Kamis, 02 September 2021

Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL

    

Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL


1. Pengertian

     Kejang pada bayi baru lahir adalah kejang yang terjadi pada bayi sampai dengan

usia 28 hari.

     Kejang pada BBL merupakan keadaan darurat karena kejang merupakan suatu tanda

adanya penyakit sistem syaraf pusat (SSP), kelainan metabolik atau penyakit lain.

Sering tidak dikenali karena berbeda dengan kejang pada anak. Kejang umum tonik

klonik jarang terjadi pada BBL. Kejang berulang menyebabkan berkurangnya

oksigenisasi, ventilasi dan nutrisi otak.

 

2. KLASIFIKASI

A. Kejang tersamar

1. Hampir tidak terlihat

2. Menggambarkan perubahan tingkah laku

3. Bentuk kejang :

a. Otot muka, mulut, lidah menunjukan gerakan menyeringai.

b. Gerakan terkejut-kejut pada mulut dan pipi secara tiba-tiba menghisap, mengunyah, menelan, menguap.

c. Gerakan bola mata ; deviasi bola mata secara horisontal, kelopak mata berkedip-kedip, gerakan cepat dari bola mata.

d. Gerakan pada ekstremitas : pergerakan seperti berenang, mangayuh pada anggota gerak atas dan bawah.

e. Pernafasan apnea, BBLR hiperpnea.

f. Untuk memastikan : pemeriksaan EEG. Kejang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai.

 

B. Kejang klonik

1. Berlangsung selama 1-3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran

2. Dapat disebabkan trauma fokal

3. BBL dengan kejang klonik fokal perlu pemeriksaan USG, pemeriksaan kepala untuk mengetahui adanya perdarahan otak, kemungkinan infark serebri.

4. Kejang klonik multifokal sering terjadi pada BBL, terutama bayi cukup bulan dengan BB > 2500 gram.

5. Bentuk kejang : gerakan klonik pada satu atau lebih anggota gerak yang berpindah-pindah atau terpisah secara teratur, misal kejang klonik lengan kiri diikuti kejang klonik tungkai bawah kanan.

 

C. Kejang tonik

1. Terdapat pada BBLR, masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan pada bayi dengan komplikasi perinatal berat.

2. Bentuk kejang : berupa pergerakan tonik satu ekstremitas, pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai, menyerupai sikap deserebasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi.

 

D. Kejang mioklonik

·         Gerakan  ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat, gerakan menyerupai refleks moro.

1. Gemetar

o   Sering membingungkan

o   Kadang terdapat pada bayi normal yang dalam keadaan lapar (hipoglikemia, hipokalsemia, hiperiritabilitas neuromuscular)

o   Gerakan tremor cepat

o   Tidak disertai gerakan cara melihat abnormal atau gerakan bola mata

o   Dapat timbul dengan merangsang bayi, sedangkan kejang tidak timbul dengan perangsangan.

o   Gerakan dominan adalah gerakan tremor.

o   Pergerakan ritmik anggota gerak pada gemetar dihentikan dengan melakukan fleksi anggota gerak.

2. Apnue

o   Pada BBLR pernafasan tidak teratur, diselingi dengan henti nafas 3-6 detik, sering diikuti dengan hiperapnea 10-15 detik

o   Berhentinya pernafasan tidak disertai perubahan denyut jantung, tekanan darah, suhu badan, warna kulit

o   Bentuk pernafasan disebut pernafasan periodik disebabkan belum sempurnanya pusat pernafasan di batang otak

o   Serangan apnea tiba-tiba disertai kesadaran menurun pada BBLR dicurigai adanya perdarahan intracranial

o   Perlu pemeriksaan USG

 

3. CIRI- CIRI KEJANG PADA BBL

a) Mata berputar

b)  Tubuh kaku dan tersentak

c) Berkeringat dan pucat

d) Muntah

e) Tatapan mata ke atas atau melamun

f) Tubuh bayi lemas

g) Tidak responsive

h) Lengan dan kaki menegang

I) leher bayi kaku

J) Lengan atas bayi menyentak

 

4. ETIOLOGI

a) Kejang bayi dengan asfiksia disertai oleh hipoglikemia, hipokalsemia,

perdarahan intracranial, edema otak

b) Pada bayi cukup bulan penyebab kejang yang terjadi 48 jam pertama : asfiksia, trauma lahir, hipoglikemia

ü  Antara hari ke 5-ke 7 : hipokalsemia yang terjadi bukan karena komplikasi

ü  Antara hari ke 7-ke 10 : infeksi, kelainan genetik

 

5. DIAGNOSIS

1. Anamnesa

Keluarga, riwayat kehamilan, riwayat persalinan dan kelahiran

a. Riwayat kehamilan

*      Bayi kecil untuk masa kehamilan

*      Bayi kurang bulan

*      Ibu tidak disuntik TT

*      Ibu menderita DM

 

b. Riwayat persalinan

*      Persalinan dengan tindakan

*      Persalinan presipitatus

*      Gawat janin

 

c. Riwayat kelahiran

*      Trauma lahir

*      Lahir asfiksia

*      Pemotongan tali pusat dengan alat tidak steril/ infeksi

 

2. Pemeriksaan kelainan fisik

o   Kesadaran

o   Suhu tubuh

o   Tanda-tanda infeksi lain

 

3. Penilaian kejang

- Bentuk kejang : gerakan bola mata abnormal, nistagmus, gerakan mengunyah, gerakan otot otot muka, timbulnya episode apnea, adanya kelemahan umum yang periodik, tremor, gerakan klonik sebagian ekstremitas, tubuh kaku

 

7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

*      Pemeriksaan gula darah, elektrolit darah, AGD, darah tepi, lumbal pungsi

*      EKG

*      EEG

*      Biakan darah

*      Titer untuk toksoplasmosis, rubela, citomegalovirus, herpes

*      Foto rontgen kepala

*      USG kepala

 

DETEKSI DINI PADA KASUS IKTERUS

                                      DETEKSI DINI PADA KASUS IKTERUS

   1. Pengertian

Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari

normal, Biasanya terjadi pada bayi baru lahir. (Suriadi, 2001).

Nilai normal : bilirubin indirek 0,3 – 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 – 0,4 mg/dl.

Sesungguhnya hiperbilirubinemia merupakan keadaan normal pada bayi baru lahir selama minggu

pertama, karena belum sempurnanya metabolisme bilirubin bayi. Ditemukan sekitar 25-50% bayi

normal dengan kedaan hiperbilirubinemia. Kuning/jaundice pada bayi baru lahir atau disebut dengan

ikterus neonatorum merupakan warna kuning pada kulit dan bagian putih dari mata (sklera) pada

beberapa hari setelah lahir yang disebabkan oleh penumpukan bilirubin. Gejala ini dapat terjadi antara

25%-50% pada seluruh bayi cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada bayi prematur. Walaupun kuning

pada bayi baru lahir merupakan keadaan yang relatif tidak berbahaya, tetapi pad usia inilah kadar

bilirubin yang tinggi dapat menjadi toksik dan berbahaya terhadap sistim saraf pusat bayi.

Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar

tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata,

kulit, membrane mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith, G, 1988).

Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek pathologis. (Markum, 1991:314)


2. Faktor Penyebab

Hiperbilirubin pada bayi baru lahir paling sering timbul karena fungsi hati masih belum sempurna untuk

membuang bilirubin dari aliran darah. Hiperbilirubin juga bisa terjadi karena beberapa kondisi klinis, di

antaranya adalah:

a)    Ikterus fisiologis merupakan bentuk yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir. Jenis bilirubin

yang menyebabkan pewarnaan kuning pada ikterus disebut bilirubin tidak terkonjugasi, merupakan jenis

yang tidak mudah dibuang dari tubuh bayi. Hati bayi akan mengubah bilirubin ini menjadi bilirubin

terkonjugasi yang lebih mudah dibuang oleh tubuh. Hati bayi baru lahir masih belum matang sehingga

masih belum mampu untuk melakukan pengubahan ini dengan baik sehingga akan terjadi peningkatan

kadar bilirubin dalam darah yang ditandai sebagai pewarnaan kuning pada kulit bayi. Bila kuning

tersebut murni disebabkan oleh faktor ini maka disebut sebagai ikterus fisiologis


b)      Breastfeeding jaundice, dapat terjadi pada bayi yang mendapa air susu ibu (ASI) eksklusif. Terjadi

akibat kekurangan ASI yang biasanya timbul pada hari kedua atau ketiga pada waktu ASI belum banyak

dan biasanya tidak memerlukan pengobatan.

c)      Ikterus ASI (breastmilk jaundice), berhubungan dengan pemberian ASI dari seorang ibu tertentu

dan biasanya akan timbul pada setiap bayi yang disusukannya bergantung pada kemampuan bayi

tersebut mengubah bilirubin indirek. Jarang mengancam jiwa dan timbul setelah 4-7 hari pertama dan

berlangsung lebih lama dari ikterus fisiologis yaitu 3-12 minggu.

d)      Ikterus pada bayi baru lahir akan terjadi pada kasus ketidakcocokan golongan darah

(inkompatibilitas ABO) dan rhesus (inkompatibilitas rhesus) ibu dan janin. Tubuh ibu akan memproduksi

antibodi yang akan menyerang sel darah merah janin sehingga akan menyebabkan pecahnya sel darah

merah sehingga akan meningkatkan pelepasan bilirubin dari sel darah merah.

e)      Lebam pada kulit kepala bayi yang disebut dengan sefalhematom dapat timbul dalam proses

persalinan. Lebam terjadi karena penumpukan darah beku di bawah kulit kepala. Secara alamiah tubuh

akan menghancurkan bekuan ini sehingga bilirubin juga akan keluar yang mungkin saja terlalu banyak

untuk dapat ditangani oleh hati sehingga timbul kuning

f)        Ibu yang menderita diabetes dapat mengakibatkan bayi menjadi Kuning.


3.     Komplikasi

1.     Sebagian besar kasus hiperbilirubinemia tidak berbahaya, tetapi kadang kadar bilirubin yang sangat

tinggi bisa menyebabkan kerusakan otak (keadaannya disebut kern ikterus). Kern ikterus adalah suatu

keadaan dimana terjadi penimbunan bilirubin di dalam otak, sehingga terjadi kerusakan otak.

2.     Efek jangka panjang dari kern ikterus adalah keterbelakangan mental, kelumpuhan serebral

(pengontrolan otot yang abnormal, cerebral palsy), tuli dan mata tidak dapat digerakkan ke atas.


4.    Gejala Hiperbilrubin pada bayi baru lahir

Ketika kadar bilirubin meningkat dalam darah maka warna kuning akan dimulai dari kepala kemudian

turun ke lengan, badan, dan akhirnya kaki. Jika kadar bilirubin sudah cukup tinggi, bayi akan tampak

kuning hingga di bawah lutut serta telapak tangan. Cara yang mudah untuk memeriksa warna kuning ini

adalah dengan menekan jari pada kulit yang diamati dan sebaiknya dilakukan di bawah cahaya/sinar

matahari. Pada anak yang lebih tua dan orang dewasa warna kuning pada kulit akan timbul jika jumlah

bilirubin pada darah di atas 2 mg/dL. Pada bayi baru lahir akan tampak kuning jika kadar bilirubin lebih

dari 5 mg/dL. Hal ini penting untuk mengenali dan menangani ikterus bayi pada baru lahir kerena kadar

bilirubin yang tinggi akan menyebabkan kerusakan yang permanen pada otak yang disebut dengan kern


icterus. Kuning sendiri tidak akan menunjukkan gejala klinis tetapi penyakit lain yang menyertai mungkin

akan menunjukkan suatu gejala seperti keadaan bayi yang tampak sakit, demam, dan malas minum.


5.     BATASAN

Ikterus adalah pewarnaan kuning di kulit, kunjungtiva dan mukosa yang terjadi karena meningkatnya

kadar bilirubin dalam darah. Klinis ikterus tampak bila kadar bilirubin dalam serum mencapai ≥ 5 mg/dL .

Disebut hiperbilirubinemia apabila didapatkan kadar bilirubin dalam serum > 13mg/Dl


6.    PRINSIP DASAR

 Bayi sering mengalami ikterus pada minggu pertama kehidupan, terutama bayi kurang bulan.

 Dapat terjadi secra normal atau fisiologis

 Kemungkinan ikterus sebagai gejala awal penyakit utama yang berat pada neonates

 Peningkatan bilirubin dalam darah disebabkan oleh pembentukan yang berlebihan dan atau

pengeluaran yang kurang sempurna.

 Ikterus perlu ditangani secara seksama, karena bilirubin akan masuk ke dalam sel syaraf dan

merusak sehingga otak terganggu dan mengakibatkan kecacatan sepanjang hidup atau kematian

(ensepalopati biliaris).


7.   Pencegahan

Pada kebanyakan kasus, kuning pada bayi tidak bisa dicegah. Cara terbaik untuk menghindari kuning

yang fisiologis adalah dengan memberi bayi cukup minum, lebih baik lagi jika diberi ASI.


1.     Pencegahan Primer

a.      Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya paling sedikit 8 – 12 kali/ hari untuk beberapa hari

pertama.

b.     Tidak memberikan cairan tambahan rutin seperti dekstrose atau air pada bayi yang mendapat ASI

dan tidak mengalami dehidrasi.

2.     Pencegahan Sekunder

a.      Semua wanita hamil harus diperiksa golongan darah ABO dan rhesus serta penyaringan serum

untuk antibody isoimun yang tidak biasa.


b.      Harus memastikan bahwa semua bayi secar rutin di monitor terhadap timbulnya ikterus dan

menetapkan protocol terhadap penilaian ikterus yang harus dinilai saat memeriksa tanda – tanda vital

bayi, tetapi tidak kurang dari setiap 8 – 12 jam.

Selasa, 31 Agustus 2021

DETEKSI DINI PADA KASUS DEHIDRASI

 

                                            DETEKSI DINI PADA KASUS DEHIDRASI


A. DETEKSI DINI PADA KASUS DEHIDRASI

1. Pengertian

Dehidrasi adalah kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang

didapatkan, sehingga keseimbangan zat gula dan garam menjadi terganggu, akibatnya

tubuh tidak dapat berfungsi secara normal.

Kandungan air di dalam tubuh manusia yang sehat adalah lebih dari 60% total berat badan. Kandungan air yang ideal di dalam tubuh berfungsi untuk membantu kerja sistem pencernaan, mengeluarkan kotoran dan racun dari dalam tubuh, sebagai pelumas dan bantalan untuk persendian, melembapkan jaringan-jaringan pada telinga, tenggorokan, dan juga hidung, serta sebagai media transportasi nutrisi untuk sel-sel tubuh dan menjaga kulit tetap sehat.

  Dehidrasi yang parah atau berkepanjangan dan tidak diobati sering kali dapat menyebabkan kondisi yang disebut  hipovolemia . Dehidrasi terkadang dianggap sebagai permasalahan kondisi tubuh yang tidak perlu ditangani secara serius, dan kebanyakan anak-anak dan remaja menganggapnya sebagai

haus biasa. Namun, jika gejala awal dehidrasi tidak ditangani dengan baik, dapat mengganggu fungsi tubuh. 


2.Etiologi

Dehidrasi disebabkan oleh kekurangan asupan cairan dalam tubuh, atau tubuh lebih

banyak kehilangan cairan daripada asupannya. Cairan yang ada di dalam tubuh bisa

terbuang melalui urine,  muntah-muntah , diare, keringat, dan air mata. Selain itu, cuaca,

olahraga, dan makanan akan sangat memengaruhi tingkat keparahan dehidrasi.


  Dehidrasi dapat terjadi pada setiap orang, namun terdapat beberapa kelompok orang yang

lebih mudah terkena dehidrasi akibat risiko yang mereka miliki.


3.Tanda dan gejala

Dua pertanda awal dari dehidrasi adalah rasa haus dan urine berwarna kuning gelap. Ini adalah

cara tubuh ketika berusaha menambah cairan di dalam tubuh dan mengurangi pembuangan

cairan. Tergantung pada seberapa banyak tubuh Anda kehilangan cairan, dehidrasi terbagi

menjadi 2 tingkatan, yaitu ringan sedang, dan berat.


Dehidrasi Ringan Sedang

Dehidrasi ringan sedang pada akan menimbulkan:

 Rasa haus.

 Warna urine menjadi lebih pekat atau gelap.

 Jumlah dan frekuensi buang air kecil menurun.

 Mulut kering dan lengket.

 Mudah mengantuk dan cepat lelah.

 Sakit kepala.

 Sembelit.

 Pusing.

Anda bisa menyembuhkan proses dehidrasi pada tahap ini tanpa bantuan medis dengan

meminum lebih banyak cairan. Jika dehidrasi dibiarkan berlanjut dalam jangka waktu lama,

maka bisa memengaruhi fungsi ginjal dan meningkatkan risiko terkena  batu ginjal . Pada

akhirnya, juga bisa menyebabkan kerusakan otot.

Sedangkan pada anak-anak dan bayi, gejala-gejala dehidrasi adalah sebagai berikut:

 Saat menangis tidak mengeluarkan air mata.

 Mata terlihat cekung ke dalam.

 Menyusutnya ubun-ubun.

 Popok tetap kering selama 12 jam.

 Kulit terasa dingin dan kering.

 Mudah marah dan lesu.

 Mulut kering dan lengket.

 Kelelahan dan pusing.


Dehidrasi Berat

Dehidrasi bisa membahayakan jika dibiarkan saja dan tidak ditangani secepatnya. Dehidrasi

berat dianggap sebagai kondisi medis darurat dan butuh penanganan cepat. Gejala yang dapat

terjadi ketika mengalami dehidrasi berat adalah:

 Mudah marah dan tampak kebingungan.

 Air mata tidak keluar dan mulut terasa kering.

 Denyut jantung cepat, namun lemah.

 Sesak napas.

 Mata tampak cekung.

 Demam.

 Kulit menjadi tidak elastis (butuh waktu lebih lama untuk kembali ke asal setelah

dicubit).

 Tekanan darah rendah.

 Tidak buang air kecil selama 8 jam. Pada bayi, menjadi jarang mengganti popok.

 Sangat pusing atau mengantuk, terutama pada bayi dan anak-anak.

 Kejang.

 Penurunan kesadaran.

 Pada anak-anak dan bayi, kaki dan tangannya akan teraba dingin, serta tampak ruam-

ruam kecil (blotchy-looking) tanpa rasa gatal atau nyeri.

Dehidrasi pada tingkat ini membutuhkan perawatan di rumah sakit. Anda akan diberikan infus

untuk mengembalikan banyaknya cairan yang hilang. Jika tidak ditangani dengan serius, maka

bisa menimbulkan komplikasi.


Gejala-Gejala Dehidrasi pada Bayi

Berikut ini beberapa gejala dehidrasi pada anak yang harus dikenali orang tua:

 Mulut Bayi tampak kering dan bibir pecah-pecah.

 Frekuensi buang air kecil (BAK) menjadi jarang, bahkan tidak BAK selama lebih dari 6-

8 jam.

 Bayi menjadi sering mengantuk dan terlihat lebih lemas.

 Mata bayi yang terlihat lebih cekung.

 Kulit bayi menjadi lebih kering dan agak dingin.

 Anak terlihat tidak aktif.

 Frekuensi napas anak menjadi lebih cepat dan lebih dalam.

4. Komplikasi

Dehidrasi yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan timbulnya komplikasi pada

tubuh Anda. Beberapa komplikasi yang dapat muncul akibat dehidrasi yang tidak ditangani,

yaitu:

 Kejang yang muncul akibat gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh, terutama

natrium dan kalium.

 Permasalahan pada ginjal dan saluran kemih, terutama jika dehidrasi yang dialami terjadi

berulang kali. Dehidrasi dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, batu ginjal,  batu

kandung kemih , bahkan  gagal ginjal akut .

 Cedera akibat suhu tinggi (heat injury). Jika sedang melakukan aktivitas fisik berat,

namun tidak menjaga asupan cairan tubuh, dapat mengalami dehidrasi yang memicu

terjadinya heat injury. Gejala heat injury yang tergolong ringan bisa berupa kram.

Sedangkan gejala beratnya bisa berupa kelelahan dan heat stroke.

 Syok hipovolemik. Ini merupakan komplikasi akibat dehidrasi paling serius, dan bahkan

berpotensi membahayakan jiwa Anda. Kekurangan cairan dapat menyebabkan volume

darah di dalam tubuh menjadi berkurang, sehingga tekanan darah dan kadar oksigen

menjadi menurun.


5. Pencegahan

Saat mengalami dehidrasi ringan, orang tua bisa melakukan beberapa penanganan awal berikut:


1. Berikan asupan cairan yang cukup

Jika anak mengalami gejala dehidrasi, segera berikan asupan cairan yang cukup. Bunda bisa

memberinya air putih,  larutan oralit , atau cairan lain. Pemberian cairan ini berguna untuk

menggantikan cairan dan garam (elektrolit) yang hilang dari tubuh.


2. Berikan anak buah dan sayur yang mengandung banyak air

Bunda bisa memberikan buah dan sayur yang kaya akan kandungan air. Cara ini mampu

mengatasi dehidrasi ringan pada anak. Beberapa buah-buahan memiliki kandungan air cukup

banyak adalah  semangka , melon, jeruk,  pir , timun, dan strawberry.

Sementara sayuran yang mengandung cukup banyak air di antaranya adalah kembang

kol,  bengkoang , seledri, dan selada.


3. Pastikan anak mendapat istirahat yang cukup

Setelah mendapatkan asupan cairan yang memadai, pastikan anak beristirahat yang cukup. Hal

ini bertujuan untuk mempercepat proses pemulihannya.


4. Hindari memberi anak minuman berkafein

Saat anak mengalami dehidrasi, hindari memberi minuman yang mengandung kafein kepadanya.

Memberi  minuman berkafein pada anak  yang mengalami dehidrasi dapat memperburuk

kondisinya. Beberapa minuman yang mengandung kadar kafein adalah teh, minuman bersoda,

dan coklat.

Deteksi dini pada kasus gangguan cerna/ perut buncit dan cidera lahir

 

                      Deteksi dini pada kasus gangguan cerna/ perut buncit dan cidera lahir

1.      Gangguan Cerna

Gangguan pencernaan adalah istilah yang menggambarkan rasa tidak nyaman atau nyeri di perut bagian atas. Kondisi ini bukanlah sebuah penyakit, melainkan kumpulan dari sederet gejala.Kondisi yang juga disebut disebut indigestion ini sangat luas. Mulai dari sakit perut, perut kembung, perasaan begah padahal belum makan, hingga sering buang gas.Gangguan pencernaan juga dapat menjadi gejala dari penyakit saluran cerna lain. Contohnya, GERD, maag, penyakit celiac, hingga kanker usus.

 

Tanda Dan Gejala Gangguan Pencernaan

Secara umum, gejala gangguan pencernaan dapat meliputi:

·         Sensasi panas seperti terbakar di dada (heartburn) atau perut bagian atas

·         Rasa tidak nyaman di perut bagian atas

·         Mulas dan sakit perut

·         Kembung

·         Perasaan kenyang, padahal belum makan

·         Sering bersendawa

·         Mual dan muntah

 

Penyebab Gangguan Pencernaan

Ada berbagai penyakit atau kondisi medis yang dapat mempengaruhi sistem pencernaan dan menjadi penyebab gangguan pencernaan. Sederet penyakit yang umum memicu masalah pada sistem cerna meliputi:

  • Gastritis

Gastritis adalah peradangan, iritasi atau erosi pada dinding lambung. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penggunaan alkohol berlebih, muntah yang kronis, stres, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), atau infeksi.Gejala gastritis umumnya dapat berupa mual, nyeri perut, perut kembung, muntah-muntah, atau terlalu sering bersendawa.

 

 

 

·         Gastroesophageal reflux disease (GERD)

Gejala utama GERD adalah kembalinya makanan atau cairan asam ke kerongkongan (esofagus). GERD disebabkan oleh lemahnya katup esofagus, padahal katup ini berfungsi mencegah makanan dan asam lambung kembali ke kerongkongan.GERD akan memicu iritasi pada kerongkongan yang menimbulkan berbagai gejala, seperti heartburn, nyeri dada, dan mual.

·         Penyakit celiac

Penyakit celiac merupakan kelainan autoimun yang menyebabkan usus halus menjadi alergi terhadap gluten. Konsumsi gluten akan memicu sistem kekebalan tubuh menyerang usus halus, sehingga akan mengganggu fungsi penyerapan nutrisi pada usus halus.Gejala penyakit celiac bisa berupa perut kembung, diare atau sembelit, ruam pada kulit, hingga penurunan berat badan. Bila terjadi pada anak-anak, pertumbuhan yang terhambat dapat menjadi salah satu penandanya.

·         Diare

Diare adalah buang air besar (BAB) dengan tinja lebih encer atau cair. Frekuensi BAB juga akan lebih sering, yakni tiga kali per hari. Keluhan ini juga sering disertai dengan nyeri, kram perut, mual, atau muntah.Diare dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Tapi kondis lain juga bisa memicu diare. Contohnya, keracunan makanan, penggunaan obat-obatan tertentu, atau penyakit lain (seperti penyakit celiac atau penyakit Crohn).Obat antidiare dan konsumsi cukup cairan sangat penting dalam mengatasi diare. Dengan ini, dehidrasi bisa dihindari.

·         Wasir

Wasir atau hemoroid merupakan pembengkakan pada pembuluh darah di sekitar dubur. Kondisi ini terjadi karena adanya tekanan tinggi di dalam perut karena mengejan saat BAB, diare, atau kehamilan.Terdapat dua tipe hemoroid, yaitu hemoroid eksternal dan hemoroid internal. Sesuai namanya, jenis eksternal adalah wasir yang mencuat keluar dari anus, dan tipe internal berada dalam dinding anus.

·         Tukak peptik

Tukak peptik atau ulkus peptikum adalah kondisi yang ditandai dengan adanya lubang kecil pada dinding lambung atau bagian atas usus halus.Bila terjadi di dinding lambung, kondisi ini dikenal dengan nama tukak lambung. Sementara jika muncul pada bagian atas usus halus, tukak ini disebut tukak duodenum.  

·         Irritable bowel syndrome (IBS)

Irritable bowel syndrome merupakan kondisi ketika otot usus besar berkontraksi lebih sering daripada normal. Konsumsi makanan tertentu, obat-obatan, dan stres emosional dapat menjadi faktor pemicu IBS. Gejalanya dapat berupa nyeri, kram perut, kembung, diare, atau sulit BAB.

 

 

·         Inflammatory bowel disease (IBD)

Inflammatory bowel disease atau IBD adalah kondisi peradangan kronis pada saluran pencernaan. Terdapat dua jenis IBD, yaitu kolitis ulseratif dan penyakit Crohn.Kolitis ulseratif merupakan peradangan dan luka pada usus besar dan rektum. Sedangkan penyakit Crohn adalah peradangan pada sepanjang saluran pencernaan, baik usus halus dan usus besar.Gejala yang ditimbulkan dapat berupa diare kronis, sakit perut, mudah lelah, dan penurunan berat badan.

·         Polip dan kanker kolorektal

Polip merupakan benjolan yang terdapat pada lapisan dalam usus besar. Salah satunya, polip adenoma yang dapat berkembang menjadi kanker kolorektal.Kanker kolorektal tumbuh perlahan-lahan dan umumnya baru menimbulkan gejala ketika ukurannya sudah cukup besar.

·         Batu empedu

Adanya batu empedu dapat menyebabkan nyeri pada bagian perut kanan atas. Rasa nyeri biasanya muncul ketika pasien mengonsumsi makanan yang kaya lemak.Batu empedu juga dapat menyebabkan mual, muntah, urine berwarna gelap, atau feses berwarna pucat seperti dempul.Munculnya batu empedu disebabkan oleh kolesterol yang mengeras dan membentuk butiran batu dalam kantong empedu. 

Faktor risiko gangguan pencernaan

Beberapa faktor yang dapat mengganggu fungsi pencernaan dan meningkatkan risikonya meliputi:

·         Pola makan yang rendah serat

·         Kurang gerak dan jarang olahraga

·         Bepergian ke tempat asing

·         Perubahan pada rutinitas

·         Banyak mengonsumsi produk olahan susu

·         Kelebihan berat badan atau obesitas

·         Stres

·         Mengonsumsi obat antasida yang mengandung kalsium atau aluminium

·         Menggunakan obat tertentu, seperti antidepresan, suplemen zat besi, dan obat nyeri

 

 

 

 

 

   Cara mencegah gangguan pencernaan

Cara mencegah gangguan pencernaan yang utama adalah :

·         Makan dalam porsi kecil, tapi sering

·         Mengunyah makanan perlahan-lahan hingga benar-benar lunak

·         Menjauhi makanan asam seperti buah jeruk

·         Menghindari makanan dan minuman yang mengandung kafein

·         Mengatasi stres

·         Tidak memakai baju ketat karena bisa menekan perut, sehingga memicu isi perut kembali naik ke kerongkongan

·         Jangan berbaring tepat setelah makan, berikan jarak setidaknya tiga jam setelah makan

·         Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi dari kaki agar makanan tidak kembali naik ke kerongkongan.

 

Komplikasi gangguan pencernaan

Apabila tidak ditangani dengan benar, gangguan pencernaan bisa memicu berbagai komplikasi. Jenis komplikasi yang muncul akan berbeda-beda dan tergantung penyebabnya.Sebagai contoh, diare dapat menyebabkan dehidrasi bila terus dibiarkan. Sementara gastritis bisa memicu perdarahan pada sistem pencernaan dan meningkatkan risiko kanker lambung.

 

 

2.  Perut Buncit

Pengertian

Perut buncit yang terlihat seperti perut gendut dapat diidentifikasi dari bertambahnya ukuran pinggang akibat adanya penumpukan lemak perut. Hal ini dapat terjadi karena berbagai hal, termasuk pola makan yang buruk, kurang olahraga dan kondisi kesehatan tertentu.Jenis lemak yang terkumpul di perut memiliki dua jenis tipe, yakni:

Viseral: lemak aktif yang membalut organ-organ di ruang perut di dalam tubuh.

Subkutan: jenis lemak yang terletak di bawah lapisan kulit, dapat dirasakan ketika saat kita mencubit bagian tubuh.

Lemak viseral biasanya terpisah dari jenis lemak tubuh secara keseluruhan. Seseorang yang kurus atau ideal berat badannya pun bisa memiliki perut buncit jika terdapat lemak viseral yang menumpuk.Untuk mengetahui apakah Anda memiliki lemak berlebih di area perut, lingkarkan pita meteran pengukur badan di bagian pinggang, sejajar melintang dengan pusar. Ukuran pingang di atas 90 cm pada laki-laki dan 80 cm pada perempuan, menandakan adanya lemak perut yang berlebih.Selain memengaruhi penampilan, perut gendut sering dikaitkan dengan berbagai jenis penyakit. Akibat perut buncit, risiko untuk terkena penyakit jantung, diabetes tipe 2 dan beberapa jenis kanker dapat meningkat.

Penyebab perut buncit

Penyebab umum dari perut buncit di antaranya adalah:

1.      Pola makan tidak sehat

Makanan dan minuman tinggi gula seperti kue, permen atau soda dan jus buah kemasan dapat memicu terjadinya:

ü  Menyebabkan penambahan berat badan

ü  memperlambat metabolisme

ü  mengurangi kemampuan tubuh untuk membakar lemak

Diet rendah protein dan tinggi karbohidrat juga dapat memengaruhi berat badan. Sebab, Protein dapat membuat tubuh merasa kenyang lebih lama. Jadi, orang yang kurang asupan proteinnya akan merasa cepat lapar sehingga memicu untuk makan lebih banyak.Selain itu, lemak trans atau lemak jenuh dapat menyebabkan penumpukan lemak di perut. Lemak ini ada di banyak makanan. Umumnya digunakan untuk memperpanjang umur simpan makanan kemasan seperti pada makanan cepat saji dan makanan yang dipanggang, misalnya roti-rotian atau kerupuk.Pola makan yang minim serat juga dapat mengacaukan berat badan. Serat sangat penting mengontrol berat badan. Sebab, beberapa jenis serat dapat membantu tubuh merasa kenyang, menstabilkan hormon lapar dan mengurangi penyerapan kalori dari makanan.

2.      Kurang aktif bergerak

Salah satu penyebab paling umum dari perut bergelambir adalah mengonsumsi lebih banyak kalori daripada yang dibutuhkan tubuh. Hal ini sering terjadi pada orang yang kurang berolahraga.Gaya hidup yang tidak aktif menyulitkan seseorang untuk membuang lemak berlebih, terutama di sekitar perut.

3.      Penuaan

Seiring bertambahnya usia, metabolisme tubuh secara alami akan melambat. Hal ini kemudian menyebabkan tubuh membakar kalori lebih sedikit, dan total lemak tubuh secara bertahap akan meningkat. Wanita cenderung mendapatkan porsi lemak yang lebih tinggi daripada pria saat mereka menua.Selain itu, massa otot tubuh juga akan sedikit berkurang saat bertambahnya usia. Kehilangan massa otot akan menurunkan laju penggunaan kalori, yang membuat tubuh lebih sulit untuk mempertahankan berat badan yang sehat.

4.      Konsumsi alkohol berlebihan

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa alkohol bisa menekan pembakaran lemak dan kalori yang terkandung dalam alkohol sebagian akan disimpan sebagai lemak perut. Oleh karena itu, perut gendut akibat terlalu banyak alkohol sering juga disebut beer belly.Satu studi menemukan fakta bahwa pria yang mengonsumsi lebih dari tiga minuman beralkohol per hari, 80% lebih mungkin memiliki perut berlemak daripada pria yang mengonsumsi lebih sedikit alkohol.

 

5.   Makan sebelum tidur

Apakah Anda selalu merasa lapar sebelum tidur atau tidak bisa tidur dalam keadaan lapar? Sebenarnya tubuh memang secara alami membakar sebagian timbunan lemak saat tidur, namun jika Anda tidur dalam keadaan perut penuh maka tubuh tidak akan membakar secara efisien. Hal tersebut, tentu akan semakin menambah timbunan lemak di perut.

Tidak hanya makan sebelum tidur saja, bahkan berbaring ketika perut dalam keadaan kenyang dapat menyebabkan risiko terkena refluks asam lambung dan gangguan pencernaan. Hal itu terjadi karena perubahan gravitasi, sehingga tubuh tidak mampu menarik makanan di perut menuju ke bawah.

Oleh karena itu, jangan jadikan makan sebelum tidur sebuah kebiasaan. Setidaknya dua sampai tiga jam sebelum tidur. Hindarilah juga langsung berbaring usai makan.

 

6.      Faktor genetic

Faktor keturunan juga bisa menjadi penyebab perut buncit. Ada orang yang secara genetik cenderung mudah gendut di bagian perutnya daripada bagian lain.Para Ilmuwan berpikir gen dapat mempengaruhi perilaku, metabolisme, dan risiko yang lebih tinggi untuk membuat seseorang mengidap kelebihan berat badan atau obesitas.

7.      Kesehatan mental

Stres akibat kehidupan sehari-hari juga bisa menjadi faktor kenaikan berat badan. Suatu penelitian mengungkapkan, kadar kortisol (hormon stres) yang yang menumpuk dalam jangka waktu lama di tubuh sering dikaitkan sebagai penyebab perut buncit.Beberapa kondisi kesehatan mental juga dapat mengakibatkan penambahan berat badan. Misalnya, salah satu riset yang menyatakan bahwa tingkat obesitas sebesar 60% terjadi pada orang dengan gangguan bipolar dan skizofrenia.

8.      Bakteri usus yang tidak seimbang

Bakteri di usus yang dikenal sebagai flora usus atau mikrobioma berfungsi untuk menjaga kesehatan sistem kekebalan dan melindungi tubuh dari penyakit. Ketidakseimbangan pada jumlah mikrobioma tersebut dapat memicu peningkatan berat badan, termasuk di area perut.Para peneliti menyatakan bahwa orang gemuk cenderung memiliki lebih banyak bakteri Firmicutes daripada orang dengan berat badan normal. Pasalnya, jenis bakteri ini dapat meningkatkan jumlah kalori yang diserap dari makanan.

 

 

9.      Kurangnya waktu tidur

Sebuah studi yang digubah Journal of Clinical Sleep Medicinemengaitkan perut berlemak dengan durasi tidur yang singkat. Kurangnya waktu tidur ternyata dapat menyebabkan kelebihan lemak perut yang memicu penambahan berat badan.Kualitas buruk dan durasi tidur yang singkat juga berpotensi menyebabkan perilaku makan yang tidak sehat, seperti makan karena dorongan emosional.

10.  Merokok

Merokok mungkin bukan merupakan penyebab langsung dari terbentuknya lemak perut, tetapi merokok adalah faktor risiko pada obesitas.Sebuah studi menunjukkan bahwa, meskipun obesitas dapat terjadi pada siapa saja, namun, lemak perut dan viseral pada perokok memiliki kadar yang lebih tinggi dibandingkan pada orang yang tidak merokok.

 

Cara mengecilkan perut buncit

ü  Cara mengecilkan perut buncit dengan berolahraga yang teratur

ü  Mengonsumsi madu dan Jahe

ü  Memperbanyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan

ü  Membatasi makanan dengan kadar gula yang tinggi

ü  Tidak makan menjelang tidur

 

 

 

3.      Cidera Lahir

Pengertian

Cidera lahir adalah kelainan pada bayi baru lahir yang terjadi karena trauma lahir akibat tindakan, cara persalinan atau gangguan persalinan yang di akibatkan kelainan fisiologik persalinan. Misalnya persalinan dengan tindakan ekstraksi vakum, forcep, kelahiran dengan presentasi bokong, presentasi muka dan kelahiran letak lintang.

Apa yang menyebabkan cedera brachial plexus?

Cedera brachial plexus cenderung terjadi ketika bahu dipaksa turun, sementara leher terentang ke atas dan menjauh dari bahu yang cedera. Cedera ini dapat terjadi dengan beberapa cara, termasuk:

 

 

1.      Olahraga.

Umumnya, para pemain sepak bola rentan mengalami luka bakar atau sengatan, yang dapat terjadi ketika saraf brachial plexus meregang melebihi batasnya saat bertabrakan dengan pemain yang lain.

Proses melahirkan yang sulit.

Inilah mengapa bayi yang baru lahir dapat mengalami cedera brachial plexus. Ini berkaitan dengan berat badan lahir tinggi, ukuran bokong, atau persalinan yang terlalu lama. Jika bahu bayi terjepit saat proses persalinan (biasanya di jalan lahir), ada peningkatan risiko cedera brachial plexus.

Trauma.

Beberapa jenis trauma, seperti kecelakaan kendaraan bermotor, sepeda motor, jatuh, atau luka tembak, dapat mengakibatkan cedera brachial plexus.

Tumor dan perawatan kanker.

Tumor bisa saja tumbuh di dalam atau di sepanjang brachial plexus, menekan, atau menyebar ke brachial plexus. Hal ini dapat meningkatkan risiko terkena cedera. Selain itu, perawatan radiasi ke area dada juga dapat menyebabkan kerusakan pada brachial plexus.

Jenis cedera brachial plexus

Jenis cedera brachial plexus dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahannya. Sebagian orang mungkin fungsi motorik dan sensoriknya dapat kembali normal, tetapi bisa juga berakhir dengan cacat seumur hidup, karena tidak dapat menggerakkan atau merasakan bagian tangannya. Adapun jenis cedera brachial plexus berdasarkan seberapa parah kerusakan saraf, yaitu:

Avulsi, akar saraf benar-benar terpisah dari sumsum tulang belakang. Ini adalah jenis  cedera brachial plexus yang paling parah.

Neuropraksia, saraf mengalami peregangan, umumnya kondisi ini tidak parah.

Rupture, bagian saraf pecah, di mana saraf robek menjadi dua bagian.

Neuroma, terbentuknya jaringan parut pada saraf yang meregang saat memperbaiki dirinya sendiri.

Neuritis brakialis, yaitu sindrom langka yang penyebabnya tidak dapat diidentifikasi. Kondisi ini disebut juga dengan sindrom Parsonage-Turner.

Sementara itu, cedera brachial plexus saat lahir disebut juga dengan kelumpuhan Erb (Erb’s palsy) memengaruhi 1 – 2 bayi dalam setiap 1.000 kelahiran.

 

 

Tanda - tanda dan gejala cedera ini terjadi?

Tanda dan gejala cedera brachial plexus bergantung dengan tingkat keparahan tingkat keparahan dan lokasi cedera terjadi. Biasanya, hanya satu lengan yang terpengaruh.

Cedera ringan.

Cedera brachial plexus ringan sering terjadi selama olahraga kontak, seperti sepak bola atau gulat, saat saraf brachial plexus meregang atau tertekan. Cedera ini yang disebut dengan penyengat atau pembakar dengan gejala:

ü  Perasaan, seperti sengatan listrik atau sensasi terbakar cepat ke lengan.

ü  Mati rasa dan kelemahan di lengan.

Gejala tersebut dapat berlangsung hanya beberapa detik atau menit, tetapi pada beberapa orang, gejala bisa berlangsung selama berhari-hari, bahkan lebih.

Cedera parah.

Cedera saraf dapat lebih parah jika melukai, bahkan merobek atau merusak akar saraf brachial plexus dari sumsum tulang belakang. Tanda dan gejala cedera yang parah ini, meliputi:

ü  Lemah atau tidak mampu menggunakan otot tertentu di tangan, lengan, atau bahu.

ü  Kurangnya fungsi gerakan dan perasaan di lengan, bahu, dan tangan.

ü  Sakit parah.

Komplikasi dari cedera brachial plexus?

Dalam beberapa kasus cedera brachial plexus dapat menyebabkan komplikasi yang bersifat sementara atau permanen, seperti:

ü  Sendi yang kaku.

ü  Rasa sakit.

ü  Mati rasa di tangan, lengan, dan bahu.

ü  Atrofi otot.

 

Upaya untuk mencegah cedera ini terjadi?

Meskipun cedera brachial plexus sering kali tidak dapat dicegah, tetapi Anda dapat mengambil langkah untuk mengurangi risiko komplikasi setelah cedera terjadi, yaitu:

ü  Melakukan latihan rentang gerak harian dan terapi fisik untuk membantu mencegah kekakuan sendi.

ü  Jika Anda mengalami mati rasa, hindari luka bakar atau luka lainnya, karena Anda mungkin tidak merasakannya.

ü  Pastikan Anda mengemudi dengan aman.

Pertahankan gerakan tubuh yang baik selama berolahraga.

Cedera brachial plexus dapat menyebabkan lumpuh permanen, meskipun mungkin Anda telah menjalani operasi. Oleh sebab itu, walaupun hanya terlihat seperti cedera ringan, tetapi tidak menutup kemungkinan Anda memerlukan perawatan medis. 

 

Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL

     Deteksi dini Pada Kasus Kejang Tetanus Neonatorum Pada BBL 1. Pengertian      Kejang pada bayi baru lahir adalah kejang yang terjadi ...