangun tubuh manusia
dalam rangka mempertahankan dan memperbaiki jaringan-jaringan agar fungsi tubuh
manusia dapat berjalan sebagaimana mestinya (caramedis.com, 2016). Secara
klasik kata gizi dihubungkan dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk menyeimbangkan
energi, membangun, dan memelihara jaringan tubuh, serta mengatur proses-proses
kehidupan dalam tubuh (Almatsier, S., 2001:3)
Gizi seimbang adalah nutrisi dan zat gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, tidak berlebihan, dan tidak kekurangan. Nutrisi dan gizi yang dibutuhkan harus memperhatikan berbagai prinsip seperti keberagaman jenis makanan, aktivitas tubuh, berat badan ideal, serta faktor usia.
Prinsip Gizi untuk Bayi
Kebutuhan gizi bayi berbeda dengan
kebutuhan anak dan orang dewasa. Bayi memerlukan karbohidrat dengan bantuan
amilase untuk mencerna bahan makanan yang berasal dari zat pati. Protein yang
diperlukan berasal dari ASI ibu dengan kadar 4-5% dari total kadar kalori dalam
ASI. Lemak yang diperlukan 58% dari kalori dalam susu matur. Mineral yang
diperlukan terdiri atas kalsium, pospor, klor, kalium dan natrium untuk
menunjang pertumbuhan dan perkembangan bayi. Untuk vitamin yang dibutuhkan
bervariasi sesuai dengan dietyang dilakukan oleh ibu (Proverwati, A., &
Wati, E,K., 2011:51-52). Setelah umur 6 bulan, setiap bayi membutuhkan makanan
lunak yang bergizi sering disebut Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pengenalan
dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun
jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak. Dalam keadaan darurat,
bayi dan balita seharusnya mendapat MP-ASI untuk mencegah kekurangan gizi.
Untuk memperolehnya perlu ditambahkan vitamin dan mineral (variasi bahan
makanan) karena tidak ada makanan yang cukup untuk kebutuhan bayi.
Balita usia 1-5 tahun dapat dibedakan menjadi dua, yaitu anak usia lebih dari satu tahun sampai tiga tahun yang dikenal dengan “batita” dan anak usia lebih dari tiga tahun sampai lima tahun yang dikenal dengan usia “prasekolah”. Batita sering disebut konsumen pasif, sedangkan usia prasekolah lebih dikenal sebagai konsumen aktif.
3 Macam Macam Makanan Bagi BAYI
Banyak ibu muda, khususnya yang baru pertama kali mengalami memiliki buah hati, mengalami kerancuan dan kebingungan dalam memilih makanan bayi yang paling tepat dan bagaimana cara yang benar pemberiannya. Tidak sedikit ibu muda yang telah melakukan konsultasi malah semakin bingung, karena jawaban dari masing-masing pihak berbeda.
Makanan, selain menjadi sumber bahan bakar energi pada tubuh manusia, seperti kita ketahui, makanan juga sebagai faktor penunjang untuk tumbuh kembang tubuh anak, pada khususnya bayi. Dimana siklus pertumbuhan bayi sangatlah pesat.
Dari paska lahir, berat bayi yang mencapai rata-rata 3 kg, dalam kurun waktu satu tahun pertumbuhannya bisa mencapai sekitar 9 kg. Oleh karena itu, sangatlah penting pemberian makanan pada bayi harus memenuhi syarat kebutuhan gizi.
Pada prinsipnya, bayi memerlukan pemberian makanan secara bertahap. Dari tahap awal yang dimulai dari yang cair, lalu setengah padat, kemudian padat dan dilanjutkan makanan biasa berupa nasi dan lauk pauk. Tidak ketinggalan asupan air, vitamin, serta mineral untuk bayi haruslah cukup,
Walau demikian, kondisi bayi menentukan kesiapan menerima asupan makanan. Karena pada prakteknya pemberian makanan bersifat individual. Belum tentu semua bayi usia 4 bulan siap diberi bubur susu.
Kondisi fisik bayi juga menentukan kesiapan menerima jenis asupan makanan. Kondisi fisik bayi meliputi berat dan tinggi badannya. Dimana dalam hal ini dokter anak-lah yang memiliki kompetensi khusus yang menilai.
Oleh karena itu, penting sekali anak dipantau tumbuh kembangnya tiap bulan dari aspek keseluruhan. Dari tinggi badan bayi, berat badan bayi, jadwal pemberian imunisasi dan metode asupan pola makannya.
Sesuaikan perkembangan fisik bayi dengan pola makannya, selama masih dalam pemantauan orangtua dan dokter anak, bayi akan mencapai proses tumbuh kembang secara optimal. Beberapa hal yang penting untuk diingat, seberapa banyak dan seberapa sering bayi makan, semuanya tergantung pada usia, tingkat pertumbuhan, berat badan, dan metabolisme. Dan semua itu tak sama antara satu bayi dengan bayi lainnya.
ASI
Bagaimanapun yang terpenting, air susu ibu (ASI) adalah asupan terpenting pada bayi. ASI, selain mengandung semua zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembang bayi, ASI juga mengandung macam-macam substansi anti-infeksi yang mampu melindungi bayi terhadap berbagai infeksi.
Pada masa usia bayi melewati 4 bulan, bayi memerlukan makanan tambahan seperti bubur susu, biskuit dan buah-buahan. Kemudian bubur saring (nasi tim yang dihaluskan) mulai usia 6 bulan dan di usia 9 bulan sudah bisa diberikan nasi tim.
Susu Formula
Jika Anda mengkombinasikan ASI dengan susu formula, sebaiknya pilih susu formula yang komposisinya paling mirip ASI. Mintalah petunjuk dokter. Begitu pun cara meramu formula dan berapa banyak formula yang akan diberikan pada bayi Anda.
Ada berbagai keadaan yang bisa membuat menyusui tidak praktis atau tidak dianjurkan. Ibu-ibu yang tidak bisa menyusui tidak boleh merasa tidak cakap atau bersalah. Sebaiknya susu formula diberikan setelah berkonsultasi dengan dokter dan para profesional ASI.
Buah-buahan
Selain menjadi sumber vitamin dan mineral, buah-buahan juga menjadi sumber serat yang bagus. Menginjak usia 6-8 bulan, bayi bisa diberikan buah-buahan seperti jeruk, pepaya, pisang, dan tomat. Buah bisa diberikan dalam bentuk jus.
Khusus tomat, rebuslah lebih dulu setelah dicuci bersih, lalu disaring untuk diambil airnya. Atau, si buah hati bisa diperkenalkan ‘finger foods’, yaitu snack yang dapat dimakan oleh bayi sendiri (tidak perlu disuapi), seperti buah yang dipotong-potong ukuran kecil sehingga bayi dapat makan sendiri. Makanan halus ini diberikan 2-3x/hari.
Buah-buahan lainnya seperti melon, alpukat, semangka, pir, dan lainnya dapat diberikan mulai usia 6 bulan. Namun hindari buah-buahan yang bergetah. Karena dapat menimbulkan diare seperti sawo, nenas, durian, mangga dan lainnya.
Pada tahap awal, berikanlah kira-kira 30-50 ml air buah sebagai pengenalan pada kondisi pencernaan bayi, pantau reaksi yang timbul. Jika setelah minum air jeruk, timbuil diare, gantilah dengan buah lain pada pemberian berikutnya yang lebih cocok. Namun satu hal terpenting, cuci bersih setiap buah sebelum diberikan pada bayi.
Makanan Padat
Menginjak usia 4-5 bulan bayi sudah bisa diberikan makanan pada. Makanan padat pertama yang diperkenalkan hendaknya masih dalam bentuk lunak agar mudah dicerna bayi, bisa berupa dalam bentuk bubur susu.
Bubur susu biasanya terbuat dari bahan tepung serelia seperti beras, maizena, terigu atau havermout, ditambah susu dan gula. Pembuatan bubur susu bisa dilakukan dengan dibuat sendiri atau membeli bubur susu instan. Namun penting diingat, jika membeli bubur instant, jangan pernah lupa untuk memeriksa tanggal kadaluarsanya.
Memasuki usia 6 bulan bayi dapat diperkenalkan pada makanan padat berikutnya, seperti halnya nasi tim. Nasi tim biasanya terdiri dari bubur beras ditambah lauk berprotein hewani maupun nabati ditambah sayuran seperti wortel dan bayam.
Ada baiknya nasi tim haruslah melalui proses penghalusan terlebih dahulu, bisa dilakukan dengan alat blender sebelum diberikan pada bayi. Setelah bayi menginjak usia diatas 10 bulan, nasi tim tidak perlu dihaluskan lagi.
Makanan Selingan
Makanan selingan bagi bayi biasanya hadir berupa dalam bentuk biskuit yang memang dibuat khusus untuk bayi. Perkenalan makanan selingan bisa diberikan disaat bayi menginjak usia 4 bulan.
Biskuit bisa dicampur air matang ataupun susu. Namun jika bayi sudah dapat duduk, berikanlah biskuit dalam bentuk kepingan. Hal ini lebih baik karena dapat melatih melatih keterampilan jari-jemari tangannya (motorik halus) serta merangsang pertumbuhan gigi pada bayi.
Setelah usia 6 bulan, bayi sudah bisa diberikan makanan lain seperti roti, agar-agar, puding, bubur kacang hijau, dan lainnya.
Untuk masalah jadwal pemberian makanan, pada umumnya diberikan tiap 3 jam sekali. Namun dalam suatu kasus, terdapat juga bayi yang sudah lapar dalam interval 2 jam. Hal tersebut normal, karena setiap bayi memiliki keunikan tersendiri.
Cara Pengelolaan Makanan untuk Bayi
Pengelolaan makanan untuk bayi dan
balita harus disesuaikan dengan umurnya. Pemberian makanan balita sebaiknya
beraneka ragam dan pembentukan pola makanan perlu diterapkan sesuai pola
makanan keluarga. Untuk bayi umur 6-9 bulan perlu dikenalkan dengan MP-ASI
lumat 2 kali sehari dan menambahkan sedikit demi sedikit lemak seperti santan
atau minyak kelapa untuk mempertinggi nilai gizi makanan. Untuk bayi umur 9-12
bulan mulai diberikan makanan selingan 1 kali sehari seperti pisang atau bubur
kacang hijau. Bayi berumur 12-24 bulan mulai diberikan variasi makanan dan
melatih menyapih dengan bertahap.
Untuk balita, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah
1)
Karbohidrat
Anak dibiasakan untuk mengonsumsi beragam sumber karbohidarat,
seperti nasi, beras merah, kentang, ubi, singkong, mie, bihun maupun jagung.
2)
Protein
Bisa didapat dari daging-dagingan, ikan-ikanan, hati,
udang, kerang, tempe dan tahu. Pilih sumber protein yang mudah, murah, enak
maupun berkualitas tinggi seperti telur.
3)
Lemak
Anak-anak membutuhkan lebih banyak lemak dibandingkan
orang dewasa karena tubuh mereka menggunakan energi yang lebih secara
proposional selama masa pertumbuhan dan perkembangan mereka. Sumber lemak dalam
dalam makanan bisa di dapat dalam : mentega, susu, daging, ikan, minyak nabati.
4)
Vitamin Dan
Mineral
Banyak
terdapat pada sayuran dan buah-buahan. Semakin hijau waran sayuran, makin
banyak vitaminnya. Semakin kuning, merah, atau biru warna daging buah,
vitaminnya semakin kaya. (klinikgizi.com, 2014)
Faktor yang Memengaruhi Pemberian Makanan,
Pertumbuhan, dan Perkembangan untuk Bayi
Faktor yang memengaruhi pemberian makanan pada bayi
dan balita:
a)
Kerjasama
ibu dan bayi.
Dimulai pada saat kelahiran bayi dilanjutkan sampai
dengan anak mampu makan sendiri. Makanan hendaknya menyenangkan bagi anak dan
ibu. Ibu yang tegang, cemas, mudah marah merupakan suatu kecenderungan untuk
menimbulkan kesulitan makan pada anak.
b)
Memulai
pemberian makan sedini mungkin.
Pemberian makan sedini mungkin mempunyai tujuan
menunjang proses metabolisme yang normal, untuk pertumbuhan, menciptakan
hubungan lekat ibu dan anak, mengurangi resiko terjadinya hipoglikemia,
hiperkalemi, hiperbilirubinemia dan azotemia.
c)
Mengatur
sendiri.
Pada awal kehidupannya, seharusnya bayi sendiri yang
mengatur keperluan akan makanan. Keuntungannya untuk mengatur dirinya sendiri
akan kebutuhan zat gizi yang diperlukan.
d Peran ayah
dan anggota keluarga lain.
e Menentukan jadwal
pemberian makanan bayi
f Umur
g Berat badan.
h Diagnosis
dari penyakit dan stadium (keadaan).
i Keadaan
mulut sebagai alat penerima makanan
Kebiasaan
makan (kesukaan, ketidaksukaan dan acceptability dari jenis makanan dan
toleransi daripada anak terhadap makanan yang diberikan) (infogizi.com, 2016)
Faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
pada bayi dan balita:
Indikator pertumbuhan yang sering
digunakan adalah berat badan dan pertambahan berat, meskipun pertumbuhan
panjang juga digunakan. Faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak terdiri
atas sebab langsung dan tak langsung. Sebab langsung meliputi kecukupan pangan
dan keadaan kesehatan, sedangkan sebab tak langsung meliputi ketahanan pangan
keluarga, pola asuh anak, pemanfaatan pelayanan kesehatan, dan sanitasi
lingkungan. Sepuluh faktor memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi dan
balita:
a.
Genetik
b.
Saraf
c.
Hormon
d.
Gizi
e.
Kecenderungan
sekuler
f.
Status
sosial ekonomi
g.
Cuaca dan
iklim
h.
Tingkat
aktivitas
i.
Penyakit
j.
Cacat lahir
(Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:69-76).
Pengaruh
Status Gizi Terhadap Perkembangan dan Pertumbuhan Bayi
Status gizi pada masa balita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari orang tua, karena kekuragan gizi pada masa ini akan menyebabkan kerusakan yang irreversibel (tidak dapat dipulihkan) (Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:76). Keadaan kurang gizi juga berasosiasi dengan keterlambatan perkembangan motorik. Tidak hanya kekurangan gizi, kelebihan gizi pun akan mengakibatkan obesitas dan terganggunya proses pertumbuhan dan perkembangan (catursaptaningwilujeng.lecture.ub.ac.id, 2016). Status gizi dan bayi dapat diketahui dengan cara mencocokkan umur bayi dengan berat badan standar dengan mengguakan pedoman WHO-NCHS. Sedangkan parameter yang cocok digunakan untuk balita adalah berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar